Tingkatkan Penjualan, Electronic City Bangun 30 Outlet Baru - Investasikan Dana Rp 150 Miliar

NERACA

Jakarta – PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII) akan membangun 30 outlet setelah mendapatkan dana segar dari hasil penjualan perdana sahamnya (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp 1,35 triliun hasil dari melepas sahamnya sebanyak 333,3 juta lembar saham atau 25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Direktur Komersil & Investor Relation PT Electronic City Indonesia Tbk, Ferry Wiraatmadja mengatakan, perseroan telah membangun 18 outlet baru dan hingga akhir Juli akan selesai 3 outlet lagi. Sehingga akan tercapai 21 outlet mendekati target perseroan untuk mencapai pembangunan 30 outlet di tahun ini,”Untuk sisanya 9 outlet lagi masih dalam tahap perijinan. Target 30 outlet di tahun ini merupakan target minimal yang telah kami rencanakan di tahun ini. Kami optimis target ini akan tercapai hingga akhir tahun ini,”ujarnya di Jakarta, Rabu (3/7).

Dia menambahkan, nantinya 9 outlet lagi akan dibangun di sekitar jabodetabek, Jawa dan 5 kota lainnya. Selain itu, belanja modal (capital expenditure/capex) untuk 30 outlet tersebut berada dikisaran Rp 100-150 miliar dengan keseluruhan dana capex berasal dari hasil IPO perseroan.

Perseroan berharap hingga akhir tahun memiliki 53 outlet yang dapat menaikan pendapatan perseroan mencapai 50%. Pada 2012 lalu, perseroan mencatatkan penjualan mencapai Rp 1,43 triliun dengan perolehan laba bersih Rp 125 miliar atau setara margin pendapatan bersih sebesar 8,7%.

Kata Ferry, dengan tambahan 30 toko hingga akhir tahun ini, perseroan optimis pertumbuhan penjualan naik di atas 35%. Namun jika dilihat berdasarkan mathematic growth, penjualan perseroan bisa mencapai 50%. Asal tahu saja, harga untuk membangun 1 unit outlet Electronic City berada dikisaran Rp 2,5–4 juta per meter persegi.

Sedangkan Electronic City memiliki 2 tipe outlet yaitu Outlet Electronic City yang berwarna biru memiliki luas dikisaran 600 hingga 2500 meter persegi, untuk Electronic City outlet yang berwarna merah, luasnya sekitar 350 hingga 700 meter persegi.

Selain untuk membangun target outlet, ECII juga menggunakan dana hasil IPO untuk membayar hutang sebanyak 10%. Diketahui hutang perseroan kepada Bank Victoria sebesar Rp 15 miliar dan hutang pada Bank CIMB sebesar Rp 10 miliar. Sisanya sekitar 85% akan digunakan untuk membangun outlet barudan beberapa akuisisi lahan, sisanya akan disimpan sebagai modal kerja.

Saham Perdana

Debut pertama di pasar modal, saham ECII masih berada di angka 4.050 per lembar dan sahamnya lalu turun menjadi 4.000 per lembar saham, hingga kemudian sempat naik lagi ke level 4.050 dan mencapai nilai tertinggi di posisi 4.100 per lembar saham.

Meski sempat mengalami penurunan pada harga sahamnya,Iman Hilmansyah, Direktur PT Danareksa Sekuritas yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek menyatakan, saham ECII akan tetap menarik karena secara kinerja perseroan tersebut cukup baik dan pada saat IPO sebelumnya sempat ada kelebihan permintaan saham (oversubscribed).“Untuk komposisi investor yang memiliki saham ECII, didominasi oleh investor asing dengan persentase 70% yang kebanyakan dari institusional”, ungkap dia.

Selain itu dia juga menyatakan, keadaan ekonomi Indonesia yang kurang baik saat ini, di tengah dampak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif dasar listrik (TDL) tidak akan terlalu berdampak terhadap ECII. Dia yakin saham yang ditawarkan masih banyak diminati oleh investor baik asing maupun domestik.“Saya optimis, karena dalam bisnis ritel kenaikan TDL dan BBM akan terasa 3 bulan setelah kenaikan tarif-tarif tersebut. Hingga saat ini belum terlalu kami rasakan dampaknya namun perseroan akan terus melakukan efisiensi”, ungkap Ferry.

Selain itu, perseroan akan melaksanakan program Employee Stock Alocation (ESA) dengan mengalokasikan saham sebanyak-banyaknya 2% dari jumlah penerbitan saham yang ditawarkan atau maksimal 6,7 juta saham. Perseroan juga akan menerbitkan opsi saham untuk MSOP maksimal 1% atau 13,3 juta saham.

Momentum Ramadhan

Perseroan berharap penjualan di bulan ramadhan dapat berkontribusi terhadap pendapatan sebanyak 12% atau naik seperti tahun sebelumnya sekitar 20-22%. berdasarkan keterangan Ferry, belanja konsumen meningkat sejak minggu pertama dan terus meningkat hingga minggu terakhir.“Biasanya mulai minggu kedua perusahaan memberikan tunjakan hari raya, sehingga mendekati akhir ramadhan makin banyak konsumen kami. Produk yang paling banyak dicari adalah audio-video dan home appliance yang berkontribusi sekitar 80% kepada pendapatan kami,”kata Ferry.

Dia juga memprediksikan tiga tahun ke depan, perseroan dapat tumbuh 10% karena berdasarkan data Euromonitor Survey, permintaan barang elektronik dalam 3 tahun mendatang berkisar pada angka tersebut. Namun, dalam 3 tahun terakhir rata-rata pertumbuhan pendapatan perseroang sekitar 32%. berdasarkan data tersebut, didapat bahwa ECII masih menjadi ritel elektronik utama dengan penguasaan pasar 41,5% dengan 36 toko yang dimiliki hingga akhir Mei 2013. (nurul)

Related posts