Omzet Bisnis Ritel Hanya Akan Naik Tipis - Sejumlah Masalah Membelit

NERACA

Jakarta -Pengusaha ritel harus sedikit menelan pil pahit. Sebab dengan berbagai kondisi yang lalu lalang terjadi, mulai dari kenaikan upah, tarif listrik, dan baru-baru ini berlanjut pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) akan mempengaruhi omzet pengusaha ritel di tahun ini. Omzet ritel diprediksi hanya naik 5% pada tahun ini menjadi Rp 141,75 triliun dari perolehan 2012 yang tercatat sebesar Rp 135 triliun.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Satria Hamid mengungkapkan awalnya target omzet tahun ini diperkirakan naik 7% sampai 10%. \"Tapi pesimisnya dengan kondisi sekarang angka sekitar 5% sudah baik, tapi kami masih berharap bisa tumbuh 7% sampai 10%,\" ujar Satria di Jakarta, Kamis (27/6).

Dia mengaku usaha ritel memang tidak akan terdampak langsung dari berbagai penyesuaian upah, listrik dan BBM tersebut. Sebab mereka akan kembali menyesuaikan peningkatan biaya operasional ke produk yang dibeli konsumen.

Masyarakat selaku konsumen ini yang dikhawatirkan mengalami penurunan daya beli. Penurunan daya beli yang membuat tekanan pembelian ke usaha ritel. Kondisi ini berdampak meski diprediksi tetap ada kenaikan omzet tapi tidak sebesar dari sebelumnya. Pada 2012, omzet industri ritel tumbuh 12,5% menjadi Rp 135 triliun.

Khusus berkaitan dengan kenaikan BBM, pengusaha ritel diprediksi akan melakukan penyesuaian harga jual berkisar 10% sampai 15%.Bahkan, sebelum BBM naik telah terjadi kenaikan harga jual sebesar 5%. Penyesuaian harga dilakukan sesaat setelah BBM naik.

\"Dengan adanya BBM naik mau tidak mau harus koreksi harga jual karena pasokan ritel tergantung suplai dan jika mereka naik maka kami naik. Tapi kami tetap optimis karena pemerintah pasti sudah kalkulasi ini, seperti kenaikan BBM,\" ungkapnya.

Omzet Penjualan

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta memperkirakan omzet penjualan ritel pada Juni dan Juli tahun ini meningkat sekitar 25-30% dibandingkan dengan perolehan pada periode normal yang ada pada kisaran Rp12,5 triliun.

Tutum mengatakan peningkatan tersebut terutama ditopang dari penjualan perlengkapan sekolah termasuk fashion dan barang-barang konsumsi, terutama makanan dan minuman. Hal itu disebabkan pada Juni merupakan siklus pergantian tahun ajaran baru, sedangkan pada Juli umat muslim telah memasuki bulan Ramadhan, sehingga permintaan akan barang konsumsi dan produk fesyen sudah mulai terlihat.

Di samping itu, pada awal Juni hingga pertengahan Juli ini Jakarta menyelenggarakan Festival Jakarta Great Sale. Namun, menurutnya tidak seluruh penjualan di Jakarta Great Sale tersebut masuk ke dalam omset pengusaha ritel. “Bulan Juni-Juli anak sekolah naik kelas sudah pasti ada peningkatan penjualan. Di tambah lagi pada Juli nanti sudah masuk bulan Ramadhan dan adanya Jakarta Great Sale,” ucapnya.

Sebetulnya, sambungnya, peningkatan pada Juni dan Juli hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tetapi dengan telah masuknya Ramadhan dan Festival Jakarta Great Sale peningkatannya sedikit lebih tinggi. Namun, dia masih belum dapat menyebutkan presentase peningkatannya.“Bisa ada peningkatan dari siklus tahun-tahun sebelumnya, tapi belum bisa disebutkan karena Ramadhan hanya di awal-awal minggu Juli.

Sebelumnya total omzet penjualan ritel modern mencapai Rp 135 triliun pada tahun 2012 dan diperkirakan pada tahun 2013 mencapai Rp 150 triliun (65% makanan dan 35% non makanan). Dari jumlah belanja makanan, hypermarket mengambil porsi 35%, minimarket 35% dan supermarket 30%. Sementara dari segi penyerapan tenaga kerja, sebanyak 560 anggota ritel modern yang bernaung dalam APRINDO menyerap tenaga kerja sebanyak 1,5 juta orang.

Produk Lokal

Untuk mengetahui secara langsung implementasi Peraturan Menteri Perdagangan No. 53 Tahun 2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengadakan dialog dengan sejumlah perwakilan.

Para perwakilan tersebut merupakan anggota dari Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Asosiasi Pemasok dan anggota Forum Komunikasi Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

“Dialog ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana kepedulian asosiasi-asosiasi tersebut terhadap para pemasok produk Indonesia, kepedulian terhadap perlindungan konsumen, serta pemahaman terhadap HAKI. Pemilihan Summarecon Mal Serpong ini kami lakukan dengan pertimbangan bahwa pusat perbelanjaan tersebut menjual produk dan merek lokal, serta produk UMKM di atas 75%,” jelas Gita Wirjawan.

Related posts