Selamat Datang, Pekerja Asing! - SDM LOKAL BAKAL TERGILAS DI 2015

Jakarta – Pernyataan “Selamat Datang, Pekerja Asing!” bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Lihat saja, sejak era reformasi bergulir pada 1998 hingga sekarang, sudah tak terhitung jumlah perusahaan asing yang menguasai sektor-sektor bisnis di Indonesia, tak terkecuali di sektor jasa keuangan dan perbankan. Kondisi tersebut sepertinya merupakan “karpet merah” bagi langkah pekerja dan profesional asing untuk mengisi posisi-posisi strategis di perusahaan-perusahaan tersebut. Artinya, tenaga kerja lokal bakal kian terpinggirkan dan hanya menempati pos-pos berlevel “pion” dalam barisan bidak catur.

NERACA

Bahkan, banyak kalangan menilai bahwa tenaga kerja lokal bakal tergilas saat Indonesia memasuki gerbang Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Dalam komunitas itu semua pintu dibuka selebar-lebarnya bagi derasnya serbuan asing ke negeri ini, termasuk liberalisasi sumber daya manusia.

Indonesia pantas merinding dalam peta persaingan tersebut. Tengok saja, laporan United Nations Development Program (UNDP) menyebutkan, nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2012 adalah sebesar 0,629. Nilai tersebut memposisikan Indonesia berada pada peringkat 121 dari 187 negara di dunia. Posisi Indonesia masih berada di bawah rata-rata dunia yang nilainya 0,694.

Peringkat IPM Indonesia masih jauh di bawah Singapura (18), Malaysia (64), Brunei Darussalam (30), Thailand (103), dan Filipina (114). Indonesia hanya mampu “menang” atas Vietnam, Kamboja, Laos, dan pendatang baru Timor Leste.

Pengamat ekonomi Yanuar Rizki tak menampik fakta seperti itu. Bahkan, dia membenarkan bahwa tenaga kerja Indonesia akan semakin tergilas dengan adanya Asean Economic Community (AEC) 2015. Pasalnya, pemerintah terlambat mempersiapkannya dari sisi sumber daya manusia. \"Saat ini, pemerintah sedang sibuk mengurusi kesiapan industri menghadapi AEC. Memang, tidak salah kalau pemerintah mempersiapkan itu, tetapi SDM itu menjadi lebih penting karena menyangkut banyak orang,\" ujarnya kepada Neraca, Selasa (25/6).

Menurut Yanuar, ada beberapa perusahaan telah dikuasai asing mulai dari tingkat manajer sampai ke atas. \"Saat ini pekerja asing sudah cukup banyak jumlahnya,\" ujarnya. Kalau hal ini terus dibiarkan, lanjut dia, maka bisa jadi nantinya pasca penerapan AEC, pekerja lokal hanya menempati posisi level rendah atau hanya jadi penonton.

Selain itu, Yanuar menyayangkan alokasi APBN yang besar untuk sektor pendidikan namun hasilnya di luar ekspektasi. \"Harusnya alokasi yang besar bisa menjadi stimulus agar hasil kegaiatan belajarnya meningkat sehingga menciptakan SDM yang unggul. Saat ini saja, banyak orang Indonesia yang belum bisa Bahasa Inggris padahal bahasa itu digunakan hampir seluruh penduduk dunia,\" kata dia.

Selain kemampuan berbahasa, ketrampilan dari pekerja juga perlu ditingkatkan. Untuk itu, Yanuar meminta kepada pemerintah untuk mempersiapkan dari semua sektor tidak terkecuali peningkatan SDM. Selain menyiapkan dari sisi hulunya yaitu membenahi sistem pendidikan, sementara hilirnya juga harus dikendalikan. Contohnya, dengan sertifikasi profesi. \"Kalau membatasi sudah tidak mungkin akan tetapi harus ada upaya untuk menyaringnya dengan cara sertifikasi profesi,\" tukas Yanuar.

Sementara bagi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, tenaga kerja Indonesia hanya akan banyak bermain di industri padat karya seperti industri makanan-minuman dan tekstil. Pekerjaan-pekerjaan tersebut adalah yang upahnya kecil, sehingga asing belum berminat.

“Paling tidak, belum berminat dalam lima tahun mendatang, karena berhubungan dengan tingkat upah Indonesia yang hanya lebih baik dari Vietnam. Kalau pun ada buruh yang masuk, mungkin dari Kamboja dan Vietnam. Namun, penduduk di kedua negara tersebut secara historis bukanlah penduduk yang gemar bermigrasi. Sehingga kemungkinan buruh pabrik padat karya diisi asing masih kecil. Masih akan banyak orang Indonesia,” kata Iqbal kepada Neraca, Selasa.

Sementara tenaga-tenaga asing, kata Iqbal, akan banyak masuk di sektor-sektor padat modal, seperti industri otomotif dan elektronik. “Mereka akan masuk di level yang upahnya sama dengan di negara mereka. Misalnya, di level supervisor ke atas di industri padat modal,” kata Iqbal.

Menurut Iqbal, nantinya tenaga kerja pendatang akan memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada tenaga lokal. Hal ini dikarenakan secara psikologis, pendatang akan jauh lebih tekun dan bekerja keras dibanding pribumi. Sementara di sisi pengusaha, tentu akan memilih tenaga kerja yang produktivitasnya lebih tinggi.

Anggota Komisi IX DPR RI Surya Chandra Suropaty pun merasa prihatin atas kondisi memiriskan tersebut. Penyebabnya, dalam menuju percepatan pembanguan, pemerintah tidak berorientasi kepada manusia atau tingkat kependudukan. Pemerintah hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan mengindahkan pertumbuhan kependudukan yang berkualitas. “Hal ini yang menyebabkan Indonesia dalam peringkat IPM selalu rendah sehingga kalah bersaing dengan negara-negara lain, bahkan antara negara ASEAN,” ujarnya, kemarin.

Melihat peringkat IPM Indonesia yang rendah, Surya yakin akan membuat tenaga asing akan menguasai lahan pekerjaan di wilayah Indonesia. “Tenaga kerja Indonesia akan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing dikarenakan tidak berkualitas dan pada akhirnya kalah bersaing,” imbuh dia.

Bahkan, dia menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia tidak akan bisa mencegah gempuran tenaga asing yang akan masuk ke Indonesia karena dalam aturan AEC membebaskan tenaga kerja ASEAN manapun untuk bekerja di wilayah ini. “Jangan sampai nantinya tenaga kerja asing khususnya tenaga kerja negara ASEAN menguasai sektor-sektor penting atau strategis dalam dunia ketenagakerjaan dan pembangunan, maka hal ini akan bisa membahayakan pembangunan ekonomi Indonesia,” ungkap Surya.

Tidak Siap

Yang jelas, di mata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Prof Dr Ahmad Erani Yustika, saat ini sektor ketenagakerjaan Indonesia tidak siap menghadapi AEC 2015. “Hampir sebagian besar tenaga kerja yang kita punya hanya tenaga kerja kasar saja. Para pekerja profesional asing dari Singapura, Malaysia, Filipina, dan Vietnam akan menggilas pekerja Indonesia karena memang mereka belum mampu bersaing dengan para pekerja asing tersebut,\" ujarnya, Selasa.

Sebenarnya, menurut Erani, Indonesia salah satu negara yang produktif jika dilihat dari faktor usia. Sebagian besar penduduk atau sekitar 70%-nya merupakan usia produktif. “Jika kita lihat pada sisi ketenagakerjaan, kita memiliki 110 juta tenaga kerja. Akan tetapi sampai seberapa kompeten tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan pekerja asing di 2015 nanti. Ini merupakan tanggungjawab pemerintah untuk segera menghambat liberalisasi tenaga kerja”, tegas Erani.

Dia memaparkan, sebaiknya pemerintah harus segera melakukan peningkatan kualitas keterampilan angkatan kerja agar bisa menghasilkan pekerja yang bisa memenuhi standar. “Ini ditujukan agar tenaga kerja Indonesia mempunyai daya saing yang kuat saat menghadapi AEC nanti. Banyaknya tenaga kerja usia muda di Indonesia dibandingkan negara-negara lain merupakan modal yang kuat apabila dibina dengan baik,\" papar Erani. bari/iwan/mohar/rin

Related posts