Indonesia Juga Berpotensi Ekspor Daging

NERACA

Jakarta - Meski dalam beberapa tahun terakhir Indonesia masih mengandalkan daging impor dari Australia dan Selandia Baru untuk memenuhi permintaan, akan tetapi Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi meyakini bahwa Indonesia mampu menjadi eksportir daging sapi dengan status halal. Menurut Bayu, upaya ini bisa dilakukan dengan mendayagunakan masyarakat di wilayah Aceh.

\"Sebenarnya kita memiliki potensi untuk melakukan ekspor daging sapi, khususnya dengan berlabel halal. Ini bisa dilakukan dengan mendayagunakan masyarakat kita yang berada di Serambi Mekkah,\" kata Bayu di Jakarta, Selasa (25/6).

Bayu mengatakan, setiap tahunnya, kebutuhan daging sapi halal di Mekkah mencapai 4 juta ton. Ini adalah peluang sekaligus potensi pasar yang cukup menjanjikan apabila digali dan dikembangkan. \"Selain itu, untuk produk olahan juga bisa diekspor ke Bangladesh, India, ataupun Myanmar. Ini merupakan peluang yang sangat besar,\" ujar Bayu.

Meskipun peluang pasar ekspor untuk daging sapi berstatus halal sangat besar, pada kenyataannya, beberapa waktu lalu harga daging sapi di pasar tradisional melonjak hingga mencapai Rp 95.000 per kilo gram dan pemerintah terus berupaya untuk menambah pasokan agar harga menjadi stabil di kisaran Rp 75.000 per kilogram.

Pemerintah telah menugaskan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk ikut berperan dalam menjaga stabilitas harga daging sapi menjelang datangnya bulan Ramadan. Salah satu langkahnya dengan pemberian kuota importasi daging sebesar 3.000 ton. Kuota impor daging sapi untuk 2013 sebanyak 80.000 ton yang terbagi dari 32.000 ton daging sapi beku, dan 267.000 ekor sapi bakalan atau setara dengan 48.000 ton daging sapi.

Sementara itu, Indonesia masih ketergantungan terhadap impor daging sapi. Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun lalu Indonesia mengimpor daging mencapai 40.338 ton atau senila dengan US$156,05 juta. Berikut ini adalah lima negara yang rajin menjual dagingnya ke Indonesia.

Australia dengan nilai impor daging mencapai US$ 113,8 juta atau setara dengan 29,4 ribu ton. Selandia Baru dengan nilai impor daging mencapai US$ 35,5 juta atau setara dengan 9,61 ribu ton. Amerika Serikat dengan nilai impor daging mencapai US$ 6,6 juta atau mencapai 1,3 ribu ton. Kyrgyzstan dengan nilai impor daging mencapai US$ 9.671 atau 1,075 ton. Dan Singapura dengan nilai impor mencapai US$ 1.553 atau 227 kg.

Tidak hanya mengekspor daging sapi, namun pemerintah juga berambisi mengekspor unggas khususnya ayam. \"Saat ini produksi ayam nasional sedang meningkan dan bisa berpotensi untuk ekspor,\" ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro.

Ia menyatakan bahwa Indonesia pernah menjadi eksportir ayam sebelum tahun 1980-an. Namun, pada rentang itu Indonesia diserang wabah flu burung (avian influenza/AI). Akibatnya, sejak tahun 1980, negara-negara lain menutup pintu impor ayam dari Indonesia karena takut tertular wabah AI. \"Karena itulah kami sedang berupaya keras meyakinkan masyarakat internasional bahwa tidak semua wilayah di Indonesia terancam virus flu burung,\" kata Syukur.

Terbebas Virus

Menurut Syukur, pemerintah akan meyakinkan negara lain bahwa beberapa wilayah di Indonesia benar-benar terbebas dari virus AI, seperti Provinsi Maluku Utara dan Gorontalo. Pemerintah juga tengah mendorong beberapa wilayah lain bisa terbebas dari flu burung seperti di Kalimantan Barat.

Pemerintah, lanjutnya, sangat ingin mendorong ekspor ayam dalam bentuk daging ayam beku. Pasar ekspor ayam beku yang diincar pemerintah diantaranya Singapura, Jepang, Hongkong, Brunei Darussalam, dan negara-negara Timur Tengah. Sebagai tahap awal, pemerintah akan menjadikan Kepulauan Riau sebagai wilayah yang terbebas dari flu burung.

Alasan lain dipilih Kepulauan Riau ini, kata Syukur, Singapura telah menginvestasikan alat laboratorium unggas sejak tiga tahun terakhir. \"Ini bisa menjadi cara untuk meyakinkan bahwa Kepulauan Riau bisa menjadi pintu gerbang ekspor unggas ke Singapura,\" katanya.

Syukur menambahkan, pembukaan pasar ekspor ini akan memiliki efek berganda. Selain menambah devisa negara, ekspor ayam juga bisa menstabilkan harga di tingkat peternak karena terjadi keseimbangan pasokan dan kebutuhan. \"Salah satu upaya meyakinkan negara lain adalah kami membiarkan mereka melakukan audit sendiri di Indonesia, lalu kami juga terus lakukan surveillance dan biosecurity,\" ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi daging nasional pada 2012 sebesar 2,7 juta ton. Jumlah ini terdiri dari daging unggas (ayam dan itik) 1.818.000 ton (67%), daging sapi 505.000 ton (18%), daging babi 235.000 ton (8%), daging kambing dan domba 115.500 ton (4%), daging kerbau 35.000 ton (1%), dan daging lainnya 54.000 ton (2%).

Related posts