Stok Bahan Kebutuhan Pokok Aman - Pasca Kenaikan Harga BBM dan Jelang Puasa - Lebaran

NERACA

Jakarta - Pasokan bahan kebutuhan pokok utama masyarakat menjelang bulan puasa Ramadhan dan Lebaran tahun ini dalam kondisi tersedia, baik di pasar tradisional dan juga pasar modern. Stok sejumlah bahan kebutuhan pokok yang ada saat ini, seperti beras, gula, minyak goreng, terigu, jagung, kedelai, daging ayam dan lain-lain jumlahnya melebihi kebutuhan yang diperlukan.

“Untuk beras, kondisinya sangat aman,” kata Ketua DPD Perpadi (Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia ) DKI Jakarta Nellys Soekidi. Nellys yang juga menjadi Koordinator Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang akhir pekan lalu, menyatakan, pasokan beras dari sejumlah sentra produksi terus mengalir ke Pasar Induk Beras Cipinang. Akibatnya stok beras yang ada di pasar cukup banyak dan melebihi kebutuhan setiap harinya.

“Biasanya pasokan beras ke pasar Cipinang setiap hari mencapai 3.000 ton. Angka ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap hari yang mencapai sekitar 2.400 hingga 2.600 ton,” ujarnya. Banyaknya daerah yang mengalami panen beras saat ini, ungkap Nellys, menjadi pemicu meningkatnya stok dan pasokan beras di pasar beras yang menjadi barometer harga beras di tingkat nasional itu.

“Kenaikan harga BBM memang akan berpengaruh terhadap harga beras, namun pengaruhnya tidak terlalu signifikan,” katanya. Dia memperkirakan akibat kenaikan biaya lainnya, harga beras bisa saja mengalami kenaikan sekitar Rp200,- hingga Rp300,- per kilogramnya. “Namun bagi kalangan pedagang beras, kenaikan sebesar itu adalah hal yang biasa dalam kegiatan transaksi di pasar Cipinang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) Adiwisoko Kasman mengatakan stok minyak goreng di dalam negeri sangat cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di tanah air dalam menghadapi bulan pusa Ramadhan maupun Lebaran. “Pokoknya minyak goreng tidak akan kekurangan, seluruh kebutuhan pasti akan dapat terpenuhi.”

Namun berkaitan dengan kenaikan harga BBM bersubsidi, Adiwisoko mengaku belum bisa menyebutkan berapa besar kenaikannya. “Minggu depan kita baru akan hitung besaran kenaikannya. Mudah-mudahan harga tidak bergerak banyak. Kalaupun ada kenaikan tapi mungkin tidak banyak.”

Tambah Pasokan

Secara terpisah, Ketua Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang juga menyatakan, guna menghadapi puasa dan Lebaran tahun ini, sudah ada tambahan pasokan 20% dari kebutuhan dibanding pada hari-hari biasa.

“Dengan kondisi stok gandum antara 1 juta s/d 1,5 juta ton yang diolah menjadi terigu, khusus untuk mengantisipasi tingginya permintaan selama hari-hari besar ini, kami sudah menambah persediaan sekitar 20%, tuturnya.

Demikian juga dikaitkan dengan kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah pekan ini, pengusaha terigu menjamin tidak terjadi kenaikan harga jual terigu. Sebab dengan kenaikan harga BBM rata-rata 11%, hanya menyebabkan kenaikan biaya angkut yang minim. Sebab berdasarkan perhitungan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM-UI), seperti dituturkan Guru Besar FE UI Ine Ruki, besarnya biaya transportasi dalam komponen produksi berkisar rata-rata antara 5% hingga 11%.

Khusus untuk terigu, besarnya biaya transportasi Rp300,-/zak. Dengan demikian untuk 1 kg diasumsikan ongkos angkutnya hanya 11% dari Rp 12 ribu, artinya kenaikannya kecil sekali hanya 1% per kg. Itu sebabnya dari pabrik, hampir tidak ada kenaikan harga tepung terigu,” tambah Franky.

Demi memperlancar distribusi, pemerintah dan asosiasi terkait juga akan meminimalisasi hambatan terutama di pelabuhan penyeberangan. Hal itu dilakukan misalnya dengan memanfaatkan waktu-waktu selain beban puncak, serta memisahkan antara angkutan orang dan barang.

Kemudian, selama periode H-7 hingga H+7, kendati truk dilarang masuk kota, akan ada pengecualian untuk armada pengangkut bahan kebutuhan pokok.

Terkait dengan hal tersebut, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina pada 20 Juni 2013, telah mengusulkan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, melalui Surat No. 243/PDN/SD/6/2013, untuk memprioritaskan secara kontinu kebutuhan pokok strategis selama bulan puasa dan Lebaran 2013, terutama pada H-4 sampai H+1 Lebaran, bagi komoditi beras, gula pasir, tepung terigu, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur ayam, cabai, bawang, susu, air minum/mineral dalam kemasan, BBM, BBG, pupuk, dan ternak.

Pasca diumumkannya kenaikan harga BBM Jumat lalu, harga kebutuhan pokok memang ada kenaikan, namun kisarannya antara Rp500,- s/d Rp2.000,-/kg. Menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina di Jakarta, Minggu (23/6), pihaknya berharap harga tidak naik lagi menjelang masuknya bulan Ramadhan Juli mendatang.

Hasil pantauan Kementerian Perdagangan, harga bahan kebutuhan pokok di 8 kota besar tanggal 22 Juni 2013 sebagai berikut : Gula pasir masih stabil,Minyak goreng curah, terjadi kenaikan harga di Semarang dari sebelumnya Rp8.640,-/kg menjadi Rp8.730,-/kg (naik 1,04%), di Surabaya dari sebelumnya Rp9.600,-/kg menjadi Rp10.000,-/kg (naik 4,17%). Tepung terigu stabil,Beras jenis medium terjadi kenaikan harga 1,81% di Jakarta dari sebelumnya Rp8.840,-/kg menjadi Rp9.000,-/kg.

Daging sapi di Jakarta terjadi kenaikan harga 2,15% dari Rp93.000,-/kg menjadi Rp95.000,-/kg. Di Bandung harga naik dari Rp95.000,-/kg menjadi Rp98.000,-/kg (3,16%); Semarang dari sebelumnya Rp78.000,-/kg menjadi Rp78.600,-/kg (0,77%). Di Yogyakarta, harga daging sapi juga naik dari sebelumnya Rp94.334,-/kg menjadi Rp94.667,-/kg (0,35%). Sementara di Medan, Sumut, harga daging sapi juga naik dari sebelumnya Rp84.500,-/kg menjadi Rp85.000,-/kg (0,59%).

Daging ayam di Jakarta terjadi kenaikan harga dari Rp28.600,-/kg menjadi Rp31.600,-/kg (naik 10,49%); Bandung dari Rp31.000,-/kg menjadi Rp32.000,-/kg (naik 3,23%); Semarang dari Rp26.400,-/kg menjadi Rp27.000,-/kg (naik 2,27%); di Surabaya terjadi kenaikan dari Rp25.000,-/kg menjadi Rp26.000,-/kg (4%). Demikian juga di Medan, Sumut, harga daging ayam naik 0,67% dari Rp24.833,-/kg menjadi Rp25.000,-/kg.

Telur ayam naik di Bandung 2,63% dari sebelumnya Rp19.000,-/kg menjadi Rp19.500,-/kg; di Semarang dari sebelumnya Rp19.400,-/kg menjadi Rp19.500,-/kg; sementara di Surabaya terjadi kenaikan dari sebelumnya Rp18.200,-kg menjadi Rp19.000,-/kg (naik 4,4%).

Related posts