Pasokan Melimpah, Harga Bawang Terjun Bebas

NERACA

Jakarta - Sempat mengalami kelangkaan karena pasokan terhambat, kini produk hortikultura yaitu bawang merah telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Penurunan harga ini disebabkan karena pasokan yang sedang melimpah.

Menurut Ketua Umum Dewan Bawang Merah Nasional (Debanas) Sunarto ada beberapa sentra produksi bawang daerah telah mengalami peningkatan seperti Bima, Probolinggo, Nusa Tenggara Barat (NTB). \"Panen tertunda karena faktor cuaca. Bawang yang semula dihargai Rp17.000 per kilogram kini turun menjadi Rp11.000 kilogram,\" ujarnya di Jakarta, Senin (17/6).

Sunarto menuturkan bahwa harga bawang akan kembali membaik jelang memasuki bulan Ramadhan dan hari raya. Bahkan ia memperkirakan harga bawang akan stabil hingga akhir tahun. \"Produksi bawang sedang melimpah, saya kira harga bawang akan stabil hingga akhir tahun, saya perkirakan tidak mungkin lebih dari Rp20.000 per kilogram,\" ujarnya.

Dengan pasokan yang melimpah, Debanas menyatakan pemerintah tidak perlu membuka keran impor bawang. Apalagi, bawang impor yang masuk pada semester pertama belum sepenuhnya terserap pasar.

Pada April lalu, pemerintah mendatangkan 2.000 kontainer bawang merah dengan berat total mencapai 60 ribu ton. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan berharap impor tersebut bisa menjaga ketersediaan pasokan bawang merah di pasaran agar harga tidak melonjak.

Ia menjelaskan tahap pertama akan datang puluhan kontainer bawang merah pada 5 April 2013 mendatang oleh importir terdaftar dan telah ada rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH). \"Nanti, secara bertahap akan ada puluhan kontainer yang datang. Totalnya akan ada dua ribu kontainer, satu kontainer memuat 30 ton,\" katanya.

Gita mengatakan bahwa tingginya harga bawang merah saat ini, merupakan siklus panen. Menurutnya, di sentra produksi bawang merah pada Maret lalu baru masuk musim tanam dan baru panen raya pada Juli 2013 mendatang.

Untuk mengisi stok, pemerintah akan mengimpor bawang merah. Hal ini, untuk menjaga agar harga bawang di tingkat petani tidak jatuh saat panen raya. \"Impor ini juga akan dijaga supaya tidak bentrok dengan panen raya,\" ujar Gita.

Gita berharap, distribusi bawang merah impor ini merata di semua daerah. \"Saya berharap agar daerah Brebes dan Palu (daerah penghasil bawang merah), jangan sampai tidak menikmati hasil impor,\" kata mantan Kepala BKPM ini.

Seperti diketahui, Indonesia mempunyai Kota Brebes sebagai produksi terbesar bawang merah. Oleh karena itu, Pengamat Pertanian Ahmad Yakub meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan produk bawang merah, bawang putih dan beberapa produk lainnya agar tidak ketergantungan terhadap impor.

\"Mahalnya harga bawang putih, bawang merah, dan beberapa komoditi lainnya dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah terhadap para petani. Akibatnya petani yang dirugikan. Hal ini salah satu penyebab petani enggan menanam bawang, sehingga suplai terbatas,\" ujar Ahmad Yakub.

Batasi Impor

Di sisi lain, kata dia, Kementerian Pertanian (Kementan) membatasi impor karena sebagian petani menikmati kenaikan harga hortikultura. \"Tetapi itu kan tidak sepanjang tahun. Ini hanya spekulasi. Padahal yang dinginkan petani dan konsumen adalah harga yang stabil,\" kata dia.

Ia menjelaskan petani lebih memilih menanam padi daripada bawang atau cabai, karena pemerintah hanya menerapkan aturan harga pembelian pemerintah (HPP) beras. Padahal, bawang dan cabai merupakan tanaman yang sensitif terhadap alam dan harga.

Karena itu ada tiga hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi ketergantungan pangan atas impor. Pertama, ketersediaan benih dan pupuk baik organik dan nonorganik harus tepat waktu agar dapat meningkatkan produksi.

\"Terkait dengan produksi, ketersediaan benih dan pupuk baik pupuk organik maupun nonorganik kurang tepat waktu. Sementara itu, teknologi untuk produksi yang digunakan petani tidak berkembang sejak dulu,\" kata Ahmad Yakub.

Menurut dia, itu semua karena pemerintah tidak memahami bahwa pertanian Indonesia ini skala kecil dan berbasis keluarga. Jadi, jangan diperkenalkan dengan teknologi mesin tanam seperti di negara lain yang harganya miliaran rupiah. \"Itu tidak masuk akal. Teknologi yang memungkinkan bagi kita adalah bersifat kolektif atau komunitas,\" kata dia.

Kedua, lanjutnya, selama ini banyak lahan pertanian yang dikonversi menjadi lahan nonpangan, seperti digunakan untuk infrastruktur, perkebunan, perumahan, dan pembangunan lainnya. \"Di Indonesia ini terjadi konversi lahan. Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Kementerian Pertanian (Kementan) ada sekitar 150 ribu hektare lahan pertanian yang dikonversi menjadi lahan nonpertanian pertahun,\" kata dia.

Related posts