Cukup Diperketat, Jamsostek Minta Investasi Tidak Dibatasi

NERACA

Balikpapan - PT Jamsostek (Persero) meminta kepada regulator untuk tidak membatasi investasi yang dilakukan perseroan. Alasannya, ketika berubah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan dibutuhkan keuntungan yang besar untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi peserta.

Menurut Direktur Keuangan Jamsostek Herdy Trisanto, investasi tidak perlu dibatasi, namun regulator tetap harus membuat persyaratan yang ketat. “Jadi investasinya harus diperluas tetapi persyaratan diperketat,\" ujar Direktur Keuangan Jamsostek Herdy Trisanto usai membuka Jamsostek Goes to Society di Balikpapan, Kalimantan Timur, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, investasi merupakan salah satu core bisnis Jamsostek yang terpenting untuk mendukung core bisnis kepesertaan dan pelayanan. Jika, investasi Jamsostek dibatasi dikhawatirkan akan menurunkan manfaat yang diberikan kepada peserta.

\"Kalau hanya diperbolehkan ke deposito dan obligasi, imbal hasil bagi peserta kemungkinan tidak akan terlalu besar seperti saat ini, bahkan bisa lebih kecil dari deposito, karena harus dikurangi dengan biaya-biaya,\" jelasnya.

Herdy mencontohkan, persyaratan yank diperketat seperti pada investasi saham misalnya diharuskan hanya pada saham-saham yang masuk dalam LQ-45. Sedangkan reksa dana persyaratannya harus diterbitkan oleh manajer investasi yang handal dan mempunyai reputasi yang bagus. \"Syarat-syarat ini yang akan menjadi rambu-rambu bagi Jamsostek untuk berinvestasi,\" terang dia.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Perusahaan Jamsostek Kuswahyudi menuturkan, acara Jamsostek Goes to Society di Balikpapan, Kaltim ini merupakan yang ketujuhkalinya. Sebelumnya acara ini telah dilakukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Palembang. \"Terakhir kita akan lakukan di Makasar, Sulawesi Selatan pada minggu depan,\" jelas Kuswahyudi.

Menurut Kuswahyudi, acara tersebut bertujuan menyosialisasikan program-program Jamsostek kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Selain itu program ini merupakan salah satu agenda untuk menyukseskan transformasi Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada Januari 2014. Di tempat yang sama, Kepala Kantor Wilayah PT Jamsostek (Persero) Kalimantan Adjat Sudrajat mengatakan, potensi kepesertaan di Kalimantan yang bisa digarap masih sangat besar. Dari jumlah tenaga kerja informal sebanyak 2,1 juta yang baru terdaftar menjadi peserta Jamsostek sebesar 825.000. \"Kebanyakan dari sektor perkebunan,\" jelasnya. [kam]

Related posts