Rupiah Melemah, Spekulan Jadi "Kambing Hitam"

Kamis, 30/05/2013

NERACA

Jakarta – Pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini tampaknya terkait erat dengan kondisi ekonomi domestik, dan pengaruh membaiknya kondisi Amerika Serikat di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi China. Artinya, pelemahan rupiah ini tidak semata-mata akibat ulah spekulan di pasar valuta asing maupun bursa efek dalam negeri.

Bagaimanapun, ruang gerak spekulan sekarang sangat terbatas. Apalagi Bank Indonesia sudah mengeluarkan aturan baru SE BI No 15/3/DPM (28 Feb. 2013) yang bertujuan untuk penyetaraan ketentuan pembelian valas terhadap rupiah kepada bank yang dilakukan oleh pedagang valuta asing (PVA) dan kegiatan usaha pengiriman uang (KUPU).

Dalam aturan ini, semua nasabah yang membeli valas terhadap rupiah berjumlah US$ 100 ribu harus melampirkan underlying dokumen. "Aturan ini bertujuan melindungi PVA dari pihak-pihak yang mengambil keuntungan jangka pendek," kata Direktur Eksekutif Hubungan Masyarakat BI, Difi A. Johansyah, Rabu (1/5)

Namun di sisi lain, Indonesia yang menganut sistim devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai, memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya. Kondisi rezim devisa bebas dengan rupiah yang konvertibel, memang membuka peluang besar untuk setiap orang bermain di pasar valas.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan, indikasi pelemahan rupiah itu terjadi akibat dari defisit neraca perdagangan Indonesia beberapa waktu lalu, dimana ekspor terus menurun, namun impor makin meningkat.

"Dari faktor eksternal seperti melambatnya perekonomian China,dan membaiknya perekonomian AS bisa menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah," ujarnya kepada Neraca, Rabu (29/5).

Lebih jauh lagi Enny memaparkan, sebaiknya menteri keuangan tidak menyalahkan spekulan ketika terjadi melemahnya nilai rupiah, karena spekulan itu hanya bagian kecil saja dan tidak akan berpengaruh besar terhadap fluktuasi kurs rupiah. "Kalau fundamental perekonomian Indonesia kuat, tidak akan goyang dengan adanya spekulan," ujarnya.

Dia juga menyarankan pemerintah untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif di samping mampu meyakinkan kalangan internasional, bahwa Indonesia memiliki dukungan perbankan, khususnya untuk menopang pembiayaan perdagangan ekspor. Karena dengan cara ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa segera kembali pulih.

Enny menanggapi pernyataan Menkeu Chatib Basri bahwa, fluktuasi nilai rupiah terjadi karena adanya aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan para spekulan di bursa regional. "Saya kira ini lebih dari fluktuasi di pasar uang. Bisa juga karena profit taking yang dilakukan karena kemarin (IHSG) naiknya besar," ujarnya Jakarta, Rabu (29/5).

Chatib mengatakan, penguatan dollar AS ini juga dimungkinkan karena adanya ekspektasi penarikan pelonggaran kuantitatif (QE) akibat mulai membaiknya data perekonomian AS. Namun, menurut dia, bank sentral AS (The Fed) belum akan menghentikan upaya ekspansi moneter, dengan melakukan penarikan QE dalam waktu dekat.

"Sinyal dari Gubernur The Fed Bernanke seperti itu, tapi kita mesti lihat, ini yang biasanya direspons pasar dengan cepat," ujarnya. Sementara indeks kepercayaan konsumen di negara Paman Sam itu naik tertinggi dalam lima tahun terakhir mencapai 76.2 pada Mei 2013. Kenaikan ini melampaui prediksi ekonom yang dipolling MarketWatch, yaitu 72.3. Artinya, konsumen di AS lebih optimis terhadap kesehatan ekonomi negaranya pada enam bulan ke depan.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi China menjadi 7,75% pada tahun ini, dari semula 8% lantaran kegiatan ekspor negara tersebut yang tertekan oleh pelemahan ekonomi global.

Sebelumnya, IMF sempat memberikan proyeksi perekonomian China pada bulan lalu sebesar 8% pada 2013, dan 8,2% pada 2014. Pada akhir 2012, pertumbuhan ekonomi negara itu tercatat 7,8%, atau terendah dalam 13 tahun terakhir. Selanjutnya, pada tiga bulan pertama tahun ini, China mencatat pertumbuhan ekonomi 7,7%.

Lemah di ASEAN

Berdasarkan hasil riset Investment Research UBS, bank besar di Swiss belum lama ini, menunjukkan bahwa hanya rupiah yang melemah terhadap dolar AS di antara negara ASEAN lainnya. Sebaliknya pergerakan kurs dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, peso Filipina, menunjukkan tren yang menguat selama periode Januari 2012 hingga 17 Mei 2013. Padahal sebelumnya, posisi nilai tukar mata uang lima negara ASEAN seragam stabil selama tahun 2011. Namun, sejak Januari 2012, kurs rupiah bergerak liar sendirian terhadap US$.

Pergerakan kurs tengah rupiah terhadap US$ menurut data BI, kemarin masih berada dalam area negatif atau melemah ke posisi Rp 9.810 dibandingkan sepekan lalu Rp 9.774 (23/5). Sedangkan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah 22 poin menjadi Rp 9.889 dibanding sebelumnya pada Rp 9.867 per US$.

Ini setidaknya menggambarkan nilai rupiah yang overvalued itu berarti juga proteksi industri lokal yang negatif. Akibatnya harga barang impor menjadi relatif murah dan produk dalam negeri relatif mahal, sehingga masyarakat memilih barang impor yang kualitasnya lebih baik. Akibatnya produksi dalam negeri tidak berkembang, ekspor menjadi kurang kompetitif dan impor meningkat, rupiah pun akhirnya menjadi “korban”. iwan/fb