Pasar Modal Harus Miliki Kesamaan Derajat

Sambut Persaingan MEA

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta – Meskipun industri pasar modal dinilai belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Linkage, namun kondisi ini bukan berarti harus tertinggal jauh dengan negara lain di Asia. Sebaliknya, pemberlakuan MEA harus memiliki kesamaan derajat.

Kata Anggota Dewan Komisioner bidang pasar modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, pasar modal harus memiliki kesamaan derajat dengan memaksimalkan potensi yang ada menyambut pelaksanaan MEA, “Tantangan kita, di pasar modal harus punya 'level playing field' yang sama dengan negara lain, dengan cara memaksimalkan potensi yang ada,”ujarnya di Jakarta, Kamis (23/5).

Dirinya menegaskan, pemberlakuan MEA tidak boleh hanya menguntungkan segelintir negara saja. Oleh karena itu setiap negara ASEAN harus sama-sama memiliki tata kelola yang baik di negaranya masing-masing. Pasalnya, kalau salah satu negara lebih rendah dari negara lainnya, maka kecenderungannya investor akan lari ke negara lain.

Sudah saatnya, industri pasar modal mempersiapkan para pelaku di industri keuangan menghadapi MEA 2015. Nurhaida mengklaim, saat ini regulator telah banyak melakukan perkembangan terkait infrastruktur pasar modal.

Ke depan di bawah payung OJK, kata dia, regulator akan terus mempersiapkan pelaku-pelaku industri dengan melihat dan mengikuti aturan-aturan yang berkembang di negara-negara ASEAN, “Kita akan melihat dan mengikuti aturan di ASEAN seperti apa, dan apakah aturan itu bisa diterapkan di Indonesia atau tidak. Tapi yang penting kita mempersiapkan pelaku industri agar menjadi lebih kuat dan lebih kompetitif,”tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad pernah bilang, pihaknya tengah mempersiapkan industri pasar modal Indonesia menghadapi ASEAN Linkage. Menurutnya, ada tiga hal yang harus disiapkan oleh pelaku industri maupun regulator demi menghadapi persaingan dengan negara tetangga, “Pengembangan kapasitas organisasi di masing-masing lembaga dan regulator ini harus segera terbangun dan saling terintegrasi,”tuturnya.

Dia mengemukakan, yang harus dipersiapkan oleh regulator dan pelaku industri adalah perlunya pengembangan kapasitas, pengembangan sumber daya manusia serta profesionalisme baik antar regulator ekonomi di Indonesia ataupun antar pelaku industri.

Kemudian, lanjut dia, juga harus membangun infrastruktur perangkat keras (hardware) dan lunak (software) disertai dengan dukungan dari pengembangan informasi dan teknologi sehingga tercipta pasar yang efisien."Sedangkan hal ketiga adalah pendalaman pasar agar Indonesia dapat memenangkan persaingan dalam lingkup antar negara-negara ASEAN," ujarnya.

Inti dari pendalaman pasar adalah menciptakan variasi produk investasi yang lebih beragam, penambahan jumlah investor domestik serta menambah likuiditas pasar obligasi. Oleh karena itu, pasar modal harus dapat menjadi sumber pembiayaan bagi perusahaan domestik yang mudah diakses oleh semua pihak. (bani)