Kenaikan BBM Pukul Nelayan Tradisional - Perikanan Tangkap

NERACA

Jakarta - Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Abdul Halim menolak jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubidi baik solar ataupun premium. Pasalnya BBM merupakan ongkos terbesar nelayan sehingga apabila terjadi kenaikan maka nelayan pun akan terpukul. \"Untuk turun ke laut, nelayan mesti menyiapkan 60-70% dari total ongkos produksi. Jadi, apabila terjadi kenaikan maka kehidupan nelayan pun akan terancam,\" ungkap Halim dalam keterangan pers yang diterima Neraca, Kamis (23/5).

Menurut Halim, nelayan juga mengeluhkan ketersediaan pasokan BBM berubsidi di daerah. Pasalnya beberapa daerah seperti Jawa Timur, Sumater Utara, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur telah mengalami kekurangan pasokan BBM sehingga mengancam ribuan nelayan yang mengakibatkan gagal untuk melaut. \"Kenaikan BBM juga mempengaruhi harga sembako. Maka semakin sulit keluarga nelayan untuk hidup sejahtera,\" tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa di Gresik, Jawa Timur terdapat 5.000 nelayan tradisional setempat harus hidup serba prihatin agar terus survive. Karena harga solar sebesar Rp.4.500 sudah sangat memberatkan. \"Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, nelayan tradisional Gresik harus bekerja ekstra agar mendapatkan penghasilan alternatif. Imbasnya, menabung untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan adalah mimpi yang sulit dilakukan,\" katanya.

Contoh lainnya, di Langkat Sumut yang terdapat 17.350 nelayan tradisional Langkat sering kali kesulitan mengakses BBM bersubsidi. Karena harus menunggu setiap 10 hari sekali. \"Di Langkat, tersedia 6 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dan hanya 4 di antaranya yang beroperasi. Pasokan yang tidak teratur berimbas pada tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan tradisional. Karena harga solar di pedagang BBM eceran naik menjadi Rp.5.500 – Rp.6.500/liter,\" lanjutnya.

Di Lombok Timur, NTB juga terjadi kelangkaan subsidi. Alhasil, kata dia, elayan tradisional harus membeli solar dengan harga Rp.5.000 -5.500 per liter. Menurut dia, kelangkaan dan tingginya harga solar menyebabkan nelayan harus mengurangi waktu melaut. Dampaknya, penghasilan berkurang dan hutang menumpuk.

Sementara nelayan di Tarakan, untuk endapatkan solar seharga Rp4.500/liter, nelayan dibatasi sebanyak 200 liter dan hanya mencukupi kebutuhan melaut selama 4 hari. Ironisnya, dalam sebulan SPBN hanya beroperasi 2 hari saja. Selebihnya, nelayan harus merogoh kocek sebesar Rp.7.000-Rp.10.000/liter di pedagang eceran. \"Kondisi ini mengakibatkan nelayan terlilit hutang agar agar tetap bisa menafkahi keluarga,\" ujarnya.

BERITA TERKAIT

Kenaikan Harga Tiket Pesawat Agar Lekas Diatasi

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi pada Q1 2019 berada di angka 5,07%. Walau ada peningkatan secara yoy dari Q1 2018,…

Kenaikan Tarif Cukai Ditunda - HM Sampoerna Leluasa Memacu Bisnis Rokok

NERACA Jakarta – Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok menjadi angin segar bagi pelaku industri rokok. Pasalnya, dengan penundanaan…

BI Gandeng Bank Umum Buka Penukaran Uang di Pasar Tradisional

    NERACA   Pekanbaru - Bank Indonesia Provinsi Riau menggandeng sejumlah bank umum untuk membuka layanan penukaran uang kertas…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Udang Jadi Primadona Komoditas Ekspor dari Indonesia

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti) di awal menjabat, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, telah…

Stok Bawang Putih di Ritel Modern Dipastikan Aman

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan memastikan stok bawang putih di ritel modern aman, yang dibuktikan melalui pemantauan ketersediaan dan harga…

Seimbangkan Kepentingan Produsen dan Konsumen Pangan

  NERACA Jakarta – Pemerintah perlu untuk lebih menyeimbangkan kepentingan antara pihak produsen dan konsumen pangan terutama dengan manajemen stok…