Industri Melemah, Sektor Tenaga Kerja Terancam

Kamis, 23/05/2013

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan industri nasional tengah lesu. Beberapa kendala seperti regulasi, efisiensi, tingkat suku bunga yang terlalu tinggi, nilai kurs rupiah yang melemah, kenaikan upah minimum provinsi (UMP), kenaikan tarif dasar listrik (TDL), serta adanya rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dituding sebagai biang keladinya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian pun merevisi target pertumbuhan industri pada tahun ini hanya sebesar 6,5%. Target itu dipangkas dari target awal yang sebesar 7,14% untuk periode 2013. Tak pelak, kondisi tersebut bakal mengganggu target pemerintah tahun ini dalam hal penyerapan tenaga kerja

Terkait revisi pertumbuhan industri itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kebijakan Publik, Fiskal dan Moneter, Hariyadi Sukamdani mengatakan, saat ini keadaanya memang tidak kondusif akibat terkena hantaman UMP yang dijalankan beberapa waktu lalu. \"Dampak paling buruknya adalah hal ini bisa mengurangi penyerapan tenaga kerja di semua sektor, karena akan banyak perusahaan yang mengurangi biaya produksi dengan melakukan PHK,\" ungkap kata Hariyadi, kepada Neraca, Rabu.

Bahkan, anggota Komisi VI DPR RI, Ferrari Romawi mengungkapkan, memang akan menjadikan penurunan penyerapan tenaga kerja apabila terdapat koreksi target pertumbuhan industri tahun 2013 dari sebesar 7,14% menjadi 6,5%. Tenaga kerja baru yang seharusnya bisa bekerja pada tahun ini maka akan sulit mendapatkan kesempatan bekerja di sektor industri jika penurunan pertumbuhan industri ini terjadi. “Secara otomatis sektor tenaga kerja di bidang industri akan mengalami penurunan dengan pertumbuhan industri yang menurun juga,” kata dia kepada Neraca, Rabu.

Namun, menurut Ferrari, penurunan sektor tenaga kerja jangan dikatakan secara umum akan mengalami penurunan tenaga kerja dan harus melihat sektor industri mana saja yang akan mengalami penurunan atau tidak. “Perlu dicermati kembali atas koreksi target pertumbuhan industri dari pemerintah, tidak semua sektor industri seperti misalnya industri garmen, tekstil dan alas kaki mengalami penurunan pertumbuhan industri”, ujar Ferrari.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty juga tak menampik kondisi tersebut. Menurut dia, melemahnya industri secara otomatis akan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, baik yang telah berkerja pada sektor industri tertentu maupun tenaga kerja-tenaga kerja lainnya. “Terjadinya perlambatan industri tentu menyebabkan perlambatan penyerapan tenaga kerja dan tahun ini akan lebih parah”, tandas dia kepada Neraca, Rabu.

Telisa menambahkan, hal yang paling berpengaruh terhadap pelemahan industri karena semakin beratnya beban yang harus ditanggung pelaku industri seperti biaya bahan baku ditambah adanya ketidakpastian atas kenaikkan BBM serta kenaikan upah regional buruh.

“Karena itu, pemerintah perlu segera menyelesaikan permasalahan BBM dan membuat kebijakan yang dapat mendukung industri. Salah satunya yaitu dengan mencarikan jalan alternatif pengganti BBM”, tukas Telisa.

Bahkan, lanjut Telisa, momen ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk membudayakan penggunaan energi terbarukan seperti penggunaan energi panas bumi atau green economy. “Tidak hanya itu, pemerintah juga harus berupaya keras dan fokus secara optimal dalam memberantas korupsi, yang diharapkan dapat mengurangi pungutan-pungutan yang dikeluarkan pelaku industri”, papar dia.

Telisa menegaskan bahwa revisi yang dilakukan Kementrian Perindustrian atas pertumbuhan industri secara jelas mengindikasikan bahwa pertumbuhan industri pada tahun ini akan mengalami pelamahan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang direvisi oleh pemerintah. “Kecenderungannya memang akan melemah seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang direvisi yang didasarkan pada kondisi global dan domestik.” Ucap Telisa Aulia.

Bahkan, kata Telisa, dalam dua tahun terakhir, secara rata-rata pertumbuhan industri selalu berada di bawah pendapatan domestik bruto (GDP/Gross Domestic Product). Namun dengan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi maka pertumbuhan industri akan semakin melemah. “GDP kita saat ini sekitar 6%-6,5%. Dalam dua tahun terakhir industri tumbuh di bawah GDP, kecuali untuk sektor telekomunikasi, perdagangan, dan perbankan”, papar Telisa.

Menanggapi hal itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan, revisi pertumbuhan industri karena dilihat adanya beberapa kendala yang tengah membelit kinerja industri. Akan tetapi dengan turunnya target pertumbuhan industri, pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dengan beberapa menteri ekonomi untuk mengatasi kendala-kendala yang bisa menghambat pertumbuhan industri tersebut. “Mudah-mudahan hambatan dan masalah yang mengganggu pertumbuhan industri bisa secepatnya diselesaikan dengan tujuan dapat menggerakkan kinerja sektor rill,\\\" terang Hidayat kepada wartawan, Rabu.

Untuk itu, Hidayat berharap kepada perbankan untuk segera menurunkan tingkat suku bunga, pasokan energi, masalah logistik, dan birokrasi. \\\"Pasokan energi seperti listrik memang masih belum mencukupi kebutuhan industri di tanah air,\\\" kata Hidayat. Sementara hambatan logistik muncul karena ketersediaan infrastruktur di Indonesia yang belum memadai.