Pelemahan Rupiah Bikin Lesu Pasar

Kinerja Emiten Terganggu

Kamis, 23/05/2013

NERACA

Jakarta- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini mencapai Rp9776/US$ dinilai akan berpengaruh terhadap kinerja emiten. Terlebih jika pelemahan rupiah tersebut berlanjut ke depan.

Oleh karena itu, investor perlu mencermati dampak buruk yang muncul akibat hal tersebut. “Berlanjutnya pelemahan rupiah secara perlahan terhadap US Dollar tentunya berdampak buruk terhadap emiten yang mempunyai utang besar dalam US Dollar.” kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang di Jakarta, Rabu (22/5).

Menurutnya, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi oleh The Fed mengenai kelanjutan program stimulus "bond-buying". Hal tersebut menjadi faktor pendorong Dow Jones menguat sebesar 52.3 poin atau 0.34% pada perdagangan kemarin.

Adanya komentar Presiden The Fed St. Louis James Bullard, lanjut dia, yang mengatakan akan melanjutkan program stimulus quantitative easing selain melihat perkembangan atas pertumbuhan ekonomi dan inflasi sebagai dasar penyesuaian jumlah pembelian obligasi juga menjadi salah satu hal yang mempengaruhi fluktuasi pasar.

Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, testimoni Gubernur The Fed Ben Bernanke dan rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) bisa saja menjadi salah satu faktor yang memperkuat rally dolar AS akhir-akhir ini. Meskipun, The Fed belum akan langsung menyatakan pengetatan moneter, namun akan menjadi langkah yang semakin dekat ke arah pengetatan tersebut.

Hal yang perlu diwaspadai, lanjut dia, jika the Fed memberikan sinyal bahwa program pembelian obligasi itu akan divariasikan atau dengan kata lain direduksi atau secara langsung Bernanke menyatakan optimistis atas outlook ekonomi Amerika Serikat maka akan membawa rupiah mengalami pelemahan lebih lanjut. “Jika hal itu terjadi maka dolar AS bisa semakin meroket terhadap rupiah.” ucapnya.

Sementara itu, menyikapi pelemahan rupiah atas dolar AS, analis saham dari PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada prinsipnya erat kaitannya dengan kinerja pedagangan mata uang (Foreign Exchange). Sebagai contoh, pada saat pemilihan presiden USA, menjelang pemilihan presiden tersebut, dolar cenderung menguat dan mata uang yang menjadi lawannya, seperti rupiah cenderung melemah.

Terkait pengaruhnya terhadap kinerja saham di pasar modal, lanjut dia, setiap sektor memiliki sikap yang berbeda untuk menyikapi dinamika rupiah dan mata uang lainnya. Sektor insfrastruktur dan pertambangan misalnya, jika mata uang rupiah mengalami kenaikan maka hal itu menjadi positif bagi kinerja sektor tersebut. Begitupun dengan sektor telekomunikasi dan perbankan.

Lain halnya dengan sektor properti, jika rupiah menguat, justru cenderung membawa sektor tersebut ke arah negatif. Karena itu, kebijakan pelemahan rupiah tersebut dikatakan berpengaruh terhadap perkembangan pasar modal dan atau investasi secara umum. (lia)