Untung Rugi IPO Melalui Lelang Terbuka

NERACA

Jakarta – Merespon keinginan pasar agar harga saham emiten yang baru listing di bursa bisa terjangkau alias tidak mahal, Bapepam-LK kini mewacanakan pelaksanaan penawaran saham perdana (initial public offering-IPO) dengan cara lelang terbuka, bukan lagi book-building.

Bak gayung bersambut, Kepala riset Recapital Securities Pardomuan Sihombing menyambut baik wacana tersebut. Pasalnya, langkah ini dinilai lebih fair karena permintaan saham jadi lebih realistis dari kondisi pasar. Sedangkan mekanisme book-building lebih mengarah ke kisaran harga.

Menurut dia, perbedaan mendasar book-building dengan sistem lelang sangat jelas. Dimana dengan lelang, menentukan harga bebas dan sedangkan bookbuilding harga dibatasi. “Mekanisme lelang ditentukan di satu harga saja. Misalkan Rp 1.000. Terserah, mau nge-beat berapa, di atas atau di bawah,” katanya kepada Neraca, Selasa (21/6).

Dia mencontohkan, dari book-building banyak dikeluhkan para investor karena harga saham ditawarkan mahal. Sebut saja, IPO Garuda Indonesia (GIAA), yang akhirnya dipatok di harga Rp 750 per saham. Faktanya, market mengganggap terlalu mahal. “Jadi sekarang harganya turun di Rp 500 per saham,” ujarnya.

Menurut dia, jika sistem lelang ini jadi diterapkan akan berdampak pada penjamin emisi atau underwriter. Pasalnya, mereka tidak bisa lagi membatasi rate harga sehingga market lebih diuntungkan. “Saat ini, saya kira Indonesia masih perlu book-building. Alasannya partisipasi publik masih minim, 230 ribu partisipan. Idealnya di atas 1 juta,” tegasnya.

Seandainya disetujui sistem lelang ini, dirinya mengungkapkan agar perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi. Jangan langsung diterapkan. Terkait maraknya ‘goreng’ saham, Pardomuan lagi-lagi mengatakan sama saja. Dia menekankan di persiapan underwriter dan investor publik itu sendiri.

Hal senada juga disampaikan Direktur Danareksa Invesment Management, Prihatmo Hari M. Dia menilai, dari sisi investor, sistem lelang lebih fair dalam hal supply dan demand. Selain itu, transparansi keuangan lebih terbuka lebar.

Sedangkan book-building sebaliknya. Selain supply dan demand-nya tidak fair karena ditentukan dan juga tidak transparan. “Pasca-IPO, harga bisa dimainkan atau istilah ‘digoreng.’ Saya lebih pilih memakai lelang,” ujarnya.

Mendukung pernyataan Prihatmo, ekonom Danareksa Purbaya Yudi Sadewa juga menyampaikan hal sama. Dia menilai, penetapan harga perdana melalui lelang memiliki kelebihan berupa transparansi. Pasalnya, harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar murni. Sebaliknya, sistem bookbuilding masih memberi celah bagi permainan harga yang ditentukan sebagian pemain bursa. “Sistem lelang bisa mengurangi karakteristik pasar oligopolistik. Juga lebih fair,”ungkapnya.

Namun, Purbaya tetap mengingatkan, pelaku pasar mewaspadai kecenderungan arah harga yang dominan dalam proses lelang. Bisa jadi harga yang ditawar masih terlalu tinggi atau rendah dan mempengaruhi persepsi yang lebih luas. “Masing-masing calon pembeli mesti memiliki analisis sendiri,” katanya.

Sementara pengamat pasar modal Kuo Capital Rahardja, Edwin Sinaga menyampaikan, proses lelang IPO dengan book-building itu sama, karena mereka menentukan harga yang terbaik,yang diinginkan pasar dengan volume yang akan diserap publik. “Namun program ini perlu diterapkan agar tidak adanya salah persepsi dari masyarakat,”ujarnya.

Perlu Sosialisasi

Kendati demikian, Edwin masih meragukan mekanisme baru tersebut dan berharap Bapepam LK bisa membuat aturan main dan acuan yang baik serta sosialisasi yang optimal. Sebelumnya, Direktur Investment Banking, PT Makinta Securities Harry Kurniawan pernah bilang, proses book-building saat ini pun sebenarnya tidaklah berbeda dengan penetapan harga lelang.

Bahkan dirinya, menggunakan skema lelang dinilai tidak lebih baik dari skema saat ini, yakni harga ditetapkan dari hasil masa penawaran awal (book-building). Menurut dia, jika menggunakan opsi best effort, dana raihan IPO menjadi tidak maksimal. Selain itu, opsi itu memberi risiko lain yaitu sisa dana yang tidak terserap pasar,akan dikembalikan lagi kepada emiten bersangkutan.Kondisi ini berbeda jika menggunakan skema saat ini, yang menggunakan full commitment, yaitu adanya komitmen penuh dari penjamin emisi.

Penentuan harga akan dilakukan penjamin emisi dengan menggunakan hasil book building, yang telah dilakukan.Penjamin emisilah nantinya yang akan bertanggung jawab, dengan membeli saham-saham yang tidak terserap baik oleh pasar. Peran penjamin emisi dalam menentukan harga, lanjut Harry,adalah bagaimana membuat saham suatu perusahaan yang akan IPO terlihat atraktif di mata investor.

Tentu itu menjadi konsekuensi, bagaimana penjamin emisi bisa menentukan harga yang sesuai dan menjualnya, ke investor yang sesuai. Dengan skema tersebut, emiten sudah bisa mendapat gambaran mengenai dana yang akan didapat melalui pelepasan saham yang dilakukan. “Mana mau emiten melakukan go public jika dana yang didapat tidak punya kepastian,” kata Harry.

Sebagaimana diketahui, Ketua Bapepam-LK Nurhaida merencanakan akan memberlakukan aturan IPO dan sistem lelang. Jika sistem ini bisa memberikan hasil optimal bagi emiten, tentu opsi ini bisa diberlakukan di pasar modal.

Dengan skema ini, pasar yang menentukan. Tentu diharapkan bisa menguntungkan emiten dan juga investor. Saat ini rencana tersebut sedang dikaji. iwan/ardi/inung/bani

BERITA TERKAIT

Estika Tiara Bidik Dana IPO Rp 226,11 Miliar

PT Estika Tata Tiara mengincar dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) hingga Rp226,11 miliar. Calon emiten distribusi makanan…

Pangkas Aset KPR Tidak Produktif - BTN Lelang 986 Unit Rumah Senilai Rp 216 Miliar

NERACA Bogor - Sebagai salah satu upaya perseroan untuk memperbaiki kualitas kredit, Bank BTN melaunching produk baru yang dibandrol nama…

Berikan Payung Hukum Khusus - Pemerintah Kritik Unicorn Yang Belum IPO

NERACA Jakarta – Desakan pemerintah lewat Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara agar empat perusahaan starup…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PEJABAT LEGISLATIF PALING BERISIKO - PPATK: Indeks Persepsi APU-PPT Belum Memuaskan

Jakarta-Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan, indeks persepsi publik (IPP) anti pencucian uang dan pemberantasan pendanaan terorisme (APU-PPT)…

AKIBAT KINERJA EKSPOR MENURUN - BPS: Defisit NPI Kian Meningkat US$7,52 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungungkapkan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 masih mengalami defisit US$2,05 miliar, lebih besar jika dibandingkan…

Kepentingan Politik Hambat Ketahanan Energi

NERACA Jakarta – Ketahanan energi yang dicita-citakan diyakini tidak akan tercapai jika pengelolaannya masih dipengaruhi berbagai kepentingan politik. Hal itu…