ASEAN Samakan Alat Ukur Perdagangan

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta - Kerja sama ASEAN di bidang metrologi legal ke-19 yang digelar di Kota Bandung menyepakati "pre packaged" dalam rangka harmonisasi persyaratan untuk produk kemasan terbungkus. "Alat ukur, takar, timbangan dan perlengkapannya menjadi salah satu hal penting menjelang AFTA (ASEAN Free Trade Area),” kata Wakil Manteri Perdagangan Bayu Krisnamurti di pada ASEAN Consultative Commitee for Standard and Quality Working Group 3 (ACCSQ WG-3) on Legal Metrologi, Rabu (1/5).

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan 10 Negara ASEAN tersebut, menyepakati pre-packaged dengan Sistem Internasional (SI). Artinya negara yang selama ini menggunakan sistem lain, seperti Malaysia yang menggunakan British System beralih menggunakan SI. Bayu menyebutkan, kesepakatan legal metrologi itu penting untuk keseragaman ukuran dan volume, sehingga berlaku dan bisa diterima oleh konsumen di pasar ASEAN.

Baca juga: Kemenperin Dukung Rekondisi dan Impor Alat Berat - Antisipasi Ketersediaan Barang Modal

Sebagian besar negara di ASEAN menggunakan ukuran SI, seperti Kg, centimeter dan lainnya. Artinya negara yang menggunakan sistem lain, seperti Malaysia yang menggunakan British System seperti found, feet dan lainnya akan menggunakan SI. "Kerja sama ASEAN di bidang metrologi legal merupajan salah satu upaya untuk memfasilitasi pengurangan hambatan teknis dalam perdagangan terkait metrologi legal memberikan kontribusi terhadap realisasi AFTA," katanya.

Selain masalah ukuran dan takaran kemasan, dalam forum itu juga dibahas terkait sistem tera timbangan dan label ASEAN dalam rangka pemasaran produk di luar ASEAN. Menurut Wamendag, dalam proses harmonisasi dan pengembangan persyaratan teknis di bidang metrologi legal perlu dipertimbangkan bahwa kegiatan itu tidak menimbulkan permasalahan baru dalam perdagangan intra ASEAN dan dapat diimplementasikan oleh seluruh negara ASEAN.

Baca juga: Jumlah Wirausaha RI Ketinggalan Dibanding Negara di ASEAN

Dokumen internasional, rekomendasi internasional dan standar internasional dapat dijadikan dasar untuk menyelaraskan dan mengembangkan persyaratan yang berlaku di seluruh negara anggota. "Untuk mempercepat harmonisasi penyelenggaraan kegiatan metrologi legal di kawasan ASEAN diperlukan pembangunan kapasitas dan bimbingan teknis di bidang metrologi, baik melalui kerja sama antar negara ASEAN maupun dengan mitra dialog ASEAN," kata Bayu.

Forum itu juga mendorong pengembangan kapasitas bagi otoritas metrologi legal di masing-masing negara anggota ASEAN melalui kegiatan pelatihan di bidang metrologi legal dan interkomparasi laboratorium antar negara anggota ASEAN.

Baca juga: Indonesia Diminta Dorong Keadilan Perdagangan Global

Terkait kesiapan Indonesia di bidang metrologi legal menjelang AFTA, Wamendag menyatakan posisi Indonesia cukup bagus dan tertib dalam sektor tersebut. "Pelaksanaan metrologi legal di Indonesia sangat siap dan lebih baik dibanding negara ASEAN lainnya, Singapura memang telah lebih baik, namun di banding yang lainnya kita lebih siap," katanya.

Ia menyebutkan, penanganan metrologi legal di Indonesia termasuk terdepan dan satu-satunya di ASEAN yang memiliki lembaga pendidikan kemetrologian.Terkait target kerja sama ASEAN bidang metrologi itu, kata Bayu Krisnamurti diharapkan tuntas tahun 2013 ini, sehingga siap untuk menyongsong kawasan ekonomi ASEAN. "Ya harus sudah tuntas sebelum 2015, yang jelas pembahasan masalah ini terus dilakukan karena sangat urgen dan menentukan harmoninsasi AFTA," katanya menambahkan.

Baca juga: RI - Iran Perkuat Kerjasama Perdagangan - Ekonomi Bilateral

Pertemuan pakar metrologi se-Asia Tenggara di Bandung ini dipimpin oleh Dr. Wan Abd Malik Wan Mohamed dari National Metrology Laboratory, Malaysia. Peserta terdiri dari 30 orang perwakilan otoritas metrologi legal dari 8 negara ASEAN (Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Viet Nam) dan Sekretariat ASEAN. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Hari Prawoko, Direktur Metrologi Kemendag.

Harus Berbenah

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan Indonesia harus segera berbenah untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015. Meski Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar, Indonesia perlu meningkatkan daya saing produknya agar pasar domestik yang besar tak dimanfaatkan negara lain.

Baca juga: KAA Momentum Peningkatan Perdagangan

Menurut SBY, Indonesia adalah salah satu negara di ASEAN yang memiliki kinerja pertumbuhan ekonomi cukup baik. Karena itu, Indoneisa perlu mempersiapkan diri menghadapi AEC. Sebab, "Pada tahun 2015 nanti, kawasan kita akan menjadi pasar tunggal dengan persaingan ekonomi yang tinggi," ungkapnya.

Pada dasarnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk bisa menghadapi pasar Asean. SBY mencontohkan, kelas menengah Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada 2012 lalu, ikelas menengah di Indonesia sekitar 45 juta orang. Nah, pada tahun 2030 nanti, kelas menengah di Indonesia akan meningkat menjadi 135 juta orang.

Baca juga: Konferensi Asia Afrika, Saatnya Tingkatkan Perdagangan ke Afrika - Potensi Pasar Ekspor Cukup Besar

Begitu juga dengan peluang investasi yang terus meningkat dari US$ 500 miliar tahun lalu, diperkirakan bakal meningkat menjadi US$ 1,8 triliun pada 2030. Menurut Yudhoyono, Indonesia memiliki modal dasar penting baik sumber daya manusia, sumber daya alam, dan pengalaman Indonesia dalam mengatasi krisis.

Hanya saja, ia bilang Indonesia perlu membenahi diri. Diantaranya, birokrasi yang tidak perlu harus dihentikan. Menurut SBTY, perlu ada kesiapan mental dan pola pikir dunia usaha bahwa harus mengejar agar 2015 nanti betul-betul siap menghadapi pasar bebas Asean.

Baca juga: Akan Disiapkan Pusat Perdagangan Kayu Legal