Produksi Teh Nasional Bakal Semakin Anjlok

Dampak Alih Fungsi 3.000 Hektar Kebun

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta - Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin memperkirakan bahwa produksi teh nasional pada 2013 akan semakin menurun. Hal itu terjadi karena ada alih fungsi atau konversi lahan dari perkebunan teh menjadi pertanian hortikultura.

"Produksi teh nasional pada 2012 mencapai 140 ribu ton. Angka ini akan semakin menurun karena terdapat 3.000 hektar tanah yang kini dibabat dan ditanami oleh tanaman hortikultura," ungkap Bustanul kepada Neraca, Rabu (1/5).

Menurut dia, dari produksi teh sebesar 140 ribu ton pertahun, sekitar 70% dialokasikan untuk ekspor. Namun, ia menyayangkan bahwa dikala produksi cukup besar akan tetapi masih mengandalkan impor. "Saat ini kita masih impor teh dari Taiwan, China, Vietnam dan Turki," ucapnya.

Ia menjelaskan kalau situasi ini tetap berlanjut maka akan dikhawatirkan Indonesia akan jadi negara nett importir. "Kita tidak menginginkan jadi negara nett importir teh. Kalau cuman ekspor sih tidak bermasalah karena namanya juga berdagang, tapi kalau sudah jadi nett importir itu sudah keterlaluan," tuturnya.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengungkapkan bahwa terdapat dua fenomena yang terjadi pada pasar Indonesia. Yakni, menurunnya produksi teh kenaikan importasi teh hingga 15-20%. "Produksi teh kita cenderung menurun bahkan beberapa kebun. Ini betul-betul menjadi perhatian kita. Kalau terus menurun, maka identitas teh kita yang bagus bisa hilang,” jelas Bayu.

Menurutnya, di berbagai wilayah penghasil teh termasuk PTPN (Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara), banyak kebun yang sudah mengalami konversi ke tumbuhan lain karena dinilai tidak lagi memiliki aspek ekonomis. Di sisi lain, Bayu menyebutkan, pada 3-4 tahun terakhir impor teh naik secara signifikan sekitar 15-20%.

Karena itu, Bayu mengajak semua pihak termasuk PT KPBN , rakyat maupun swasta untuk bersama meningkatkan kualitas serta kuantitas teh Indonesia. "Kita ingin mengajak manejemen PT KPBN , tak hanya sekadar melelang secara tertutup hanya BUMN saja, tapi mulai memikirkan lelang teh untuk rakyat," ungkapnya. Soal bentuk dan teknisnya, imbuhnya, akan dibicarakan lebih lanjut. Bayu bilang, lelang dengan menyertakan rakyat sangat menguntungkan. Sebab, harga serta kulitasnya jauh lebih baik karena langsung dari rakyat.

Perkuat Promosi

Sementara itu, Asosiasi Teh Indonesia meminta pemerintah menggencarkan promosi teh di dalam negeri untuk mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat. Sekretaris Asosiasi Teh Indonesia, Atik Darmadi, mengatakan, tingkat konsumsi teh di dalam negeri terus menurun dengan alasan kualitas yang kurang baik. "Jumlah penduduk Indonesia 230 juta jiwa lebih dan belum seluruhnya minum teh tiap hari. Padahal potensi dalam negeri sangat besar," kata Atik.

Menurut dia, Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah merekomendasikan kepada negara-negara produsen teh untuk terus meningkatkan konsumsi di dalam negeri. Sedangkan tingkat konsumsi Indonesia terus turun dari 330 gram per kapita per tahun, dalam kurun beberapa tahun, kini tinggal 180 gram per kapita per tahun.

Atik mengacu pada produsen teh terbesar dunia, Cina, yang terus menggenjot produksi dan tingkat konsumsi di dalam negerinya. Cina mampu menggenjot produksi hingga 1,6 juta ton dengan luas area tanaman teh 2,2 juta hektare. Dari jumlah produksi itu, hanya 330 ribu ton teh yang diekspor, sedangkan sisanya untuk konsumsi domestik.

Kondisi ini bertolak belakang dengan situasi di Indonesia. Jumlah produksi teh Indonesia terus turun akibat menyusutnya area tanam. Data asosiasi menunjukkan, pada 2010, produksi 129.200 ton turun menjadi 119.651 ton pada 2011. Ini terjadi lantaran luas area tanam yang terus turun, dari 124.400 hektare pada 2010 menjadi 123.500 hektare pada 2011.

Produksi yang turun ini ternyata justru meningkatkan volume impor. Atik mengungkapkan, saat ini merek-merek teh celup dari luar negeri banyak ditemukan di hotel dan restoran yang tidak berkelas tinggi. "Semakin jelas kondisi di pasar sudah banyak dikuasai merek yang tidak berasal dari Indonesia," katanya.

Karena itu, ia menambahkan, Asosiasi meminta pemerintah melakukan kegiatan promosi untuk meningkatkan konsumsi dalam negeri selain menggenjot peningkatan produksi. Contohnya, kata dia, melalui penyelenggaraan festival atau pembuatan kafe dan gerai teh yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Di masa depan, teh tidak saja sebagai komoditas perkebunan untuk ekspor dan konsumsi di dalam negeri, tapi perannya perlu lebih ditingkatkan lagi sebagai sarana dalam pariwisata dan pengenalan budaya," ujarnya.