Asafoods Tingkatkan Kapasitas Produksi - Gandeng Perusahaan Jepang

NERACA

Bogor - PT ASA Foodenesia Abadi adalah salah satu perusahaan yang bergerak industri makanan menggandeng perusahaan asal Jepang yaitu Mitsui Global Investment dan Danareksa Capital untuk meningkatkan performa Asafoods dalam memproduksi makanan salah satunya roti. Kerjasama tersebut ditandai dengan investasi dari Matsui dan Danareksa Capital.

\"Kerjasamanya dalam bentuk pembelian saham Asafoods. Mitsui Global Investment membeli sekitar 19% saham dan Danareksa Capital membeli 8% saham,\" ungkap Presiden Direktur dan CEO Asafoods Andreas Sutanto saat ditemui di pabriknya, Kamis (25/4).

Ia menjelaskan bahwa saat ini industri roti sangat menggiurkan. Pasalnya roti dijadikan kebutuhan makanan kedua setelah nasi. Tak hanya itu, berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Bakery Indonesia (Apebi) menjelaskan pasar roti dan kue di Indonesia terus meningkat. Pada 2011, pasar roti mencapai Rp27 triliun kemudian mengalami pertumbuhan sekitar 15% pada 2012 yang mencapai Rp31 triliun. Diperkirakan, angka tersebut akan meningkat di 2013 seiring dengan peningkatan kelas menengah dan GDP Indonesia.

Menurut dia, dari penanaman investasi tersebut telah membuat kapasitas produksi roti Asafoods semakin meningkat. \"Saat ini produksi roti tawar bisa mencapai 30 ribu bungkus per hari. Untuk roti manis bisa mencapai 50 ribu bungkus per hari. Sedangkan untuk adonan roti beku, produksi kita bisa mencapai 100 ribu bungkus per hari,\" tutur Andreas.

Bangun Pabrik

Di tempat yang sama, Komisaris Asafoods Eddy Sutanto mengungkapkan bahwa pihaknya berencana membangun 25 fasilitas pabrik roti di seluruh Indonesia dalam lima tahun ke depan. Nilai investasi diperkirakan bisa mencapai US$ 50-250 juta (Rp 500 miliar- Rp 2,5 triliun). \"Ke depannya kami ingin membangun sekitar 25 fasilitas baru untuk membuat roti agar pengiriman produk ke konsumen lebih mudah. Nilai investasinya tergantung lokasi, bisa sekitar US$ 2-10 juta untuk satu fasilitas,\" katanya.

Eddy mengungkapkan, dana pembangunan fasilitas tersebut akan diperoleh melalui pembiayaan internal dan hasil dari penawaran perdana (initial public offering/IPO) saham Asafoods. Perseroan berencana melepas sebagian sahamnya melalui IPO dalam empat tahun ke depan. \"Pabrik-pabrik tersebut akan menunjang pabrik induk yang telah ada saat ini di Sentul,\" tambahnya.

Asafoods saat ini memiliki pabrik di Kawasan Sentul Industrial Estate. Pabrik ini menghasilkan berbagai jenis produk antara lain, roti beku, roti segar, makanan beku, serta berbagai kue. \"Saat ini komposisi produksi kami adalah french pastry 30%, Artisan 30%, healthy bread 30%, food dan groceries 10%,\" lanjut Andreas Sutanto.

Dia mengungkapkan, produk-produk tersebut didistribusikan oleh PT Belanja Makanan Indonesia lewat jaringan outlet Pane Del Giorno yang tersebar di kawasan perumahan dan perkantoran. Belanja makanan juga melayani penjualan roti dengan sistem berlangganan serta dipasarkan melalui jaringan penjualan di toko swalayan dan jaringan kafe yang berada di Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

Andreas menambahkan, hingga 85% produk dipasok ke Pane Del Giorno dan sisanya disuplai ke beberapa supermarket serta kafe. \"Kami bisa memasok sekitar seribu roti dan kue untuk satu outlet Pane Del Giorno, sementara untuk satu outlet supermarket sekitar 50-100 roti dan kue. Jadi memang fokus kami saat ini untuk memenuhi pasokan Pane Del Giorno,\" tuturnya.

Analis Kim Eng Securities Adi N Wicaksono dalam riset yang diterbitkan mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi roti di Indonesia masih cukup rendah dibandingkan dengan negara lain. \"Tingkat konsumsi roti di Indonesia terendah dibandingkan Negara Asia lainnya, sehingga terbuka peluang bagi perusahaan roti untuk mendongkrak penjualan dalam beberapa tahun ke depan,\" ungkap Adi.

Tingkat konsumsi roti nasional hanya mencapai 1,7 kilo gram per tahun atau lebih rendah dibandingkan Negara lainnya, seperti Singapura (14,7 kg) dan Malaysia (5,9 kg). Selain itu, barang makanan dan minuman merupakan penyerap utama belanja konsumsi masyarakat Indonesia. Belanja makanan dan minuman mengambil prosi hingga 29% dari total belanja barang konsumsi sepanjang 2011.

BERITA TERKAIT

Mengukur Indikator Keuangan dan Pajak Terhadap Kinerja Perusahaan

Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak   Pada masa sekarang ini, para pimpinan korporasi dalam berbagai macam industri memikirkan…

Kejar Pertumbuhan Produksi - ANJT Mulai Operasikan Dua Pabrik Baru

NERACA Jakarta – Pembangunan dua pabrik PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) telah berhasil dirampungkan dan rencananya mulai beroperasi pada…

PRODUKSI SARUNG TENUN IKAT NAIK

Pekerja melipat sarung tenun di sentral kerajinan tenun ikat khas Kediri, Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019).…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Udang Jadi Primadona Komoditas Ekspor dari Indonesia

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti) di awal menjabat, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, telah…

Stok Bawang Putih di Ritel Modern Dipastikan Aman

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan memastikan stok bawang putih di ritel modern aman, yang dibuktikan melalui pemantauan ketersediaan dan harga…

Seimbangkan Kepentingan Produsen dan Konsumen Pangan

  NERACA Jakarta – Pemerintah perlu untuk lebih menyeimbangkan kepentingan antara pihak produsen dan konsumen pangan terutama dengan manajemen stok…