Rencana Kenaikan BBM Rontokkan Pasar Obligasi - TERJADI KOREKSI TRANSAKSI HINGGA 50%

Jakarta- Belum surutnya kekhawatiran pelaku pasar atas ketidakpastian global yang mendorong volatilitas pasar, kini muncul rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sehingga menambah gusar pelaku pasar, khususnya yang bermain di pasar surat utang atau obligasi. Bahkan, hal tersebut telah memicu koreksi pada perdagangan obligasi hingga 50% dalam dua pekan terakhir.

NERACA

Menurut analis obligasi dari Lembaga Penilai Efek Indonesia, Fakrul Aufa, dampak rencana kenaikan BBM ini sampai saat ini lebih terlihat dari menurunnya volume perdagangan di pasar sekunder, “Saat ini rata-rata perdagangan harian hanya Rp3 triliun-Rp4 triliun, padahal normalnya Rp7 triliun-Rp8 triliun sehari, “ujarnya di Jakarta, Rabu (24/4).

Dia mengatakan, saat ini investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. Karena dengan terjadinya kenaikan BBM secara otomatis akan memicu kenaikan inflasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi potensi naiknya yield akibat inflasi. Maka emiten disarankan untuk segera melakukan penerbitan obligasi karena saat ini yield masih cukup rendah.

Momen terjadinya kenaikan yield, lanjut dia, sejauh ini dapat diimbangi seiring kembali masuknya asing di pasar. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih terbilang positif sehingga diperkirakan peluang terjadinya gagal bayar di tahun ini tidak akan terlalu besar. “Kalaupun kupon yang ada saat ini naik, tapi itu masih relatif lebih rendah dari penerbitan obligasi dua atau tiga tahun yang lalu.” ucapnya.

Dalam hal mengukur potensi gagal bayar obligasi ini, kata dia, investor perlu mencermati peringkat obligasi yang diberikan oleh lembaga rating untuk mengetahui seberapa besar risiko perusahaan penerbit obligasi. Namun, hal yang tidak kalah pentingnya yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pihak Otoritas Jasa keuangan (OJK). “OJK menjadi \"wasit\" yang membuat regulasi yang lebih baik agar penerbitan obligasi bisa menguntungkan dua belah pihak, baik itu pelaku pasar maupun bagi pihak penerbit obligasi.” tuturnya.

Dia menambahkan, dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan oleh Bank Indonesia sebesar 6,3%, masih akan mampu untuk mendorong pertumbuhan pasar obligasi sekitar 15-20%. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, atau pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari yang diekspektasikan maka hal tersebut akan sangat berisiko bagi emiten dan pasar secara umum.

Sebaliknya, Direktur Indo Premier Sony Thendian menuturkan, penurunan transaksi harian pada obligasi, menurut dia, sebagian besar terjadi pada obligasi pemerintah. Karena obligasi korporasi banyak mencatatkan \"pemain\" baru dan selama kupon yang diberikan menarik investor maka penyerapannya juga lebih baik. “Saat ini korporasi masih menunggu (dalam penerbitan obligasi, red), tapi sepertinya fifty fifty, ada yang pro atas kenaikan BBM, dan sebaliknya.” ucapnya.

Dia menuturkan, saat ini pelaku pasar masih memperhitungkan akibat adanya beberapa sentimen yang muncul, salah satunya yaitu rencana kenaikan BBM oleh pemerintah. “Semua masih hitung-hitung sehingga saat ini market melakukan antisipasi dulu.” ujarnya.

Kendatipun demikian, Sony menyakini, kenaikan BBM tidak akan berdampak besar ke pasar karena dalam jangka pendek belum akan berpengaruh kepada inflasi. Selain adanya sentimen tersebut, penurunan tersebut juga terjadi akibat pertumbuhan pasar yang terjadi begitu cepat. Namun, sejauh ini koreksi yang terjadi pada pasar obligasi masih dapat ditopang oleh likuiditas yang masih tinggi.

Pengamat pasar modal Trust Securities Reza Priyambada mengakui, belum ada kejelasan soal kenaikan harga BBM memicu pelaku pasar berasumsi sendiri soal inflasi. Oleh karena itu, dirinya tidak menampik rencana kenaikan BBM membuat anjlok transaksi obligasi sekitar 50%, “Semua ini tergantung pasar, karena rencana dua opsi kenaikan harga BBM akan mempengaruhi ke angka inflasi,”tandasnya.

Dia menuturkan, ketika kenaikan inflasi yang tajam, pelaku pasar berasumsi BI akan merubah suku bunga ini yang menjadi ekspetasi obligasi dalam tekanan. Kendatipun demikian, dirinya menegaskan, investasi itu tidak ada yang 100% aman. Bahkan investasi emas pun masih cukup beresiko karena sempat turun beberapa waktu lalu akibat sentimen ekonomi global.

Menurut Reza, yang harus dilakukan pelaku pasar adalah dengan intensif memantau bursa saham, jika terjadi sentimen positif barulah pelaku mengalihkan dana nya ke bursa, jika sentimen posiftif mulai bergeser ke negatif maka bisa dialihkan ke sektor lain. \"Misalnya deposito, valas atau kalau tidak mau pusing bisa ke reksadana,\"ujarnya.

Hitungan Chief Economist and Director for Investor Relation PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, jika harga BBM naik Rp 6.500 akan ada inflasi sebesar 6% sedangkan jika lebih dari Rp 6.500, akan lebih besar juga inflasinya, “Kenaikan bisa di atas 6% kalau harganya Rp 7.500, namun demikian investor asing melihat yang dilakukan BankIndonesia, kalau rupiah tetap membaik, asing pasti tetap masuk karena yield 5,4% per tahun bagi asing menarik berbeda dengan investor domestik yang menilai yield tersebut tidak menarik,”katanya.

Acuhkan Inflasi

Investor asing, lanjutnya, tidak melihat inflasi melainkan nominal yield ditambah apresiasi rupiah yang sangat mungkin dihasilkan bila subsidi BBM dipangkas. Adanya kemungkinan pengalihan portofolio investasi para investor ke instrumen lain juga sudah diantisipasi oleh Budi.

Dirinya menyarankan, sebagai antisipasinya investor perlu pengalihan ke sektor infrastruktur yang saat ini menurutnya tidak akan merugi. “Naiknya sekali saja dengan satu harga, perbankan Indonesia nantinya merespon mereka juga tidak akan menaikkan bunga, ini akan sangat berpengaruh terhadap ekonomi kita,”jelasnya.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen pernah bilang, peringkat surat utang pemerintah Indonesia di level layak investasi atau investment grade akan memberikan sentimen positif untuk penawaran obligasi korporasi domestik. Sehingga penawaran obligasi sendiri diproyeksikan masih akan semarak di 2013.

Untuk prospek penerbitan obligasi sendiri, BEI memperkirakan nilai emisi penerbitan obligasi korporasi tahun ini dapat mencapai Rp50 triliun. Adapun total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat di BEI adalah berjumlah 219 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp200,3 triliun dan US$100 juta yang diterbitkan oleh 92 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 90 seri dengan nilai nominal Rp859,2 triliun dan lima EBA sebanyak Rp1,8 triliun. lia/nurul/slyke/bani

Related posts