Hadapi AEC 2015, SBY Bikin Komite Khusus - Perdagangan Bebas Antar Negara ASEAN

NERACA

Jakarta - Banyak yang menilai bahwa Indonesia belum siap dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015. Sebab, daya saing baik produk maupun Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih kalah bersaing dengan produk impor lainnya. Dikhawatirkan, dengan dilaksanakannya AEC, maka akan mematikan produk-produk Indonesia.

Namun begitu, Pemerintah Indonesia memandang serius dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara Asean tersebut. Salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah adalah membentuk komite khusus. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di Acara Indonesian Young Leaders Forum HIPMI di Jakarta, Kamis (18/4) menyebutkan bahwa pemerintah akan buat komite khusus untuk persiapan menyambut AEC 2015. \"Kita akan membuat komite nasional yang khusus menangani persiapan menghadapi AEC 2015,\" kata SBY.

Ia menjelaskan anggota dari komite nasional tersebut berisikan dari pihak Pemerintah, Pengusaha, Gubernur, dan Pengamat ekonomi. \"Tugas dari komite tersebut adalah untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan persiapan Indonesia dalam menghadapi AEC,\" katanya.

SBY menyadari bahwa waktu yang tersisa dalam menghadapi AEC tinggal 1,5 tahun, namun itu bukanlah menjadi masalah jika mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik pengusaha dan masyarakat. \"Jangan hanya pemerintah saja yang bekerja keras agar siap menghadapi AEC, tapi juga butuh dukungan dan kesiapan dari pengusaha dan masyarakat,\" ujarnya.

Terkait dengan peluang Indonesia dalam menghadapi AEC, menurut SBY, peluang Indonesia sangat besar lantaran memiliki modal dasar yaitu Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA) dan pengalaman menghadapi krisis. \"Dari beberapa studi menjelaskan bahwa untuk kedepannya kelas midle class Indonesia akan tumbuh. Pada tahun lalu kelas menengah mencapai 45 juta orang, pada 2030 diperkirakan mencapai 130 juta.

Sementara itu, lanjut dia, peluang investasi juga cukup besar. SBY memaparkan pada 2012, nilai investasi mencapai US$500 miliar, diperkirakan pada 2030 nilai investasi mencapai US$1,8 triliun. \"Ini adalah peluang yang cukup besar untuk dimanfaatkan oleh Indonesia. Kita sudah punya modal besar, sudah saatnya untuk memanfaatkannya semaksimal mungkin, katanya.

Sejumlah Tantangan

Tidak hanya peluang yang dimiliki oleh Indonesia, kata SBY, Indonesia juga mempunyai tantangan yang harus segera diselesaikan dengan baik. Tantangan tersebut, menurut SBY antara lain SDM yang tingkat pendidikannya masih kurang, SDA yang harus bisa bernilai tinggi, logistik nasional yang perlu dibenahi, infrastruktur dan konektifitas yang harus dibangun, iklim bisnis yang harus didukung untuk menaikkan daya saing, akses otonomi daerah yang harus ditata, perbankan yang masih kurang efisien dan masalah daya saing. \"Pilihannya adalah mau jadi macan kandang atau jadi macan Asean. Tentunya kita harus atasi masalah-masalah tersebut sehingga bisa menang,\" tambahnya.

Ia pun juga meminta agar masyarakat terutama dunia usaha tidak banyak mengeluh dalam menghadapi AEC yang akan dilaksanakan pada 2015. \"Jangan mengeluh dengan AEC, stop mengeluh. Karena diputuskannya saja di Indonesia (Bali) pada 2003 oleh presiden Megawati, saya ingat,\" ujarnya.

SBY menuturkan, AEC merupakan kesepakatan bersama dan lebih spesifik. SBY mengimbau agar Indonesia lebih baik bersiap-siap daripada mengeluh. Apalagi, lanjut dia, waktu pelaksanaan AEC tinggal 1,5 tahun lagi. Sehingga, Indonesia haus siap-siap menyambut AEC 2015. Presiden juga berpesan agar para pengusaha tidak takut menghadapi persaingan. \"Jangan takut dan jangan gamang, Insya Allah kita bisa. Kita pernah diuji krisis 2008 dan lulus serta survive. Ekonomi pun sejak itu tumbuh. Jadi, mari jangan skeptis dan mulai optimis, yang penting optimisme ini bukan optimisme kosong,\" pungkas SBY.

Harus Mampu

Di tempat yang sama, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Raja Sapta Oktohari Ketua HIPMI, Raja Sapta Oktohari mengatakan pengusaha muda harus mampu menghadapi Asean Economic Community pada 2015. Pengusaha muda yang diingatkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penjaga stabilitas ekonomi diharapkan dapat dijalankan baik oleh para pengusaha. Sehingga Indonesia diharapkan dapat menjaga stabilitas perekonomian dalam membentuk Asean Economic Community.

Untuk menghadapi hal tersebut, Raja mengatakan, pihaknya akan membangun kerja sama dengan pemerintah. \"Kami menyadari stabilitas ini. Ajang kompetisi nampaknya menjadi market leader. Kita berperan untuk itu menjalin kerja sama dengan pemerintah agar satu tim menyusun persamaan persepsi pengusaha dan pemerintah,\" ujar Raja.

Lebih lanjut Raja mengatakan, Indonesia memiliki potensi yaitu penyumbang 40% Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan penduduknya tertinggi nomor dua di dunia. Dengan potensi tersebut diharapkan pengusaha muda Indonesia dapat menjadi pemain global.

Related posts