PLTN Bisa Ancam Keamanan Energi - Kontroversi Nuklir untuk Produksi Listrik

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai jika pemerintah berani membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) maka yang terancam adalah keamanan energi nasional.

\"Kalau Indonesia bernait membangun PLTN maka efeknya akan banyak sekali bahkan kalau terjadi masalah dengan PLTN maka keamanan energi jadi terancam,\" ungkap Fabby di Jakarta, Rabu (17/4).

Menurut dia, hal itu yang terjadi di Jepang saat terjadi ledakan di Fukushima. Bagusnya, kata Fabby, pemerintah Jepang secara cepat melakukan tindakan terhadap kejadian tersebut. Ia menjelaskan dalam draft Kebijakan Energi Nasional (KEN) ada opsi untuk memanfaatkan nuklir untuk menjadi energi dikala energi fosil telah habis dan gagal dikembangkan. \"Saat ini, hanya ada 52 PLTN namun hanya 2 yang aktif. Bahkan Jerman yang mempunyai teknologi handal telah menutup PLTN,\" katanya.

Sementara itu, pemerintah memastikan akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Balikpapan, Kalimantan Timur dan saat ini masih dilakukan study kelayakan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). \"Dipilihnya Kalimantan Timur untuk mengembangkan PLTN, karena aman. Tak ada patahan gempa di lokasi tersebut, Bapeten masih melakukan pengawasan, termasuk jika proyek tersebut jalan,\" kata Kepala Bapeten Muhammad Dani.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta justru mendukung dibangunnya PLTN di Indonesia. Menurut dia, PLTN bisa mengurangi efek rumah kaca. \"Itu sesuai dengan program pemerintah dan direncanakan pada 2020,\" kata Hatta.

Menurut Hatta, PLTN menjadi solusi ketersediaan energi listrik nasional. Ia menjelaskan bahwa satu gramnya bisa menghasilkan satu megawatt (listrik) untuk siang dan malam. Pembangunan PLTN, kata Hatta, juga bisa menekan efek rumah kaca yang selama ini dihasilkan lewat pembangkit listrik yang menggunakan minyak bumi. \"Tapi efek rumah kaca yang paling besar memang dihasilkan oleh deforestation,\" ujar Hatta.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto mengakui banyak wilayah di Indonesia yang kondisinya stabil sehingga cocok untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). \"Tidak semua wilayah di Indonesia berada di daerah cincin api yang rentan terhadap gempa dan tsunami. Sebaliknya malah banyak daerah tersebut yang cukup stabil dan cocok untuk berdirinya sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN),\" katanya.

Wilayah nusantara memang banyak yang dilewati ring of fire atau cincin api seperti di barat Sumatera atau di selatan Jawa, tapi banyak juga lokasi yang tak terpengaruh oleh cincin api itu dan cukup stabil. Saat ini pihaknya masih mengkaji Pulau Bangka di timur Sumatera yang dinilai sebagai salah satu wilayah yang cukup stabil. Pengkajiannya masih berjalan dan dijadwalkan baru selesai pada akhir 2013.

Kalimantan dan banyak wilayah lain, diakui juga sangat stabil namun PLTN dengan kemampuannya membangkitkan energi rata-rata 1.000 MW per unit hanya dipasang di wilayah yang masyarakatnya membutuhkan listrik skala besar seperti Jawa-Sumatera. Selama bertahun-tahun Indonesia merdeka, baru memiliki energi listrik 35 ribu MW. Padahal pada 2025 Indonesia dituntut memiliki energi listrik berkapasitas 115 ribu MW. \"Dari manakah selisih sebesar ini didapatkan? Tidak mungkin hanya mengandalkan energi fosil, apalagi energi alternatif seperti energi surya dan angin,\" katanya.

Didukung Rusia

Sebelumnya, Rusia tengah mempromosikan kerjasama dalam pengembangan teknologi nuklir untuk damai di Indonesia. Y.N. Busurin, Kepala Departemen Infrastuktur Nuklir Rusia, mengatakan kegiatan rusia di bidang nuklir sudah berpengalaman selama lebih dari 65 tahun. Kegiatan nuklir Rusia berada di bawah naungan lembaga yang bernama Rosatom, yang merupakan pemain utama di pasar nuklir dunia ini sudah berada di lebih 40 negara dari 5 benua.

\"Kami tengah menawarkan Indonesia dan saling berdiskusi dalam mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai dalam jangka panjang. Bentuk kerjasama, proyek dan besarnya investasi tergantung permintaan pemerintah Indonesia nantinya,\" ujarnya.

Menurutnya, Rosatom memiliki penyajian terpadu dan solusi lengkap dalam kerjasama teknologi basis nuklir yang paling aman. Rosatom menduduki posisi pertama dalam pengayaan uranium dan dalam membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). \"Kami siap menolong rekan di negara lain dalam bidang ilmu pengetahuan. Kami punya bahan bakar dan program-program anti teror dan proteksi anti militer,\" jelasnya.

Rusia memiliki potensi teknologi nuklir yang baik mulai dari univesritas hingga para ilmuwannya. Populasi Rusia yang berjumlah sekitar 140 juta jiwa, lanjutnya, memiliki sebanyak 250.000 ahli nuklir, dan sebanyak 2 juta orang yang memiliki kaitan dengan permasalahan hal-hal nuklir rusia.

Teknologi nuklir Rosatom yang diimbangi dengan VVER Gen 3+ safety systems, kata Busurin, merupakan teknolgoi paling canggih dari segi kemanaan, teknis, maupun perekenonomian. Teknologi tersebut dapat menahan dari adanya bencana ataupun kecelakan. \"Contohnya di Armenia semua kota rusak akibat gempa bumi 6 skala richter, tapi stasiunnya tetap tahan. Rosatom juga dapat menjaga dari kecelakaan pesawat seperti boeing 777 waktu lalu,\" ujarnya.

Related posts