Mendag Usul Pelabuhan Impor Ada di Papua - Tekan Biaya Logistik

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengusulkan agar pemerintah bisa membangun pelabuhan khusus impor di Papua. Hal itu dinilai penting lantaran mahalnya biaya logitistik menuju Indonesia Timur. Dengan adanya pelabuhan khusus impor di Papua, maka diperkirakan harga barang yang beredar bisa lebih ditekan.

\"Gimana kalau dibangun pelabuhan transhipment saja di wilayah Timur di Sorong. Agar kedatangan barang-barang di seluruh dunia itu masuk ke timur, misalnya kita bangun di Sorong,\" katanya di Jakarta, Rabu (10/4).

Menurut dia, kehadiran pelabuhan tersebut bisa menjadi pintu masuk barang-barang impor. Hal tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Menurut Gita, dengan masuknya barang dari timur akan ada keseimbangan pada perdagangan dalam negeri. \"Agar nanti perdagangannya dari timur ke barat dan dari barat pasti akan membawa barang yang sangat dibutuhkan kawan-kawan kita di sebelah timur,\" jelasnya.

Hadirnya pelabuhan di Indonesia Timur, lanjut Gita, dapat mengatasi biaya logistik yang terlalu mahal dan juga dapat mengatasi disparitas harga yang sering terjadi. Namun begitu, Gita menyatakan persoalan ini sangatlah tidak mudah, posisinya sebagai Menteri Perdagangan, tidak cukup kuat untuk melakukan inisiasi. \"Tapi nggak bisa segampang gitu, harus secara bersama dan memerlukan biaya, tentunya ini diluar poksi kementerian perdagangan yang hanya bisa ngurusin masalah bawang,\" ujarnya.

Tidak hanya membuat pelabuhan impor di Papua, akan tetapi para pelaku usaha juga diminta untuk menggunakan kapal berbendera Indonesia. Karena, nantinya kapal berbendera merah putih tersebut untuk mengangkut kargonya melalui penerapan sistem Cost, Insurance and Freight (CIF), bukan lagi Free On Board (FOB). \"Saat inikan masih Free On Board, kita ingin sistem cost-nya Insurance and Freight, dengan sistem ini diharap lebih baik,\" ujarnya.

Gita menjelaskan, adanya hal tersebut, Industri pelayaran memiliki peluang yang lebih besar dalam berkontribusi didunia ekspor sekaligus dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. \"Tak ada alasan untuk kita tidak memakai kapal yang berbendera merah putih, ini kepentingannya mulia sekali, tapi secara bangsa dan negara,\" tukas dia. Dengan demikian, jika ini berjalan maka hal tersebut bisa menekan pada biaya logistik kita yang saat ini cukup tinggi yang mencapai 24,64% dari PDB Indonesia atau sebesar Rp1.800 triliun.

Biaya Logistik Tinggi

Gita juga memaparkan bahwa biaya logistik di Indonesia merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya. \"Biaya logistik Indonesia sangat tinggi, sekitar 24,6% dari pendapatan domestik bruto (PDB),\" katanya.

Dia mengatakan, biaya logistik negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Singapura, dan negara-negara Eropa hanya berkisar pada angka delapan hingga 11 persen. \"Memang biaya logistik di Indonesia sudah menurun, namun jika dilihat dari segi persentase maka terlihat masih terlalu tinggi,\" kata Gita.

Gita mengatakan, biaya logistik yang tinggi tersebut harus diturunkan, namun memang perlu waktu dan kesabaran karena diperlukan pembangunan infrastruktur serta pendanaan dalam waktu beberapa tahun kedepan Menurut Gita, pada tahun 2015 nanti akan mulai diterapkan masyarakat ekonomi ASEAN (AEC), dan kita harus menyikapi dengan meningkatkan daya saing produk-produk buatan Indonesia. \"Ini memang agak mengkhawatirkan, karena neraca perdagangan kita dengan negara-negara ASEAN sudah mengalami defisit,\" tambah Gita. Untuk menghadapi hal tersebut, lanjut Gita, memerlukan kerja keras bukan hanya dari sisi produsen, namun juga dari para pelaku jasa logistik yang bertugas untuk melakukan ekspor produk-produk Indonesia keluar negeri.

Pengamat Transportasi Yamin Jingca menjelaskan bahwa biaya logistik yang mahal jelas berdampak pada perekonomian di Indonesia. \"Dampak paling nyata adalah perbedaan harga yang cukup signifikan antara di Pulau Jawa dan wilayah timur Indonesia,\" katanya.

Menurut Yamin, di Maluku, Kalimantan, dan Papua, kisaran harga produk pertanian, industri, energi, peternakan, dan jasa 25-80% lebih tinggi. Di daerah tertentu bahkan harga satu sak semen bisa mencapai Rp1,5 juta. \"Itu karena semen harus diangkut menggunakan transportasi udara,\" ujar Yamin.

Menurut Yamin, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi cost total produksi. Pertama, menghubungkan pelabuhan di barat dan timur Indonesia. Perlu pula diseimbangkan muatan kapal saat berangkat dan pulang ke pelabuhan asal. \"Pertumbuhan ekonomi Barat dan Timur sangat berbeda. Kapal sesak mengangkut muatan ketika menuju daerah Timur, tapi kosong begitu pulang. Kalau balance antara Barat dan Timur, pasti sangat bagus,\" terang Yamin.

Seharusnya, menurut Yamin, ketika kapal akan pulang, ada muatan lain yang bisa dibawa kapal tersebut. \"Misalnya hasil bumi daerah itu,\" beber Yamin.

Dibanding negara ASEAN lainnya, potensi bisnis logistik di Indonesia dinilai paling tinggi. Sebagai negara kepulauan, maka kebutuhan logistik menjadi sangat tinggi. Ditambah dengan jumlah populasi 235 juta jiwa, yang sebagian besar membutuhkan jasa logistik. Tak heran, jika Indonesia jadi negara paling seksi sehingga banyak dilirik negara ASEAN lainnya, untuk dijadikan target pasar.

Related posts