Mencermati Cadangan Devisa

Oleh : Prof. Firmanzah PhD

Staf Ahli Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Cadangan devisa dalam tiga bulan terakhir menunjukkan pergerakan yang perlu kita cermati bersama. Hal ini disebabkan, cadangan devisa mencerminkan kinerja ekonomi di sektor riil dan merupakan salah satu aspek fundamental ekonomi yang sangat penting. Terjaganya cadangan devisa berarti kemampuan suatu negara dalam menjamin amannya pembayaran perdagangan internasional dan hutang luar negeri akan semakin meningkat. Cadangan devisa yang kuat juga membantu dalam pembiayaan misi luar negeri seperti biaya kedutaan, misi budaya dan pendidikan, perjalanan dinas serta berfungsi juga sebagai salah satu sumber pendapatan negara.

Pada akhir Desember 2012, menurut BI, cadangan devisa Indonesia tercatat US$ 112,78 miliar. Namun pada akhir Januari 2013 berkurang US$ 4 miliar menjadi US$ 108,78 miliar. Jumlah ini setara dengan pembayaran 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan masih diatas standar kecukupan internasional.

Menurut IMF cadangan devisa tergolong aman ketika mampu membiayai impor selama 3-4 bulan. Kemudian pada akhir Februari 2013, cadangan devisa kembali berkurang sebesar US$ 3,58 miliar dan menjadi US$ 105,2 miliar. Meski masih relatif aman, namun tren penurunan perlu kita cermati bersama dan segera kita kembalikan ke tren yang lebih positif.

Salah satu penyebab berkurangnya cadangan devisa adalah penggunaan untuk operasai stabilisasi nilai tukar rupiah. Seperti kita ketahui bersama, selama beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami tekanan dan terdepresiasi terutama terhadap mata uang US$. Likuiditas pasar valas mengalami tekanan akibat tingginya permintaan valas. BPS mencatat defisit neraca perdagangan Januari 2013 mencapai US$171 juta atau setara Rp 1,64 triliun dengan kurs Rp 9.600 per US$. Impor Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor kita yang membuat tertekannya nilai tukar dan defisit neraca perdagangan. Kedua hal ini tentunya memberikan tekanan terhadap cadangan devisa nasional.

Dari sisi menggenjot ekspor non migas, di tengah pelemahan permintaan dunia terhadap komoditas nasional, pemerintah terus berupaya mencari peluang pasar ekspor non tradisional. Sejumlah kawasan seperti Amerika Latin dan Afrika menjadi fokus pasar ekspor alternatif. Selain itu juga, upaya menarik kunjungan wisman asing di sektor pariwisata juga terus ditingkatkan. Baru-baru ini promosi pariwisata Indonesia di Eropa dilakukan pada pameran pariwisata terbesar dunia yaitu Internationale Tourismus-Bourse (ITB) di Berlin-Jerman. Sementara itu, pengendalian penggunaan BBM bersubsidi juga dilakukan untuk menekan impor migas yang pada Januari 2013 mengalami defisit sebesar US$ 1,4 miliar.

Namun dengan semakin membaiknya pasar modal dan keuangan, sentimen positif terhadap membaiknya pasar valas di Indonesia memberikan angin segar kepada kita semua. Bank Indonesia mencatat terdapat aliran modal asing sekitar US$ 2,3 miliar. IHSG Indonesia dalam beberapa waktu terakhir juga menunjukkan tren penguatan yang sangat signifikan. Tentunya kita berharap bahwa cadangan devisa kita dapat terkelola dengan baik dan ditopang oleh kinerja sektor riil yang semakin meningkat. Sehingga, fundamental ekonomi tetap terjaga dan stabilitas makroekonomi semakin meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi, terutama sektor riil dan infrastruktur di Indonesia.

Related posts