Pemulihan Ekonomi Dunia Jadi Mimpi Buruk IHSG - KASUS GAGAL BAYAR AS JADI "BIANG KEROK"

Jakarta – Kabar bakal terjadinya keterlambatan pemulihan ekonomi global sebagai dampak dari kegagalan pemerintah Amerika Serikat membayar bunga obligasi jatuh tempo terhadap kreditur China, ternyata memberikan mimpi buruk bagi industri pasar modal di dalam negeri. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kemarin (13/6) mengalami penurunan yang lumayan besar.

NERACA

Bagaimana tidak, khawatiran tersebut mulai merambah pelaku pasar modal yang mulai bersikap ambil untung dari potensi risiko lebih besar lagi. Tercatat, perdagangan pasar saham dalam negeri kemarin, hampir semuanya melorot dan termasuk saham-saham bluechips atau saham-saham LQ-45 yang terkoreksi 6,861 poin (1,02%) ke level 663,205 pada akhir perdagangan awal pekan.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAE) Haryajid Ramelan, terkoreksinya indeks dalam negeri yang cukup dalam hingga merambah saham-saham unggulan menjadi pemicu investor melakukan aksi profit taking. “Saham-saham blue chips sedang mengalami reses akibat pengaruh global yang menyebabkan terjadinya fluktuasi saham di dalam negeri,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (13/6).

Menurut dia, sentimen negatif global ini masih akan terus berlangsung pengaruhya ke dalam negeri. Oleh karena itu, investor harus bisa mewaspadai dengan cermat kondisi tiap menit dan detik.

Haryajid mengatakan, langkah yang harus dilakukan investor saat ini adalah mengoleksi terhadap saham-saham yang sedang berguguran dan kemudian diakumulasi dengan baik. Hal senada juga disampaikan analis Samuel Sekuritas Chistine Salim, pelemahan indeks sebagai respon negatif dari penurunan bursa global. "IHSG dibuka melemah dan cenderung turun mengikuti sentimen dari penurunan bursa global," katanya kemarin.

Dia menambahkan, indeks dalam negeri masih cenderung mengikuti pergerakkan bursa global dikarenakan masih minimnya sentimen negatif. Ini berasal dari bursa AS dan Eropa memberi dampak yang kurang baik sehingga bursa Asia juga turut bergerak melemah.

Di luar negeri, terlihat beberapa bursa Asia yang dibuka melemah. Adalah Bursa Jepang disebabkan oleh turunnya "Factory orders" sebanyak 3,3% disertai dengan GDP (gross domestic product) Jepang yang juga turun menjadi 3,5% pada kuartal pertama 2011.

Sementara Managing Research Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menambahkan, minimnya sentimen positif serta bursa global yang mengalami profit taking memberi dampak negatif bagi indeks dalam negeri.

Regional Tertekan

Bursa regional bergerak tertekan diantaranya Indeks Hang Seng melemah 145,38 poin (0,65%) ke level 22.272,22, Nikkei-225 turun 73,10 poin (0,77%) ke level 9.441,34, dan Indeks Straits Times melemah 16,62 poin (0,52%) ke level 3.062,25.

Menurut Reza, suku bunga acuan (BI Rate) yang tetap sebesar 6,75% belum memberikan sentimen positif pada perdagangan indeks saham dalam negeri. Namun, menurut dia, secara teknikal IHSG dapat kembali menguat (rebound) setelah mengalami "rally" koreksi pada pekan lalu.

Analis Trimegah Securities Avi Dwipayana menyampaikan, satu bulan terakhir ini memang bulan yang jelek untuk Indonesia, akibat efek terjadinya goncangan di Asia ini membawa pengaruh yang sangat signifikan buat Indonesia. “Secara otomatis saham -saham yang ada juga mengikuti dengan perkembangan Global dan ini juga ada pengaruh dari obligasi di Eropa yang saat ini mengalami penurunan yang tajam,” tegasnya.

Namun yang lebih penting, gagal bayarnya Amerika kepada China menjadi biang kerok terhadap kondisi ekonomi dunia.Dirinya memprediksikan, kondisi IHSG akan terus terkoreksi sampai akhir bulan ini. Maka untuk menyikapi itu, investor dianjurkan untuk bermain jangka panjang.

Kemudian VP Research and Analyst PT Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere memiliki kenyakinan, bila IHSG bakal tembus level 4.200-4.500 akhir tahun ini. Beberapa faktor pendorong diantaranya harga-harga komoditas dan naiknya pendapatan masyarakat. "Saya kira berada di 4.200-4.500. Ini bisa terjadi kalau stimulus yang di luar negeri ditunda dan tidak dilakukan sebelum kuartal empat,”ujarnya.

Kemudian, lanjut Nico, saham blue chips masih menjadi penggerak IHSG dalam mencapai target tersebut, dibantu oleh saham lapis kedua atau second liner. "Banyak saham blue chips yang sudah dirasa mahal, pelaku pasar pun switching ke second liner. Jadi ini masih menjanjikan, baik itu sektor konsumsi, multifinance, dan asuransi. Karena memang masih murah harganya," tegas Nico.

Selama ini pasar modal dalam negeri banyak dimainkan oleh investor asing, yang menurut Nico ini sangat bahaya. Pasalnya, dengan banyaknya dana asing yang masuk, maka pasar modal Indonesia lebih rentan akibat dikendalikan pemodal asing.

"Ini pekerjaan bagi semua stakeholders, investasi di Indonesia khususnya di ritel itu masih sangat sedikit. Berdasarkan data terakhir, account yang di Indonesia cuma 340-360 ribu. Sebetulnya Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, minimum 5% investasi di bursa," tambahnya. iwan/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Bali Masuk dalam Daftar 10 Water Park Terpopuler Dunia

Taman bermain air atau water park, kerap menjadi pilihan masyarakat saat berwisata. Selain faktor keamanan yang terjamin, water park bisa…

Situs Gunung Padang, Misteri Pengubah Sejarah Dunia

Situs Gunung Padang digadang-gadang sebagai salah situs tertua di dunia. Situs berusia 10 ribu tahun ini disebut semasa dengan situs…

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Himperra) Endang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

MASALAH KEPATUHAN WP DIPERTANYAKAN - Kontribusi Pajak Orang Kaya Masih Minim

Jakarta-Pengamat perpajakan menilai, meski nilai harta orang terkaya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan data majalah Forbes…

BSSN: Jelang Pemilu 2019, Serangan Siber Meningkat Pesat

NERACA Jakarta-Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memprediksi ada tiga pola serangan siber yang berpotensi mengganggu jalannya proses Pilpres 2019.…

DINILAI MELANGGAR UU MINERBA - Iress Tolak Revisi PP 23/2010

Jakarta-Indonesian Resources Studies (Iress) menolak rencana pemerintah kembali merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan…