Januari, Defisit Perdagangan US$171 Juta - Impor Melejit, Ekspor Melemah

NERACA

Jakarta - Rupanya Indonesia masih belum bisa keluar dari ketergantungan terhadap barang-barang impor. Lihat saja berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Januari 2013 menyebutkan nilai ekspor Indonesia mencapai US$15,38 miliar sedangkan impor mencapai US$15,55 miliar sehingga terjadi defisit neraca perdagangan luar negeri sekitar US$171 juta.

"Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 15,38 miliar atau turun 1,24% dibandingkan pada Januari 2012. Hal ini dikarenakan turunnya ekspor migas yang mencapai 11,87% atau dari US$ 2,79 miliar menjadi US$ 2,61 miliar. Sementara untuk impor dicatat mencapai US$ 15,55 miliar," kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bila dibandingkan dengan Januari 2012, kata Suryamin, nilai ekspor mengalami penurunan. Hal itu disebabkan menurunnya ekspor migas sebesar 11,87%, yaitu dari US$2,96 miliar menjadi US$2,61 miliar. "Penurunan ekspor migas disebabkan oleh turunnya ekspor minyak mentah sebesar 43,41% menjadi US$631,7 juta," kata dia.

Sebaliknya, ekspor nonmigas pada Januari 2013 naik sebesar 2,69%, dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$12,42 miliar menjadi US$12,76 miliar. "Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Januari 2013, terjadi pada lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar US$311,7 juta. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bahan mineral sebesar US$141,8 juta," ujar Suryamin.

Ekspor nonmigas terbesar pada Januari adalah ke China, nilainya mencapai US$1,49 miliar. Disusul ekspor non migas ke Jepang dengan nilai US$1,40 miliar dan India senilai US$1,32 miliar. Kontribusi ketiganya mencapai 32,94%. Sedangkan ekspor ke Uni Eropa nilainya sebesar US$1,45 miliar.

Ekspor hasil industri pada Januari 2013, naik sebesar 4,18% dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Demikian juga ekspor hasil pertanian, naik 7,29%. Sedangkan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 3,25%.

Di sisi lain, impor di Januari 2013 nilainya mencapai US$15,55 miliar atau turun 0,22% dibanding impor Desember 2012, yang besarnya US$15,58 miliar. Namun, jika dibandingkan impor Januari 2012 sebesar US$14,55 miliar, nilainya naik 6,28%.

Impor nonmigas pada Januari 2013, nilainya mencapai US$11,51 miliar, turun 3,11% dibanding Desember 2012 yang sebesar US$11,88 miliar. "Sedangkan dibandingkan dengan capaian Januari 2012, yang US$11,54 miliar, impor nonmigas ini mengalami penurunan 0,24%," kata suryamin.

Suryamin menambahkan, impor migas pada Januari 2013 nilainya mencapai US$4,04 miliar atau naik 9,04% dibanding Desember 2012 yang sebesar US$3,71 miliar. Namun, angka impor migas mengalami peningkatan 33,82% jika dibanding Januari 2012 (US$3,02 miliar).

"Untuk nilai impor golongan bahan baku maupun penolong selama Januari 2013 mengalami peningkatan 14,68%, dibanding impor bulan yang sama di tahun sebelumnya. Sedangkan untuk golongan barang konsumsi dan barang modal mengalami penurunan masing-masing sebesar 16,44% dan 12,10%," tuturnya.

Turunkan Kepercayaan

Defisit neraca perdagangan yang selalu terjadi sejak 4 tahun kebelakang dikhawatirkan akan menurunkan tingkat kepercayaan pelaku pasar. "Neraca perdagangan yang defisit tidak ada plusnya, yang ada minus karena akan menurunkan kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia," kata pengamat ekonomi Ryan Kiryanto.

Menurut dia, turunnya tingkat kepercayaan pelaku pasar tersebut akan mendorong pada efek ikutan yang lebih luas. Ia mencontohkan, dalam tataran yang lebih luas, neraca perdagangan yang defisit pada dasarnya berbahaya lantaran menggerogoti fundamental ekonomi. "Kondisi ini juga memperlemah nilai tukar rupiah," katanya.

Untuk itu, ia meminta pemerintah untuk mendorong ekspor sebesar-besarnya melalui diversifikasi produk dan negara tujuan ekspor. "Itu juga berarti bahwa pemerintah harus menekan impor serendah-rendahnya," katanya. Ryan juga menyarankan agar pemerintah mengupayakan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong di dalam negeri untuk merespon banjirnya investasi langsung ke Indonesia.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengungkapkan defisit neraca perdagangan masih muncul pada tahun ini karena pertumbuhan impor diperkirakan lebih tinggi dari pertumbuhan ekspor.

Dia memperkirakan pertumbuhan impor tahun ini sebesar 9,24%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan pertumbuhan ekspor yang sebesar 9,22%. “Meskipun kinerja ekspor mengalami perbaikan dibandingkan dengan 2012, tetapi karena impornya tumbuh lebih tinggi maka neraca perdagangan 2013 masih tetap defisit meskipun proporsi dan jumlahnya semakin mengecil,” katanya.

Menurut diaa, terdapat 2 faktor utama yang menyokong pertumbuhan kinerja impor dalam negeri, yaitu tingginya impor barang modal dan bahan baku/penolong dan tingginya impor di sektor migas. Tingginya impor tersebut, lanjutnya, merupakan konsekuensi dari tingginya realisasi investasi.

Related posts