Askrindo Minta Tenggat Waktu Ketersediaan Aktuaria

Rabu, 06/02/2013

NERACA

Jakarta - PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) mengusulkan adanya pemberian tenggat waktu bagi perusahaan asuransi dalam menyediakan tenaga ahli aktuaria sebagaimana tercantum dalam RUU Usaha Perasuransian. "Tenaga ahli aktuaria yang ada saat ini sangat kurang sekali, oleh karena itu kami meminta tenggat waktu, kalau memang aturan itu nanti diterapkan," kata Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum PT Askrindo, Singgih Hardjanto, saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Selasa.

Singgih mengatakan, tenaga ahli asuransi memang sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan asuransi, namun lulusan ahli aktuaria jumlahnya masih sangat terbatas. "Mungkin sekolahnya rumit sekali ya?" celoteh dia. Askrindo sendiri saat ini memiliki empat tenaga ahli aktuaria dan 50 ajun ahli asuransi.

Tenaga ahli aktuaria merupakan syarat untuk mendirikan perusahan asuransi sedangkan ajun ahli asuransi untuk pendirian kantor cabang. Dalam RUU Usaha Perasuransian, setiap perusahaan harus melibatkan komite pengarah pengembangan produk untuk pemasaran produk asuransi yang salah satu anggota komite tersebut yakni tenaga ahli aktuaria atau aktuaris ahli.

Aktuaria sendiri adalah salah satu cabang ilmu yang bersifat multidisiplin ilmu yang menggunakan prinsip-prinsip yang ada pada statistika dan juga matematika dalam rangka memperkirakan, mengkalkulasi, membuat suatu perencanaan, model dan gambaran tentang prinsip-prinsip yang berlaku pada dunia asuransi, dana pensiun, dan keuangan pada umumnya.

Sebelumnya, Industri asuransi Indonesia membutuhkan sekitar 500-600 aktuaris pada 2016 mendatang mengingat pertumbuhannya antara 20%-30% dalam lima tahun terakhir. Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), Budi Tampubolon, menuturkan saat ini aktuaris di Indonesia berjumlah 178. Ini jelas belum memenuhi kuota minimal yang diperkirakan 500 hingga 600 aktuaris," kata dia, belum lama ini.

Menurut Budi, pertumbuhan asuransi Indonesia sekitar 30% tersebut ternyata belum diimbangi dengan jumlah sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki keahlian aktuaria yang memadai. "Ahli aktuaria memiliki kemampuan teknis antara lain dalam perancangan produk dan analisa risiko pada asuransi serta investasi yang sangat dibutuhkan dalam perusahaan asuransi," terangnya.

Dia juga memaparkan, pengetahuan standar yang dinilai perlu dikuasai oleh seorang aktuaris tercermin dalam kurikulum dan silabus ujian profesi aktuaris dan pendidikan profesionalisme aktuaris. "Seseorang dinyatakan sebagai aktuaris harus lulus dari ujian profesi yang berjumlah 10 dengan rata-rata membutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 tahun,” tambah dia.

Kesepuluh ujian tersebut, imbuh Budi, meliputi probabilitas statistik, dasar ekonomi, pengantar akuntansi, teori risiko, matematika aktuaria, modal statistika, investasi, manajemen aktuaria, dan aspek asuransi jiwa.

Setelah lulus seluruh modul ujian tersebut, lanjut dia, berhak mendapatkan gelar Aktuaris atau Fellow of the Society of Actuaries of Indonesia (FSAI). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 53/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan, maka perusahaan asuransi umum diwajibkan memiliki tenaga aktuaris.

"Asuransi umum atau asuransi kerugian setidak-tidaknya harus punya satu tenaga aktuaris, sedangkan jumlahnya itu ada 90 perusahaan. Sementara itu, perusahaan asuransi jiwa berjumlah 46 dan sudah menyedot dua per tiga aktuaris indonesia karena dibanyak tempat ada 7 hingga 10 ahli aktuaria di satu perusahaan," tukasnya. [ardi]