Penjualan Susu Olahan Ditaksir Meningkat 10% - Permintaan Pasar Naik

NERACA

Jakarta - Industri pengolahan susu belakangan ini sedang mengalami peningkatan penjualan. Pasalnya permintaan susu pengolahan mengalami peningkatan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Asosiasi Industri Pengolahan Susu (AIPS) memperkirakan penjualan susu olahan meningkat 10%.

"Permintaan yang besar terhadap produk olahan susu, membuat penjualan industri susu olahan pada 2013 bisa menyentuh Rp36,48 triliun, naik 10% dari realisasi penjualan tahun lalu,” kata Ketua Umum AIPS, Sabana Prawiradjaja, di Jakarta, Rabu (30/1).

Pertumbuhan konsumsi susu, menurut Sabana, didukung perbaikan daya beli masyarakat, seiring proyeksi pertumbuhan perekonomian Indonesia. “Meningkatnya kesadaran akan kesehatan mendorong konsumsi susu terus bertambah,” ujarnya.

Beberapa produsen susu olahan seperti PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menargetkan pertumbuhan penjualan 19,8% menjadi Rp3,24 triliun pada 2013. Kenaikan penjualan akan mendorong laba bersih Ultrajaya. Perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp261,1 miliar pada 2013, naik 34% dibanding proyeksi tahun lalu Rp194,7 miliar. Peningkatan penjualan ditopang penambahan kapasitas produksi pabrik sebesar 20-30% pada 2013.

Sedangkan PT Frisian Flag Indonesia memproyeksikan penjualan pada 2013 mencapai Rp9,4 triliun, naik 20% dibandingkan target penjualan tahun lalu sebesar Rp7,84 triliun. Kenaikan volume penjualan didukung kondisi ekonomi Indonesia yang baik dan pertumbuhan penduduk Indonesia.

Dapatkan Insentif

Sementara itu, dalam rangka meningkatkan investasi industri susu, pemerintah akan memberikan insentif untuk industri pengolahan susu. Insentif akan diberikan dalam revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang usaha tertentu. Menurut Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wahyudi, produksi industri pengolahan susu di Indonesia sangat jauh dari kebutuhan, sehingga harga susu pun menjadi naik.

Amandemen terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 yang memuat 15 industri yang mendapat fasilitas pajak seperti pengurangan penghasilan neto 30% dari jumlah investasi selama 6 tahun dengan masing-masing pengurangan 5% tiap tahunnya, akan dilakukan untuk disesuaikan dengan Undang-Undang Pasar Modal.

Harga susu pada awal tahun menyentuh US$ 4.000-5.000 per ton, sedangkan tahun lalu berkisar pada US$ 2.500 per ton. Dengan demikain diperkirakan harga susu akan terus naik. Selain insentif pajak, pemerintah memasukkan industri susu dalam daftar negatif investasi dengan kriteria usaha terbuka dengan persyaratan. Pembangunan pabrik susu mesti bergandengan dengan industri pengolahannya.

Kelahiran Bayi

Sementara itu, Direktur Eksekutif AIPS Syahlan Siregar mengatakan, selain kesejahteraan masyarakat yang semakin bagus, angka kelahiran bayi yang terus tumbuh juga menjadi faktor pendorong permintaan produk susu. Malah, "Tanpa promosi pun pertumbuhan penjualan natural susu mencapai sekitar 2,5% per tahun," kata Syahlan.

Saat ini tingkat konsumsi susu Indonesia secara nasional juga masih rendah, hanya 11 liter per kapita per tahun. Tentu angka ini jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand yang sudah di atas 20 liter per kapita per tahun.

Meski target penjualan susu terus tumbuh, bukan berarti industri pengolahan susu langsung duduk tenang. Justru perusahaan pengolahan susu tetap mewaspadai krisis global yang bisa berimbas ke perkembangan kurs dollar Amerika dan euro. Kalau kedua mata uang ini menguat, maka biaya produksi pengelolaan susu bakal naik.

Pasalnya, sekitar 75% kebutuhan susu untuk pasar lokal merupakan susu impor. Sedangkan bahan baku susu segar dalam negeri seluruhnya juga langsung diserap industri pengolahan susu.

Data AIPS menyebutkan, produksi susu segar nasional tahun 2012 diproyeksi hanya 25% dari total kebutuhan susu yang mencapai 3,5 juta ton. Alhasil impor susu sekitar 2,6 juta ton atau 75% dari kebutuhan nasional. Selain itu, industri olahan susu juga menghadapi hambatan biaya operasional yang relatif tinggi, lantaran upah minimum pekerja naik lebih tinggi dari angka inflasi. Untuk menaikkan harga jual pun bukan solusi bagus.

Untungnya, produk susu dari keenam perusahaan ini relatif gampang terjual di pasar lantaran sudah punya nama. Misalnya saja, PT Ultrajaya lebih mengandalkan produk susu cair yang di pasaran relatif laku. Sementara, Nestle Indonesia mengolah susu cair jadi produk susu bubuk. Produk Nestle ini juga menjadi salah satu produk susu terlaris. Adapun Indomilk mengandalkan susu bubuk, susu cair, dan susu kental manis.

BERITA TERKAIT

BI Perkirakan Anggaran Penerimaan Operasional Naik 7,9%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan anggaran penerimaan operasional meningkat 7,9 persen menjadi RpRp29,1 triliun pada…

Penjualan Fajar Surya Wisesa Tumbuh 50%

Hingga September 2018, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) membukukan penjualan bersih senilai Rp7,45 triliun atau meningkat 50% year on…

Volume Penjualan Indocement Capai 75,02%

NERACA Jakarta - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk optimistis dapat mencapai target volume penjualan pada 2018 sebesar 17,06 juta ton…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tampil dengan Warna Baru, Infinix HOT S3X Siap Goda Pengguna

NERACA Jakarta – Vendor smartphone terkemuka asal Hong Kong, Infinix, mengumumkan ketersediaan varian warna baru untuk produk andalannya, Infinix HOT…

Perkuat Ekspor Perikanan, KKP Benahi Pergudangan dan Logistik

NERACA Gorontalo - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP),  Rifky Efendi…

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…