Munculnya Flu Burung - Diduga Dari Keberadaan Itik Impor

Di Pulau Jawa, beberapa unggas ditemukan mati mendadak akibat virus H5NI. Kondisi ini diduga akibat keberadaan itik impor dari China.

NERACA

Kasus flu burung atau H5N1 yang sudah terjadi sejak tahun 2005 nampaknya belum berhenti hingga tahun 2012. Ini bisa dilihat Sekitar 50% populasi itik di Indonesia mati akibat terserang penyakit flu burung. Penyebaran virus H5NI yang terjadi dalam sepuluh hari terakhir ini diduga dari keberadaan itik impor.

Sedangkan data dari Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) menyebutkan, total populasi itik yang dipelihara peternak mencapai sebanyak 53 juta ekor. Sentra itik Indonesia terbanyak di sejumlah tempat antara lain Cirebon Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Kasus itik mati karena flu burung tersebar di beberapa daerah,’’ ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpuli, Ade M Zulkarnain.

Misalnya di Cirebon, Brebes, Pati, Mojokerto, Blitar, Tulungagung, dan Pasuruan. Bahkan, populasi itik di Pati, Jawa Tengah, mati sekitar 85% dari keseluruhan populasi. Sementara kasus kematian itik akibat flu burung di Kabupaten Sukabumi belum ditemukan.

"Serangan flu burung kali ini merupakan yang terganas dibandingkan sebelumnya. Terlebih, kasus kematian pada itik dalam jumlah besar baru terjadi dalam sebulan terakhir ini," jelas Ade.

Untuk itu, Direktur Riset dan Investigasi Lembaga Riset Indonesia Recoplan, Daniel Pago Sitohang, meminta kepada pemerintah agar lebih serius menangani virus mematikan ini. Pasalnya, selama ini pemerintah terkesan adem ayem menangani kasus flu burung."Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) harus bekerja lebih ekstra dalam menangani permasalahan tersebut," tuturnya.

Dia menyarankan agar pemerintah mensosialisasikan penanganan, dan pencegahan flu burung tetap berjalan. "Kemenkes harus berpikir bagaimana kasus flu burung jangan sampai terjadi di Indonesia," pungkas dia.

Sedangkan berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sepanjang 2012 ada delapan kasus flu burung yang berakhir dengan kematian. Jumlah itu paling tinggi dibandingkan dengan negara lain, seperti Banglades, Kamboja, China, Mesir, dan Vietnam. Sejak muncul kasus flu burung di Indonesia tahun 2005, total ada 159 kematian dari 191 kasus.”Sejauh ini virus tidak berbeda dengan virus sebelumnya,” kataDirektur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama

Memang, saat ini belum terjadi penularan flu burung dari manusia ke manusia. Penularan masih dari kontak penderita dengan hewan sumber walau tidak selalu terdeteksi.Penyebab kematian akibat keterlambatan mendapat pertolongan. Obat antiflu burung oseltamivir efektif jika diberikan dalam waktu 48 jam sejak gejala awal. ”Flu burung sulit dibedakan dengan flu biasa pada awalnya,” ujarnya. Tenaga kesehatan yang mendapatkan pelatihan tentang flu burung harus waspada dengan kemungkinan infeksi flu burung.

Sedangkan ahli biomolekuler dari Avian Influenza-zoonosis Research Center-Universitas Airlangga, CA Nidom, mengatakan, flu burung dapat menjadi bom waktu di Indonesia. Sumber penularan, yakni unggas yang terinfeksi, masih ada dan hidup bersama dengan pembawa virus flu musiman. ”Virus-virus itu dapat bermutasi atau saling bertukar gen. Terbuka juga kemungkinan penularan H5N1 antarmanusia,” ujarnya.

Dia beranggapan, titik pandang dalam menghadapi flu burung di antara berbagai pemangku kepentingan harus bersama, yakni menyelamatkan manusia. ”Berbagai instansi, seperti Kementerian Pertanian, harus bergerak dengan fokus sama,” kata Nidom.

Yang paling menakuti Indonesia bisa jadi merupakan negara yang menyandang predikat sebagai negara dengan kasus flu burung tertinggi di dunia selama 2012 ini.Predikat itu mungkin diberikan jika suspect flu burung yang dirawat di Kabupaten Tangerang, Banten, dinyatakan positif flu burung. Karena dengan begitu, jumlah warga yang terdeteksi virus flu burung bertambah menjadi tiga orang, dengan dua warga sebelumnya telah meninggal.

Seperti diketahui, selama bulan Januari, Indonesia sudah mencatat dua korban suspect flu burung. Indonesia pun sudah melaporkan hal tersebut ke WHO. Dengan dua korban suspect flu burung, Indonesia sudah menempati urutan kedua dengan kasus flu burung tertinggi di dunia.

BERITA TERKAIT

Adu Cepat Kerja Pemerintah dengan Virus Covid-19

Penanganan virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 harus beradu cepat dengan waktu. Ahli kesehatan masyarakat Nadia Nurul mengungkapkan, peningkatan kasus…

Sebaiknya Olahraga di Dalam Ruangan selama Wabah Corona

Melakukan olahraga di tengah anjuran tinggal di rumah selama wabah corona (Covid-19) berlangsung jadi tantangan tersendiri. Padahal, aktivitas olahraga di…

Manfaat Berjemur di Bawah Sinar Matahari

Di tengah pandemi infeksi virus corona atau COVID-19, saran untuk berjemur di bawah sinar matahari kian terdengar. Wajar saja, berjemur…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Adu Cepat Kerja Pemerintah dengan Virus Covid-19

Penanganan virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 harus beradu cepat dengan waktu. Ahli kesehatan masyarakat Nadia Nurul mengungkapkan, peningkatan kasus…

Sebaiknya Olahraga di Dalam Ruangan selama Wabah Corona

Melakukan olahraga di tengah anjuran tinggal di rumah selama wabah corona (Covid-19) berlangsung jadi tantangan tersendiri. Padahal, aktivitas olahraga di…

Manfaat Berjemur di Bawah Sinar Matahari

Di tengah pandemi infeksi virus corona atau COVID-19, saran untuk berjemur di bawah sinar matahari kian terdengar. Wajar saja, berjemur…