Tahun Depan Jadi Ancaman IPO BUMN - DIDUGA TARGET IPO BAKAL MELESET

Jakarta –Tahun 2013 menjadi tantangan bagi industri pasar modal, khususnya bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk merealisasikan target emiten baru go public yang di patok 30 perusahaan. Karena tahun depan ditengarai sebagai tahun politik jelang Pilpres di samping imbas krisis global yang tak menentu, diduga menjadi penyebab tidak tercapainya target IPO BUMN tersebut. Kondisi ini akan menjadi rintangan berat untuk prospek badan usaha milik negara masuk ke industri pasar modal.

NERACA

Menurut Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada, tahun 2013 adalah tahun politik dimana perusahaan BUMN akan lebih sulit melakukan IPO. Alasannya, perusahaan BUMN yang akan melakukan IPO tentu harus meminta izin DPR terlebih dahulu dan sedangkan DPR akan lebih fokus dalam mendulang suara, “Tahun 2012 saja dari yang ditargetkan lima BUMN yang melakukan IPO, ternyata hanya satu BUMN yang terlaksana. Apalagi tahun depan yang mendekati tahun pemilu," katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (25/12).

Dia menjelaskan, IPO BUMN berbeda dengan IPO perusahaan swasta. Pasalnya, perusahaan BUMN yang bakal IPO melalaui proses panjang, mulai dari meminta tanda tangan dari pada Direksi, berlanjut ke Kementerian BUMN, lalu masuk ke proses perizinan DPR yang penuh dengan orientasi politik, lalu masuk ke Bappepam-LK.

Kondisi ini berbeda dengan IPO perusahaan swasta tanpa harus proses panjang. Oleh karena itu, lanjut Reza, dengan mempertimbangkan proses izin yang panjang akan menjadi kendala dan hambatan bagi BUMN untuk gelar IPO, “Prosesnya sangat panjang, belum lagi masuk ke DPR yang pertimbangannya banyak sekali. Saya rasa akan sulit untuk melakukan IPO BUMN," tuturnya.

Menurut dia, dengan perusahaan melakukan IPO maka akan membantu dalam segi pendanaan perusahaan tersebut dan masalah transparansi perusahaan BUMN. Para pelaku pasar juga akan sangat tertarik dengan perusahaan BUMN karena ada jaminan dari pemerintah, “Lain halnya jika perusahaan swasta yang rentan dananya dibawa kabur oleh pemiliknya, bisa default, dan masalah-masalah lainnya sehingga untuk meminta pertanggungjawaban agak sulit,"jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan Reza, kedepannya para pelaku pasar akan lebih mengincar perusahaan yang berorintasi terhadap konsumer base. "Perusahaan yang orientasinya konsumsi domestik akan lebih dicari banyak pelaku pasar dari pada sektor komoditas,”ungkapnya.

Menurut dia, hal tersebut dikarenakan sentimen-sentimen yang ditimbulkan terhadap sektor komoditas sangat rentan terhadap ekonomi global. Lain halnya dengan kondisi sektor yang berbasis konsumsi.

Sulit Ditebak

Hal senada juga disampaikan analis dari Henan Putihrai Asset Management, Felix Sindhunata, bahwa tahun politik menjadi potensi menghambat IPO BUMN yang kemungkinan terjadi di semester II-2013, “Mayoritas investor akan melihat kondisi ekonomi global, selain tahun 2013 menjadi tahun politik di dalam negeri, disamping itu ada perhelatan besar di Eropa seperti pemilihan umum di Italia serta penyelesaian fiscal cliff yang belum ada kejelasan membuat pelaku pasar cenderung wait and see,”paparnya.

Oleh karena itu, dirinya menilai sulit untuk menebak prospek IPO dari BUMN yang akan dilakukan pada tahun 2013. Menurutnya, kondisi global sangat mempengaruhi pasar dan termasuk BUMN yang akan melakukan IPO.

Kondisi Indonesia, menurut Felix, masih akan berkutat pada dampak kenaikan UMP terhadap inflasi serta jika terjadi pelemahan komoditas, maka anggaran berpotensi defisit.

Meski demikian, dia menyakini tahun 2013 akan menjadi lebih baik karena ditopang fundamental ekonomi yang kuat, “Tetapi dari situasi global secara jangka pendek seperti isu fiscal cliff di Amerika Serikat akan menjadi catatan penting,”jelasnya.

Dia menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia sangat baik menjadi peluang besar IPO BUMN untuk lebih banyak lagi, terlebih bagi emiten yang fokus pada pasar domestik. “IPO itu tergantung dari kondisi pasar serta peranan manajemen, tentu kami mengharapkan akan banyak BUMN yang melakukan IPO, karena secara fundamental emiten BUMN lebih defensif daripada emiten lain,”ujarnya.

Sementara bagi ekonom FEUI Budi Frensidy menilai, tahun politik yang terjadi di 2013 tidak akan mempengaruhi minat BUMN gelar IPO. Dinilai panjang proses IPO, kata Budi, karena hal yang wajar apabila pengambilan keputusan untuk IPO mengalami proses panjang, “Wajar apabila proses pengambilan keputusan untuk melepas saham negara kepada publik sangatlah panjang. Pengambilan keputusan juga panjang hingga DPR,” jelasnya.

Oleh karena itu, dirinya menilai kesiapan BUMN go public sangat tergantung hasil kinerja perusahaan, sehingga peran dari Kementerian BUMN juga perlu ditingkatkan. Kendatipun demikian, kata Budi, emiten BUMN yang memiliki kinerja baik akan menjadi salah satu pilihan investor dalam berinvestasi. Ke depan, lima emiten BUMN siap melantai di bursa. Tetapi, yang perlu diperhatikan adalah dengan perencanaan yang baik dengan mempertimbangkan waktu yang tepat, “Karena harus dilihat kondisi pasar modalnya, apabila sedang bearish tidak bagus juga untuk melakukan IPO,” ujarnya.

Keyakinan yang sama juga disampaikan Vice President Investment CIMB Principal Asset Management Fadlul Imansyah, seharusnya perusahaan BUMN akan lebih banyak yang melakukan IPO pada 2013 nanti. Alasannya, jelang pemilu 2014 nanti akan menjadi pemicu BUMN untuk melakukan IPO lebih awal, “Secara normatif, ada semacam dorongan dari pemerintah yang mengakhiri masa jabatannya untuk memperlihatkan capaiannya. Target BUMN itu kan meraih dana untuk pemerintah, jadi supaya bisa perform harusnya mereka bisa mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya, yaitu dengan melakukan IPO,” ujarnya.

Menurut dia, seharusnya BUMN lebih menarik untuk investor karena dari sisi corporate governance lebih baik. BUMN yang go public memiliki dua sisi pengawasan. Pertama oleh pemerintah itu sendiri, termasuk oleh KPK. Pengawasan kedua dilakukan oleh masyarakat sebagai pemegang saham.

Dia mengakui, tidak mudah bagi perusahaan-perusahaan BUMN untuk go public. Sulit mencari BUMN yang transparan, butuh waktu. PT Semen Baturaja dan PT Pegadaian dianggap sebagai BUMN yang mempunyai kemampuan untuk melakukan IPO.

Menurut Fadlul, PT Semen Baturaja mempunyai sisi industri yang bagus. “Tapi saya kurang yakin karena kapasitas produksinya tidak sebesar Semen Gresik. Market cap-nya tidak signifikan,” ujarnya.

Sementara PT Pegadaian memiliki risiko utang yang tinggi karena obligasi yang terus berjalan. “Tapi prospektif, sih,” kata Fadlul. Dengan melakukan IPO, PT Pegadaian bisa melakukan eskpansi lebih besar lagi. “Leverage-nya lebih tinggi,” tuturnya. bari/dias/iqbal/novi/bani

BERITA TERKAIT

Wakil Presiden - Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik

Jusuf Kalla Wakil Presiden Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik  Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tantangan yang…

Targetkan Listing Awal September - Bhakti Agung Bidik Dana IPO Rp 335,5 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun bisnis properti lesu, hal tersebut tidak menyurutkan rencana PT Bhakti Agung Propertindo Tbk untuk go public.…

Lagi, BEI Bakal Lelang Kursi Anggota Bursa

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kembali melelang dua kursi kosong Anggota Bursa (AB) yang ditinggalkan oleh PT Merrill Lynch…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT KENAIKAN IMPOR NONMIGAS - NPI Defisit US$63,5 Juta di Juli 2019

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Juli 2019 terjadi defisit US$ 63,5 juta, yang merupakan…

Presiden Diminta Cermat dan Hati-Hati Pilih Menteri

NERACA Jakarta - Pengamat hukum tata negara dari Universitas Jember Bayu Dwi Anggono berpendapat Presiden Joko Widodo harus berhati-hati dan…

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…