Isu Kelangkaan Daging Hanya Siasat Para Importir

NERACA

Jakarta – Beberapa hari yang lalu, isu bakso oplosan atau bakso yang memakai daging babi cukup hangat dibicarakan oleh kalangan masyarakat. Isu yang merebak tersebut cukup menghebohkan, sampai-sampai Kementerian Perdagangan melakukan penelitian kebeberapa pasar di Jabodetabek.

Namun Ketua Forum Kepala Dinas Seluruh Indonesia, Edwardi, menyatakan bahwa untuk pasokan daging sapi pada Desember ini sebetulnya tidak ada kendala sama sekali. Malahan menurut data yang dihimpun pihaknya, dia mengaku ada kelebihan sekitar 14.358 ton daging sapi lokal untuk bulan ini saja. "Harusnya memang tidak ada masalah dalam harga sapi, karena stok sapi di peternak mencukupi," ujarnya di Jakarta, Kamis (20/12).

Lebih jauh lagi Edwardi memaparkan isu maraknya daging babi yang beredar dan disamarkan sebagai daging sapi, Edwardi menilai, itu hanyalah untuk menekan pemerintah agar nantinya bisa menaikkan kuota impor daging sapi. Edwardi mengaku ketika terjadi di Jakarta, malahan isunya merebak ke arah kenaikan kuota daging sapi impor. Padahal, seluruh kepada dinas peternakan di berbagai daerah yang surplus daging sapi sudah berkomitmen membantu daerah Jabodetabek dalam ketersediaan daging sapi.

Selama ini, menurutnya, suplai daging sapi ke Jakarta yang menjadi daerah konsumen disuplai dari lima rumah pemotongan hewan (RPH) di lima provinsi. Kelima provinsi tersebut adalah Jawa Tengah (100 ton per bulan), Jawa Timur (165 ton per bulan), Nusa Tenggara Barat (20 ton per bulan), Bali (80 ton per bulan), dan Nusa Tenggara Timur (15 ton per bulan). "Secara total, ada 380 ton daging per bulan yang masuk ke Jakarta dari 5 RPH tersebut," jelasnya.

Tes Laboratorium

Sebelumnya untuk mencegah perdagangan bakso oplosan makin meluas, Kementerian Perdagangan telah mengambil sampel daging bakso di tujuh titik pasar di kawasan Jabodetabek. Sampel daging tersebut dibawa dan diteliti oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak mengatakan, pengambilan sampel dilakukan pekan lalu. “Hasilnya akan keluar akhir pekan ini,” ujarnya.

Nus menegaskan, kepastian untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan lemak babi di dalam daging bakso tidak bisa lewat kasat mata. Menurutnya, pembuktiannya harus melalui uji laboratorium. Jika terbukti mengandung lemak babi, maka pelaku bisa dijerat hukuman pidana maksimal lima tahun atau denda Rp 2 miliar.

Asal tahu saja, beberapa hari terakhir, beredar kabar adanya daging bakso sapi oplosan. Bakso daging sapi oplosan mencuat setelah harga daging sapi melonjak. Nus sendiri mengaku belum mengetahui praktik daging bakso oplosan ini.

Sementara itu Ketua Majelis Ekonomi Muhammadiyah Syafrudin Anhar mengatakan, pemerintah perlu meningkatkan program pencerdasan konsumen agar terhindar dari aksi penipuan. “Pelaku usaha juga perlu ditertibkan untuk meminimalisir adanya oknum yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Menurut Syafrudin, keberadaan organisasi masyarakat juga perlu ditingkatkan keterlibatannya dalam rangka menyosialisasikan kebijakan perlindungan konsumen. Banyaknya anggota di dalam organisasi masyarakat bisa meningkatkan efisiensi penyebaran informasi mengenai perlindungan konsumen.

Terkait munculnya muncul bakso oplosan yang diisukan tercampur daging babi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengaku dibuat susah oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Alasannya, pengawasan distribusi daging sapi yang merupakan ranah Kementan dinilai Kemendag masih lemah. “Pengawasan sebenarnya berada di Kementan, tetapi kami di Kemendag memiliki tugas untuk melaksanakan perlidungan konsumen,” terang Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi.

Menurut Bayu, munculnya bakso oplos ini didorong oleh mahalnya daging sapi yang diakibatkan oleh kesalahan kalkulasi kuota impor daging sapi dari Kementan. “Jadi sebagaimana anda ketahui, harga daging sapi telah meningkat cukup tinggi dan tampaknya hal tersebut mendorong praktek-praktek yang tidak patut dan juga melanggar UU,” sambungnya.

Saat ini, disparitas harga antara keduanya amat jauh. “Harga daging sudah menembus Rp90 ribu, sedangkan daging babi masih berkisar Rp30-40 ribu,” tambah Wamendag.

Kemendag tengah melakukan pengujian terhadap sejumlah bakso yang dicurigai mengandung daging babi. “Saat ini masih diuji di Laboraturium IPB dan BPOM. Hasilnya mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kita peroleh,” jelas Bayu.

BERITA TERKAIT

Isu Hukum dan HAM Jangan Hanya Jadi Dagangan

Oleh: Dyah Dwi Astuti Ada kekhawatiran bahwa debat pertama capres-cawapres tentang hukum, HAM, korupsi dan terorisme akan berlangsung normatif karena…

Indonesia Jadi Importir Gula Terbesar di Dunia

NERACA Jakarta – Apapun niat pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, namun bila dilakukan dengan kebijakan impor tentu saja menuai pro…

Awal Tahun, NasionalRe Gelar Pelatihan Bagi Para Mitranya di Jawa Timur

Awal Tahun, NasionalRe Gelar Pelatihan Bagi Para Mitranya di Jawa Timur NERACA Jakarta - PT Reasuransi Nasional Indonesia atau NasionalRe…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…

GSP Bakal Dibahas Dengan Dubes Perdagangan AS

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dalam kunjungannya ke Amerika Serikat bakal membahas secara bilateral mengenai penerapan "Generalized…

Petani Minta Pemerintah Serap Produk Hortikultura Strategis

NERACA Jakarta – Serikat Petani Indonesia (SPI) meminta pemerintah menyerap produk hortikultura strategis seperti cabai agar petani tidak lagi terbebani…