Pasar Karet Regional Akan Segera Dibentuk

NERACA

Jakarta - Indonesia bersama Thailand dan Malaysia sepakat membentuk pasar regional karet guna mengatasi gejolak harga dan memperkuat posisi negara produsen karet alam. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan berharap pasar karet regional dapat meramaikan bursa pasar berjangka dan pasar fisik yang sudah ada, membentuk harga riil pasar karet sekaligus menjalankan fungsi lindung nilai.

"ITRC (International Tripartite Rubber Council) sepakat melakukan studi komprehensif dan langkah-langkah harmonisasi berbagai kebijakan dalam rangka mewujudkan pasar ini," katanya dalam siaran pers yang diterima Neraca, akhir pekan lalu.

Kesepakatan itu, lanjutnya, dicapai dalam pertemuan Dewan Menteri ITRC di Phuket, Thailand, pada Rabu (12/12), yang dihadiri Deputy Minister Agriculture and Cooperative of The Kingdom of Thailand Yuttapong Charasathien dan Minister of Plantation Industries and Commodity of Malaysia Tan Sri Bernard Giluk Dompok.

Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo menambahkan Indonesia menekankan perlunya membangun pasar fisik dan berjangka karet yang kuat di masing-masing negara ITRC terlebih dahulu, baru kemudian berkembang ke pasar karet Asean.

Sebelumnya Pemerintah berencana mematok harga karet. Menteri Gita menyatakan pematokan harga karet bisa menjadi salah satu alternatif menjaga harga jual. Gita juga menyatakan pemerintah akan mempertimbangkan penetapan harga patokan. “Ya seperti yang kami lakukan dengan gula, beras, dan segalanya,” katanya.

Gita menyatakan alternatif tersebut sedang dikaji oleh Kementerian Perdagangan dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Penetapan harga patokan tersebut akan sangat ditentukan oleh faktor persediaan dan permintaan. “Kalau demand tidak mendukung permintaan harga yang kami minta, sulit (ditentukan harga dasarnya),” ujarnya.

Pemerintah harus mempertimbangkan juga pengaruh krisis ekonomi yang terjadi di berbagai negara seperti di Eropa saat ini. Krisis ekonomi, katanya, juga akan sangat mempengaruhi tingkat permintaan karet di berbagai negara. “Kalau krisis berkesinambungan, permintaan akan terus menurun untuk apa pun, termasuk karet,” kata Gita.

Selisih Harga

Gita juga mengatakan, selisih harga antara harga jual dan harga produksi petani karet masih cukup aman. Harga jual karet internasional sejak awal tahun 2012 ini cenderung mengalami penurunan yang cukup tinggi. Harga jual karet internasional pada awal tahun 2012 sebesar US$ 3,3 per kilogram. Sedangkan pada bulan Juni 2012 ini harga karet sudah mencapai US$ 2,8 per kilogram.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik bahwa untuk luas areal karet Indonesia sebagai yang terbesar di dunia dengan luas 3,4 juta hektar, diikuti Thailand seluas 2,6 juta hektar dan Malaysia 1,02 juta hektar. Meski memiliki lahan terluas, produksi karet Indonesia tercatat sebesar 2,4 juta ton atau di bawah produksi Thailand yang mencapai 3,1 juta ton, sedangkan produksi karet Malaysia mencapai 951 ribu ton.

Untuk mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia di pasar International. Dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangkan panjang. Mutu bokar yang baik dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) dan tingkat kebersihan yang tinggi. Upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai sejak penanganan lateks di kebun sampai dengan tahap pengolahan akhir.

Indonesia pada tahun 2010 hanya mampu memberikan kontribusi untuk kebutuhan karet dunia sebanyak 2,41 juta ton karet alam atau urutan kedua setelah Thailand yang sebesar 3,25 juta ton. Menurut data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), untuk tahun 2011 produksi karet alam dunia diasumsikan hanya berkisar 10,970 juta ton sementara untuk konsumsi diperkirakan mencapai 11,151 juta ton sehingga terjadi kekurangan pasokan atau minus sekitar 181.000 ton.

Kurangnya produk karet alam dunia di tahun 2011 salah satunya di karenakan terganggunya produksi karet di beberapa negara seperti Australia, hujan deras yang disebabkan oleh lamina yang juga menyebabkan banjir di negara tersebut telah mengganggu proses penyadapan karet.

Kemudian di Thailand asosiasi natural rubber producing countries di Thailand memperkirakan produk karet alam pada musim dingin yang berlangsung mulai Febuari-Mei berdampak pada menurunnya produk karet hingga 50 %. Dengan adanya asumsi tersebut, dipastikan Indonesia berpeluang besar untuk memasok karet alam hasil produk Indonesia ke luar negeri/ekspor dan tentunya dengan catatan untuk produk karet Indonesia agar lebih ditingkatkan. Untuk tahun 2010 ekspor karet Indonesia sebesar 1,9 juta ton. Diperkirakan untuk targetnya tahun ini ekspor karet bisa naik hingga 10%.

BERITA TERKAIT

Jabar Segera Membuat Perda Sawah Abadi

Jabar Segera Membuat Perda Sawah Abadi NERACA Tasikmalaya - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) segera membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang…

Relasi Pasar Domestik dan Pasar Internasional

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Fenomena globalisasi dan liberalisasi yang ditopang oleh sistem ekonomi digital yang marak…

Penetrasi Pasar di Luar Jawa - Mega Perintis Siapkan Capex Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta – Rencanakan membuka 20 gerai baru tahun ini guna memenuhi target penjualan sebesar 14%-15% menjadi Rp 509 miliar,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ada Kemajuan Dalam Pembahasan Penerapan GSP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan…

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…

Penurunan Tarif Penerbangan Oleh Maskapai Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi penurunan tarif penerbangan yang disepakati oleh seluruh maskapai anggota…