Bea Cukai Siap Reekspor 63 Kontainer Daging Ilegal

NERACA

Jakarta - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan, siap mereekspor atau mengembalikan ke negara asal sebanyak 63 kontainer daging sapi impor ilegal yang saat ini tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. "Sesuai dengan ketentuan karantina, 63 dari 116 kontainer daging sapi impor ilegal siap direekspor," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono di Jakarta, Selasa (11/12).

Namun, Agung tidak menyebutkan kapan kontainer-kontainer tersebut akan direekspor. Agung juga menambahkan, sisa 56 kontainer daging sapi impor ilegal lainnya masih dalam proses reekspor. Sebelumnya, selama empat bulan terakhir, 116 kontainer daging sapi yang diimpor secara ilegal dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat, tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Penahanan kontainer itu dilakukan karena importir berinisial PT KSU mendatangkan daging sapi tanpa Surat Persetujuan Impor (SPI) yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan. Hingga kini, PT KSU masih menunggu penyelesaian proses administrasi dan belum diperbolehkan keluar dari wilayah kepabeanan oleh Badan Karantina Kementerian Pertanian sampai perusahaan itu mendapat izin dari Kemendag.

Sebelumnya juga, Ketua Indonesian National Shipowners Association (INSA), C. Alleson mengungkapkan siap membantu kegiatan reekspor 63 kontainer dari 116 kontainer impor berisi daging asal Australia yang sempat di tahan oleh Bea dan Cukai di pelabuhan Tanjung Priok.

Lebih jauh lagi Ia mengatakan, kontainer bermasalah tersebut tidak boleh terlalu lama di pelabuhan karena dapat menyebabkan tingginya yard occupancy ratio (YOR) lapangan penumpukan di terminal peti kemas. “Karena itu, kami berinisiatif (ada 11 perusahaan pelayaran) anggota INSA Jaya yang sudah bersedia membantu akan melakukan re ekspor sebagian besar kontainer impor bermasalah itu,” ujarnya.

Reekspor perdana tersebut di lakukan menggunakan MV Kota Harta dengan ukuran peti kemas masing-masing 20 kaki dan 40 kaki. Alleson mengatakan, dukungan perusahaan pelayaran anggota INSA Jaya dalam melakukan kegiatan reekspor kontainer impor bermasalah itu, bertujuan menjaga kelancaran lalu lintas barang dan peti kemas melalui seluruh terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. “Kontainer bermasalah itu tersebar di beberapa fasilitas container yard terminal peti kemas dan ini akan sangat mengganggu kegiatan bongkar muat,” katanya.

Dia mengatakan, koordinasi kegiatan reekspor kontainer tersebut sudah dilaksanakan dengan instansi terkait, termasuk Badan Karantina Tanjung Priok serta Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, serta pengelola terminal peti kemas.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono mengatakan 116 kontainer yang ditahan di pelabuhan Tanjung priok karena tidak memiliki surat ijin (kuota) importasi dari instansi terkait.

Kontainer daging itu dimuat dengan beberapa kapal pada Agustus 2012 menjelang perayaan Idul fitri.Kementerian perdagangan akan melakukan re-export (mengekspor kembali barang yang semula diimpor) 63 kontainer daging itu dan sisanya akan dikarantina di pelabuhan Tanjung Priok.

Sementara itu, satu kontainer ukuran 20 kaki berisi daging impor asal Australia milik CV.Sumber Laut Perkasa yang sudah menumpuk lebih dari tiga setengah tahun di lapangan penumpukan PT Airin di Pelabuhan Tanjung Priok juga dimusnahkan.

BERITA TERKAIT

KKP Tangkap Dua Kapal Ilegal Berbendera Vietnam

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Kapal Pengawas Perikanan KP Orca 01 dan KP Hiu 11 berhasil…

Kemenperin Siap Pasok SDM RI Penuhi Kebutuhan Industri Jepang

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten dari Indonesia untuk bekerja…

Produk Unggulan Taiwan Siap Dipamerkan

    NERACA   Jakarta – Setiap tahunnya, Taiwan selalu menyelenggarakan kompetisi yaitu Taiwan Excellence Awards yang mana produk lokal…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Disarankan Tambah Insentif untuk Dorong Ekspor Perhiasan

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menyatakan saat ini masih diperlukan beragam insentif…

CIPS: Perlu Waspadai Neraca Perdagangan Surplus

NERACA Jakarta – Neraca perdagangan mencatatkan surplus pada Februari yang lalu. Hasil ini tentu jauh berbeda dengan neraca perdagangan Januari…

Catatkan Surplus - Industri Furnitur dan Kerajinan Agresif Dobrak Pasar Ekspor

NERACA Jakarta – Industri furnitur dan kerajinan nasional mampu mendobrak pasar internasional melalui berbagai produk unggulannya yang dinilai memiliki kualitas…