Taktik Grup Bakrie Lunasi Utang Lewat Utang - OBLIGASI BRAU SEPI PEMINAT

NERACA

Jakarta- Rencana PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR) mematangkan divestasi saham anak usahanya PT Bakrie Pipe Industries sebesar 80% untuk menutupi utang, rupanya belum tercukupi. Alhasil, grup Bakrie yang juga memiliki saham mayoritas di Berau Coal Energy juga terpaksa harus menerbitkan obligasi baru.

Direktur Utama PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) Rosan P. Roeslani mengatakan, beban utang dan jatuhnya harga komoditas batubara menjadi beban bagi perseroan untuk meningkatkan kinerja keuangan. Maka salah satu dengan menyiasati mengurangi beban utang perusahaan hingga tahun 2013 dengan menerbitkan obligasi,” Penerbitan obligasi dinilai dapat menjadi alternatif pendanaan guna meng-cover kinerja perseroan,”katanya di Jakarta, Selasa (4/12).

Dia menjelaskan, saat ini perseroan tengah disibukkan untuk mengurangi cost of debt dan jalan keluarnya kembali melakukan penerbitan obligasi baru. Terlebih, bond yang di terbitkan pada 2010 akan jatuh tempo pada 2015 dengan tingkat bunga 7,5% dan akan dilakukan call option (opsi pelunasan ) di Juni 2013.

Namun menurut pengamat obligasi PT Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa, penyerapan obligasi yang dilakukan oleh BRAU selaku pemain di sektor komoditas atau pertambangan tampaknya akan terkoreksi dengan melihat kondisi sektor komoditas yang mengalami penurunan.

Terlebih sampai dengan pertengahan tahun ke depan, sektor tersebut diperkirakan masih akan melemah.“Sejauh ini untuk demand tidak ada masalah, akan tetapi investor tentu akan meminta kupon tinggi dikarenakan memiliki risiko tinggi,”ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Dengan kondisi produk yang tidak cukup baik tersebut, menurut Fakhrul secara otomatis tentu akan berpengaruh terhadap profit dan cashflow perusahaan sehingga hal tersebut menjadi pertimbangan investor untuk mengambil obligasi tersebut. Karena itu, lanjut Fakhrul, meskipun kondisi pasar saat ini sedang mengalami peningkatan yang cukup bagus, hal tersebut tidak menjadi jaminan bagi obligasi korporasi khususnya sektor tambang untuk menunjukkan kinerja sebaik tahun sebelumnya.

Sejauh ini, kata Fakhrul, rating yang diperoleh dari penerbitan obligasi tersebut pun tidak akan terlalu berpengaruh. Semakin tinggi risiko yang ditunjukkan dari kinerja perseroan maka akan semakin tinggi kupon yang diinginkan investor.

Sementara untuk return obligasi korporasi saat ini, menurut dia, secara year to date adalah sebesar 11,14% atau lebih kecil dibanding obligasi pemerintah sebesar 11,23%. “Dalam penyerapannya, investor tetap akan mempertimbangkan kondisi fundamental yang menerbitkan obligasi tersebut.”paparnya.

Belum Berprospek

Sementara Direktur PT Peringkat Efek Indonesia (Pefindo) Yose Rizal, penerbitan obligasi dari Berau Coal tahun depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi, di mana harga komoditas tambang khususnya batu bara sedang menurun."Sekarang sampai tahun depan, kelihatannya belum akan membaik. Ini saya lihat dari kondisi makro ekonomi dan jenis industri,"tuturnya.

Dia mengatakan bahwa pilihan menerbitkan obligasi itu tergantung dari keputusan masing-masing perusahaan. "Masing-masing ada plus minusnya tergantung pada kondisi (internal dan eksternal perusahaan). Kalau memang dana mahal jadi satu-satunya pilihan (untuk menambah modal dan pengurangan utang), yakni salah satunya dengan menerbitkan obligasi yang resikonya tinggi," jelasnya.

Tapi, tambahnya, bahwa itu harus hati-hati karena resikonya ke depan akan lebih tinggi lagi akibat dari harga komoditas yang menurun. "Jadi mereka perlu mempertimbangkan lebih jauh," ujarnya.

Sebagai informasi, Direktur Utama PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), Rosan P. Roeslani menyampaikan harapannya, pada saat menerbitkan obligasi diharapkan rate-nya tidak jauh berbeda.

Rencananya nilai penerbitan obligasi tersebut kurang dari US$500 juta atau dibawah nilai obligasi sebelumnya. Dengan penerbitan obligasi baru tersebut, pihaknya berharap dapat menurunkan beban bunga sebesar 5% dari obligasi sebelumnya atau menghemat sekitar US$25 juta dari sisi suku bunga seiring rencana perseroan untuk mengurangi beban bunga utang yang dimiliki saat ini sebesar US$955 juta.

Penentuan nilai obligasi tersebut, lanjut Rosan juga didasarkan dengan melihat kondisi kas perseroan. Selain itu kondisi industri batubara yang diperkirakan masih akan mengalami tantangan yang tidak mudah sampai dengan tahun depan. Karena itu, pihaknya sangat berhati-hati dalam menghadapi permasalahan keuangan dan ketentuan modal kerja (capital expenditure-Capex).

Rosan mengakui, jika dihitung dengan perkiraan total EBITDA di akhir 2012, total utang berbanding ekuitas (debt to equity ratio) perseroan sebesar 3 kali. Meski demikian, jika total utang tersebut dikurangi dengan dana tunai yang dimiliki perseroan saat ini, nilai utang perseroan hanya sekitar US$450 juta, atau hanya mencatatkan DER sebesar 1,7 kali.

Sementara untuk mendukung kinerja perseroan ke depan, kata Rosan, pihaknya menganggarkan modal kerja senilai US$116 juta. Belanja modal tersebut rencananya akan digunakan untuk membangun PLTU berkapasitas 2x20 megawatt yang sebagian besar dari energi listrik tersebut akan digunakan untuk kebutuhan produksi perseroan dan sisanya dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Diversifikasi Pasar

Lebih lanjut Rosan mengatakan, secara year to date, penjualan batu bara mengalami penurunan, dari US$ 1.207 juta pada September 2011 menjadi US$ 1.122 juta pada September 2012. Penurunan tersebut dikarenakan kondisi pasar yang kurang baik, di mana berlebihnya pasokan tidak diimbangi dengan pertumbuhan permintaan pasar. Salah satunya, terjadi penurunan permintaan dari China dan Taiwan yang tercatat sebagai pasar terbesar bagi BRAU, yaitu dari 46% di tahun 2011 menjadi 36% pada tahun ini. “Rata-rata terjadi penurunan pada penjualan batubara di mana kami menjual sebagian besar produk batubara di kisaran US$ 55-56. Namun sejauh ini kami mengambil harga secara konservatif yaitu sekitar US$ 85 dari harga yang ada di pasar sekitar US$90.” jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, pihaknya berupaya untuk melakukan diversifikasi pasar ke negara ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Untuk pasar Malaysia, menurut Rosan memiliki minat yang cukup tinggi untuk melakukan kontrak, yaitu 5-7 tahun dengan nilai produksi sekitar 500-1000 ton.

Rosan menambahkan, sampai dengan akhir tahun ini target produksi batubara BRAU diperkirakan mencapai 21 juta ton dengan target penjualan antara 21-21,5 juta ton. Sementara untuk target produksi di 2013, diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 23 juta ton dengan target penjualan antara 23-23,5 juta ton. Untuk Ebitda perseroan diperkirakan mencapai US$310-320 juta pada akhir tahun 2012. lia/ria/ bani

BERITA TERKAIT

Utang Luar Negeri Naik 7% Jadi Rp5.220 Triliun

  NERACA Jakarta - Utang luar negeri Indonesia naik tujuh persen secara tahunan menjadi 372,9 miliar dolar AS per akhir…

Lunasi Utang - Taksi Express Jual Tanah Rp 112,15 Miliar

NERACA Jakarta - PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), melalui entitas anak usahanya, yaitu PT Ekspres Jakarta Jaya (EJJ) telah…

Lewat Komik, Warganet Sindir Pidato Prabowo

Lewat Komik, Warganet Sindir Pidato Prabowo NERACA Jakarta - Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto yang berjudul "Indonesia Menang" yang dibacakannya pada…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

BPJS Terapkan Urun Biaya untuk Tindakan Medis Tertentu

NERACA Jakarta-Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan akan urun biaya dengan peserta untuk tindakan medis tertentu. Penerapan skema ini khusus…

NILAI TUKAR RUPIAH CENDERUNG STABIL - BI Prediksi Inflasi 2019 di Bawah 3,5%

Jakarta-Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memastikan bahwa inflasi sepanjang tahun ini akan terkendali sesuai dengan proyeksi Anggaran Pendapatan dan…

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…