Tunda Eksplorasi, Saatnya Energi Menikmati Hasil - PT Energi Mega Persada Tbk

NERACA

Jakarta – Meskipun tengah terbebani utang, tidak membuat PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) sebagai perusahaan energi kelompok usaha Bakrie tunda melakukan ekspansi bisnis. Terlebih, perseroan kini tinggal menikmati hasil dari akusisi blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ).

Oleh karena itulah, perseroan memastikan tahun depan tidak memiliki rencana untuk melakukan eksplorasi. Terlebih perseroan menargetkan produksi di atas 55 ribu barel per hari. Chief Investor Relation ENRG, Herwin W. Hidayat mengatakan, untuk pendapatan tahun depan diharapkan bisa di atas US$ 600 juta, “Membaiknya kinerja tahun ini akan berlanjut pada tahun depan, karena itu pendapatan tahun depan bisa diatas US$ 600 juya,”katanya di Jakarta, Selasa (4/12).

Menurutnya, tren penjualan gas memang masih bagus sehingga bisa menghasilkan 55 ribu barel hingga sekarang dan diharapkan kinerja kedepan lebih baik. Untuk estimasi pendapatan tahun depan, perseroan menargetkan di atas US$ 350 juta dibandingkan dengan sebelumnya pada 2011 sebesar US$ 240 juta.

Dengan tidak adanya rencana melakukan eksplorasi. Maka kedepan perseroan hanya tinggal melakukan maintenance (atas hasil eksplorasi) saja atas hasil the big capex untuk eksplorasi yang sebagian besar sudah dilakukan di 2011.

Sementara hingga September 2012, ENRG telah merealisasikan belanja modal atau capex hingga US$61 juta untuk realisasi eksplorasi minyak dan gas bumi. Belanja modal 2012 sebesar US$100 juta yang anjlok dari tahun sebelumnya yang mencapai US$500 juta tersebut pun, baru terealisasi untuk ekplorasi di sejumlah blok yaitu Offshore Northwest Java, blok Bentu, dan blok Malaka.

Kata Herwin, capex 2012 memang turun drastis menjadi US$100 juta dengan realisasi hingga September mencapai US$67 juta untuk eksplorasi di blok Bentu, OWNJ, dan Malaka.

Terbitkan Obligasi

Selain itu, perseroan juga berencana menerbitkan surat utang (obligasi) berdenominasi dolar AS sekitar US$ 600 juta pada tahun depan, “Global bonds masih, mudah-mudahan bisa dilakukan tahun depan,”ujar Herwin.

Menurutnya, penerbitan surat utang dalam dolar AS adalah upaya perseroan menekan biaya bunga dari utang sebelumnya. Refinancing akan dilakukan untuk menutup dua pinjaman dari perbankan, yaitu US$ 222 juta atau setara Rp 2,01 triliun dari ND Owen Holdings Limited dan US$ 200 juta (Rp 1,813 triliun) dari Credit Suisse Singapura.

Bunga pinjaman kedua bank ini tergolong tinggi. Hingga dengan penerbitan global bonds diharapkan beban perusahaan sedikit berkurang, dan pada akhirnya menguntungkan bagi pemegang saham."Bunga bank sekitar 13% dan 18%. Kalau ini diterbitkan refinancing menjadi lebih baik," tambahnya.

Sebagai catatan, Credit Suisse dan Owen menjadi dua bank yang mengutangi ENRG paling besar. Lebih dari 50% utang jangka panjang perseroan berasal dari mereka, dari total sekitar Rp 5,034 triliun. Asal tahu saja, perseroan tercatat memiliki pinjaman dari tiga pihak diantaranya Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. Rp 1,51 triliun, Kangean Finance Company, Jepang Rp 1,39 triliun dan Mitsubishi Corporation Rp 118,44 miliar.

Tunda Rights Issue

Menurut Herwin, rencana perseroan untuk menambah modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias private placement belum terlaksana, karena penyelenggaraan RUPS tidak tercapai kuorum. Padahal salah satu agenda rapat adalah persetujuan non-HMETD.

Sebelumnya manajemen berencana menerbitkan saham baru sekitar 4,058 miliar lembar, dengan target harga Rp 186 per lembar. Dana hasil penerbitan saham baru ini akan dipakai untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan.

Herwin juga menyampaikan, setelah akusisi CNOOC ONWJ Ltd. yang menguasai 36,7% kepemilìkan di blok Offshore Northwest Java PSC (ONWJ), kinerja perseroan terus melaju.

Di saat perseroan mengakuisisi kepemilikan blok dari CNOOC jatah produksi yang menjadi haknya 23.000 barel ekuivalen per hari (berdasarkan 36,72% kepemilikan). Sedangkan tahun depan, seiring produksi yang meningkat, hak ENRG juga berlipat. Total jatah yang menjadi hak anak usaha grup Bakrie ini mencapai 55.000 barel ekuivalen per hari.

Sebagai informasi, perseroan mencatatkan laba komprehensif yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk menurun sebesar 20,87% menjadi USD1,2 juta pada semester I-2012 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya USD1,52 juta. Padahal, penjualan bersih dan EBITDA masing-masing tercatat sebesar USD242 juta dan USD81 juta. Penjualan bersih dan EBITDA Perusahaan masing-masing meningkat sebesar 144% dan 88% pada semester pertama 2012 dari tahun lalu. (bani)

BERITA TERKAIT

Pemkot Sukabumi Targetkan Tiga Mega Proyek Rampung 2020

Pemkot Sukabumi Targetkan Tiga Mega Proyek Rampung 2020 NERACA Sukabumi- Walikota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, beberapa program Pemerintah Kota (Pemkot)…

Komitmen Mutu dan Hasil - Lagi, Prodia Raih Sertifikasi WSVP 2019

Di balik ekspansi bisnisnya, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) berhasil meraih kembali sertifikasi Westgard Sigma Verification Program dari Westgard QC…

Pendapatan PT Timah Tbk Tumbuh 19,88%

NERACA Jakarta-  Performance BUMN Tambang di tahun 2018 mencatatkan kinerja keuangan yang cukup apik. Setelah PTBA dan Antam yang membukukan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jumlah Investor di NTT Tumbuh Signifikan

Pengamat ekonomi, Dr James Adam mengemukakan, perkembangan investasi pasar modal di Provinsi Nusa Tenggara Timur menunjukkan kondisi yang menggembirakan dalam…

IHSG dan Nilai Kapitalisasi Tumbuh 1,22%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan kemarin tumbuh sebesar 1,22% ke…

Laba Multipolar Technology Turun 11,3%

Di tahun 2018, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) mencatatkan laba bersih sebesar Rp99,66 miliar atau turun 11,3% dibanding periode yang…