Tinggal di Apartemen Jangan Hanya Haus Privasi - Mengembalikan Fungsi Sosial

NERACA

Jakarta – Bunga (25) keluarga muda yang baru menikah dua tahun lalu, mengungkapkan kenyamanannya pilih tinggal di apartemen Permata Hijau Residence, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan lantaran privasinya terjaga serta keamanan yang bagus. Dirinya mengungkapkan, alasan tinggal di apartemen selain karena menunggu pembangunan rumahnya yang tengah di renovasi juga karena lokasinya yang strategis.

Menurutnya, tinggal di apartemen mendapatkan ketenangan dan privasi yang terjaga tatkala lelah menjalani aktivitas. "Di sini nyaman. Nggak bising, nggak kepo orang-orangnya," pungkasnya. Apa yang disampaikan Bunga menjadi cerminan banyak orang, bila tinggal di apartemen bagi kalangan keluarga muda menjadi alternatif tempat tinggal yang tepat, khususnya mereka yang haus akan jaminan privasi, kenyamanan, kemewahan, dan ramah lingkungan. Tidak heran saat ini, apartemen tidak hanya diburu mereka para keluarga muda lagi modern atau eksekutif muda, tetapi juga para mahasiswa.

Ya, fenomena generasi millenium atau mereka yang usianya berada dalam rentang 18 hingga 34 tahun yang lebih senang tinggal di apartemen tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga di negara maju pada umumnya, seperti di Amerika Serikat. Wakil Presdir sekaligus Chief Operating Officer PT Intiland Development Tbk (Intiland), Sinarto Dharmawan mengakui, saat ini tren tinggal di apartemen sudah menjadi gaya hidup masyarakat dan bahkan gengsi. Tak heran, sejumlah pengembang mulai berburu lahan untuk membangun apartemen mulai harga ratusan juta hingga miliaran rupiah. “Apartemen mix-use yang menyatu dengan mal, perkantoran, fasilitas umum lain, hingga apartemen stand-alone yang memang benar-benar sebuah tempat tinggal yang mementingkan privasi tengah laku keras di pasar properti.”ungkapnya.

Ketatnya keamanan dan jaminan privasi tinggal di apartemen, membuat setiap tamu atau selain penghuni apartemen sulit mendapatkan akses masuk karena harus memiliki kartu akses, disamping keamanan 24 jam dengan dukungan alat CCTV.Bicara tinggal di apartemen memiliki plus dan minusnya. Keuntungannya, lokasi yang strategis dibandingkan perumahan biasa dan tinggal di apartemen dipandang lebih praktis bagai mereka yang super sibuk karena cukup membersihkan unit apartemen yang telah di beli saja. Disamping itu, perawatan taman, air, pembuangan, dan sirkulasi udara sudah dikelola dengan baik oleh pihak pengelola apartemen.

Sementara minusnya, budaya kehidupan tinggal di apartemen menjadi individualis karena mempertimbangkan saling menjaga privasi, disamping di apartemen hampir semua penghuninya sibuk dengan rutinitasnya dan pintunya selalu terkunci, sehingga memicu minimnya ruang komunikasi atau ada tegur sapa dengan tetangga. Tak ayal, sebagian besar orang merasa bahwa tinggal di sebuah apartemen tidak akan bisa merasakan kenyamanan bertetangga seperti saat tinggal di perumahan. Selain itu seringnya penghuni apartemen biasanya merupakan penyewa yang dengan cepat silih berganti juga membuat orang berasumsi bahwa penghuni apartemen adalah orang-orang yang individualis, tidak mau tahu urusan tetangga.

Kata sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Musni Umar, sikap individualisme penghuni apartemen merupakan dampak negatif dari modernisasi. Padahal, manusia ialah makhluk sosial, tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Model hunian vertikal, jelas Musni, memang memberikan sekat tinggi antara penghuni satu dan lainnya. Suka tidak suka, maraknya pembangunan apartemen telah membawa perubahan yang berarti tidak hanya secara fisik tetapi juga budaya penghuninya. Pasalnya, persoalan sempitnya lahan kemudian dicarikan solusi dengan membangun apartemen membawa perubahan dalam komunikasi masyarakat yang semula komunikasi di hunian horisontal menjadi komunikasi di hunian vertikal yang umumnya kurang ruang interaksi, sehingga menghasilkan sikap apatis, cuek dan masa bodoh.

Tentunya kondisi ini bertolak belakang dengan budaya Indonesia sebagai orang timur yang selalu tegur sapa, murah senyum, gotong royong dan suka berkumpul. Pada dasarnya, di manapun kita berada, kita tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu alangkah baiknya jika saling mengenal dengan tetangga di apartemen, terutama jika hal-hal yang bersifat darurat terjadi, seperti saat terjadi kecelakaan kecil atau saat mengalami sakit. Kepada siapa akan meminta bantuan jika tidak kepada orang terdekat, yakni tetangga. Sebenarnya hidup di apartemen pun tidak jauh berbeda dengan tinggal di perumahan. Bertetangga di apartemen pun penting demi kenyamanan dan keamanan selama menghuni apartemen. Terlebih jika tetangga apartemen sering berganti orang, maka mengenal tetangga penting demi mencegah adanya tindak kriminal di dalam gedung apartemen.

Perbanyak Ruang Interaksi

Sementara psikolog sosial dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yugiani Sugiarto menambahkan, seharusnya tinggal di apartemen tak membuat penghuninya menjadi semakin individualistis. Bagaimana caranya, dirinya menyarankan harus ada kegiatan di apartemen yang bisa membuat penghuninya tetap bisa bersosialisasi. Disebutkan, beberapa sarana, seperti fitness center, kolam renang, jalur joging, taman bermain, minimarket, restoran, dan kafe, bisa menjadi tempat untuk bersosialisasi.

Menurutnya, apartemen tidak membatasi individu untuk bersosialisasi, justru menyesuaikan dengan kebutuhan penghuninya. Dengan demikian, tradisi kehidupan bertetangga tidak lenyap.“Mereka yang tinggal di apartemen masih bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Hanya, terkadang mereka memiliki kesibukan masing-masing di luar apartemen, seperti bekerja. Solusi agar bisa terjalin interaksi antarsesama penghuni apartemen ialah berikan mereka ruang dan kegiatan terjadwal,“kata Sugiarto.

Hal senada juga disampaikan pengamat tata kota, Yayat Supriatna, dibutuhkan perhatian serius terhadap kebutuhan psikososial, preferensi, dan gaya hidup warga di lingkungan yang akan dibangun hunian vertikal, baik oleh pengembang maupun pemerintah. Dirinya menyakini, membina interaksi antar individu masyarakat di apartemen bisa lakukan melalui kegiatan paguyuban dan media layanan publik seperti taman ruang terbuka hijau, kolam renang, area barbecue dan fitness.

Adalah, Indah (35) yang merasakan betul kehangatan tinggal di apartemen Jakarta Barat dari pada sebelumnya. Dirinya bisa mengenal penghuni yang tinggal di lantai berbeda, bahkan di menara yang berbeda.”Dulu awalnya saya kesepian tinggal di apartemen karena tidak ada interaksi dengan tetangga.”ceritnya..

Namun, saat mencoba berkeliling fasilitas di apartemen, seperti taman atau pun kafe, di situlah Indah kenal dengan banyak penghuni lain.”Awal-awal memang cuma di dalam unit. Lalu saya ke kafe, kenal dengan yang lain, ada playground (taman), kenal dengan yang lain lagi, ngobrol hingga sampai akrab banget," jelasnya.

Menurutnya, fasilitas pendukung yang ada di apartemen berpengaruh terhadap interaksi dengan sesama penghuni. Saban sore, ibu dua anak ini selalu berkumpul dengan penghuni lainnya sembari menjaga anaknya yang masih balita di kafe yang letaknya berada di bagian bawah tower miliknya. Temannya itu justru bukan dari kalangan ibu-ibu.”Begitulah menariknya, enggak cuma yang sudah punya anak kenal dengan yang punya anak, tetapi sebaliknya juga kenal dengan anak-anak muda.”kata Indah.

Indah menuturkan, setiap minggunya selalu ada kegiatan yang diadakan pengelola ataupun komunitas warga apartemen. Kegiatan itu juga merupakan sebuah upaya untuk menciptakan kehangatan antarsesama penghuni. Hal senada dikatakan, Irfan, 41, penghuni di tower sebelahnya. Dia menuturkan, seusai kerja dirinya kerap menghabiskan waktu di kafe yang ada untuk sekadar merampungkan pekerjaan."Nongkrong, ngopi, buka laptop selesain pekerjaan, lalu kenal dengan penghuni lain bisa tambah relasi saya. Oh dia kerjanya di bagian ini, terbantu, kebangun relasi juga," kata Irfan, pegawai salah satu perusahaan konsultan komunikasi.

Menciptakan hunian apartemen yang nyaman bagi penghuninya tanpa meninggalkan budaya timur saling tegur sapa antar penghuni, guyub, saling gotong royong menjadi perhatian besar salah satu pengembang apartemen di Singapura yang tengah menjajaki pasar di beberapa negara, Asean, termasuk Indonesia yaitu Cairnhill Nine. Pengembang ini memiliki konsep untuk membangun apartemen dengan filosofi mereka yaitu 'Building People Building Community'.

Cairnhill Nine bukan hanya sebuah hunian pencakar langit, namun juga peduli terhadap kehidupan para penghuninya demi terciptanya sebuah keharmonisan, baik untuk pasangan muda, keluarga maupun dengan berbagai latar belakang profesi. Maka belajar dari keberhasilan Cairnhill Nine, diharapkan para pengembang properti di Indonesia tidak hanya mencari keuntungan bisnis semata tetapi bisa menciptakan hunian apartemen yang nyaman bagi penghuninya dari berbagai aspek, termasuk sosial. Semoga (bani)

BERITA TERKAIT

Menanti Gerak Cepat OJK Tangani Kisruh BRAU

NERACA Jakarta – Konflik kepanjangan antar pemegang saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) membuat investor semakin resah lantaran tidak…

Bidik Kelas Menengah - Menuai Prospek Emas RS Omni Lewat Pasar Modal

NERACA Jakarta – Bicara kesehatan adalah bagian penting untuk di jaga. Terlebih tiap tahunnya, biaya kesehatan selalu naik. Sejatinya, bisnis…

Bangun 16 Hotel di Indonesia - Transformasi PT Pos Indonesia Masuki Bisnis Hotel

NERACA Jakarta – Persaingan ketat bisnis pengiriman jasa kargo dan losgistik, memaksa PT Pos Indonesia untuk lebih giat ekspansi jika…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penjualan Mobil Astra International Turun 6,7%

NERACA Jakarta – Bisnis otomotif yang masih lesu masih dirasakan PT Astra International Tbk (ASII). Dimana emiten produsen otomotif ini…

Bidik Pasar Millenials - Topping Offf Emerald Bintaro Tepat Waktu

NERACA Jakarta- Menyusul serah terima kunci apartemen A yang tepat waktu di tahun lalu, PT Jaya Real Property Tbk sebagai…

Laba Bersih Unilever Terkoreksi 24,37%

NERACA Jakarta – Pencapaian kinerja keuangan PT Unilever Indonesia Tbk di kuartal tiga tercatat negatif. Dimana perseroan dalam laporan keuangannya…