Uni Emirat Arab Jadi Pintu Produk RI ke Timur Tengah - Diversifikasi Pasar Ekspor

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, Uni Emirat Arab (UAE) sangat berpotensi dijadikan sebagai pintu masuk pasar ekspor Indonesia ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, yang meliputi beberapa negara antara lain Oman, Qatar, dan Iran.

"UAE bisa dijadikan sebagai pusat distribusi (distribution center) bagi produk-produk Indonesia, untuk kemudian dapat diekspor kembali ke negara di sekitarnya," kata Bayu di kantornya, akhir pekan lalu.

Menurut Bayu, pemilihan UAE sebagai pusat distribusi sejalan dengan program pemerintah dalam memperluas pasar ekspor di Timur Tengah di tengah krisis keuangan di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa yang belum kunjung pulih.

Dia menjelaskan, Dubai saat ini merupakan merupakan hub bisnis termodern dikawasan Timur Tengah sehingga sangat layak dan efisien dijadikan sebagai pintu bagi produk Indonesia untuk menembus pasar di kawasan itu.

Lebih luas dari itu, Dubai telah menjadi perlintasan bisnis yang menghubungkan seluruh benua. Situasi politik di sejumlah negara di Timur Tengah saat ini belum mapan karena terjadi gejolak, yang sedikit banyak mengganggu distribusi.

Namun di sisi lain situasi yang tidak menguntungkan itu memicu tingginya permintaan terhadap komoditas tertentu seperti bahan makanan, obat-obatan, sandang dan material bangunan akibat kerusakan infrastruktur. "Selain meningkatkan pasar di UAE, Dubai bisa dijadikan basis produk-produk Indonesia untuk memenuhi kebutuhan ke negara-negara tetangganya," ujar Bayu.

Menurut data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia dengan UEA hingga Agustus 2012 mencapai sekitar sekitar US$ 2,15 miliar, meningkat 19,04% dibanding periode sama 2011 sebesar US$ 1,8 miliar, dengan surplus bagi Indonesia hanya sekitar US$ 12 juta. Nilai ekspor Indonesia mencapai US$1,08 miliar, sebaliknya Indonesia mengimpor produk dari UEA sekitar US$ 1,06 miliar. Surplus perdagangan Indonesia tersebut makin menurun sehingga harus dicarikan jalan keluar agar ekspor Indonesia dapat ditingkatkan. "Jadi, sudah saatnya cepat mencari terobosan baru untuk menjaga pertumbuhan ekspor nasional," kata Bayu.

Jumlah penduduk UAE saat ini sekitar 8,5 juta jiwa, dan 80% di antaranya merupakan pendatang. "Namun ekspatriat tersebut juga menjadi potensi pasar bagi produk-produk Indonesia negara itu karena membutuhkan komoditas yang lebih beragam. Ini peluang yang harud dapat tangkap," ujarnya.

Menurut catatan, Indonesia saat ini mengekspor sejumlah komoditi seperti makanan olahan, mebel, minyak nabati, tekstil dan garmen, mebel, suku cadang otomotif."Selain memenuhi pasar dalam negeri negara itu, setelah melalui proses pemberian nilai tambah (value added) bisa dipasarkan kembali oleh pengusaha setempat ke negara-negara lain yang menjadi tujuan ekspor UEA)," ujarnya.

Diversifikasi Pasar

Ditempat terpisah Ekonom INDEF Avriliani mengungkapkan, Indonesia harus mulai mengalihkan ekspornya dari negara konvensional, seperti Eropa, Amerika dan Cina, ke negara-negara Timur Tengah. Menurutnya, meskipun pasarnya kecil, namun, potensi di Timur Tengah masih sangat terbuka.

“Kalau melihat ke depan, Eropa dan Amerika tidak bisa lagi dijadikan pasar utama. Meskipun pada dasarnya ekspor dan impor kita juga tidak banyak diarahkan kesana. Namun, kita tetap perlu mengalihkan ke pasar-pasar baru, seperti Timur Tengah,” ujar Avriliani.

Menurut dia, Indonesia juga tidak bisa mengharapkan dari China, yang pertumbuhannya turun secara signifikan karena ekspornya ke Eropa dan Amerika turun drastis. “Karena itu, ekspor kita harus dialihkan ke pasar baru. Karena, meskipun Timur Tengah pasarnya sangat kecil, namun potensinya masih cukup besar untuk masuk kesana.” ujarnya.

Avriliani pun mengakui, bahwa untuk masuk ke pasar yang baru, membutuhkan waktu, namun, ia juga menyatakan bahwa itu semua tergantung kepada bagaimana pengusaha jeli untuk melihat peluang yang ada. “Pengusaha juga harus tahu apa yang diingikan oleh pasar yang baru. Karena itu, bukan hanya apa yang dicermati oleh Kemendeag, tetapi juga pelaku usahanya seharusnya sudah mulai tahu mengenai keinginan pasar,” ujarnya.

Dia menambahkan pelaku usaha seharusnya juga mulai jeli untuk melihat peluang yang ada di Indonesia. Karena dengan adanya peningkatan kelas menengah yang mencapai 60 juta orang, yang memiliki pengeluaran 10 juta keatas, akan menjadi pasar yang sangat potensial untuk dapat ditangkap oleh pengusaha.

BERITA TERKAIT

Niaga Komoditas - Indonesia Berpotensi Membawa Kebijakan Sawit Uni Eropa ke WTO

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pihaknya berpotensi untuk membawa kebijakan diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit yang dikeluarkan oleh…

Bidik Pasar Milenial - Erha Luncurkan E-commerce Produk Kesehatan Kulit

Boomingnya industri e-commerce di dalam negeri, dimanfaatkan Erha sebagai klinik kesehatan kulit untuk mendongkrak penjualan. Apalagi, saat ini belum banyak…

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Tenun dan Batik Ditargetkan US$58,6 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor produk tenun dan batik pada tahun 2019 mampu menembus angka USD58,6 juta atau…

OPEC Dinilai Perlu Terus Pangkas Pasokan Sampai Akhir 2019

NERACA Jakarta – Arab Saudi mengatakan pada Minggu (17/3) bahwa pekerjaan OPEC dalam menyeimbangkan kembali pasar minyak masih jauh dari…

Pemerintah Perkuat Promosi Batik dan Kain Tenun

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih mengungkapkan, pada Pameran Adiwastra Nusantara tahun…