AAJI: 2013, Premi Tetap Tumbuh dan Tantangan Makin Besar

NERACA

Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memprediksi pertumbuhan premi bisnis baru industri asuransi jiwa bisa sampai 25% pada 2013 mendatang, dengan total perolehan premi sebesar Rp104,9 triliun, dibanding proyeksi akhir tahun ini sebesar Rp83,9 triliun.

“Jadi, premi tetap naik, karena saluran distribusi semakin luas, jumlah agen juga semakin banyak. Sampai kuartal tiga sudah 285 ribu agen, naik dari 240 ribu agen,” jelas Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim, di Jakarta, Selasa.

Dia memaparkan, dari Rp104,9 triliun proyeksi perolehan premi bisnis baru di 2013 tersebut, sebesar Rp82,7 triliun merupakan premi perorangan, sementara sisanya sebesar Rp22,2 triliun merupakan premi kumpulan. Sedangkan sampai akhir tahun ini, AAJI memproyeksi perolehan premi baru sebesar Rp83,9 triliun, dengan rincian Rp66,1 triliun merupakan premi perorangan, dan sisanya Rp17,8 triliun adalah premi kumpulan.

Sementara sepanjang 2011, premi bisnis baru mencapai Rp67,1 triliun, yang Rp52,9 triliun merupakan premi perorangan dan Rp14,2 triliun adalah premi kumpulan. “Selama lima tahun terakhir, baik premi bisnis baru maupun premi lanjutan selalu meningkat rata-rata 25%. Sampai dengan akhir tahun 2012, diharapkan premi bisa meningkat 25-30%,” kata Hendrisman.

Adapun sampai triwulan III 2012, perolehan premi bisnis baru asuransi jiwa sudah sebesar Rp50,6 triliun, dengan rincian Rp40,4 triliun merupakan premi perorangan, dan Rp10,2 triliun adalah premi kumpulan.

Selain itu, Hendrisman menuturkan, keberadaan 46 perusahaan asuransi jiwa dan empat perusahaan reasuransi di Indonesia bisa menjadi kekuatan tersendiri untuk meningkatkan penetrasi asuransi di Indonesia. Kendati peluang untuk perkembangan industri asuransi di Indonesia sangat besar, namun masih ada beberapa kelemahan dan tantangan yang harus bisa diatasi.

“Meningkatnya kelas menengah di Indonesia yang mulai menyadari pentingnya perlindungan terhadap risiko dan investasi merupakan sebuah peluang,” ungkapnya. Namun, lanjutnya, ada beberapa kelemahan yang cukup menjadi persoalan antara lain penetrasi asuransi jiwa yang masih rendah, kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi, serta penyebaran distribusi asuransi yang belum merata ke pelosok Indonesia.

“Selain itu, liberalisasi sektor keuangan, termasuk asuransi, kenaikan usia harapan hidup, dan kenaikan beban atas kenaikan jumlah penduduk berusia lanjut menjadi tantangan yang harus dihadapi industri asuransi jiwa,” tutup Hendrisman. [ardi]

BERITA TERKAIT

Pembayaran Dividen di 2017 Tumbuh 14,5%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kenaikan pembayaran dividennya untuk tahun buku 2017 lalu sebesar 14,5% dibandingkan…

BPS: NPI Masih Defisit di Agustus 2018 - MESKI EKSPOR TUMBUH, LAJU IMPOR LEBIH DERAS

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) sepanjang Agustus 2018 mengalami defisit sebesar US$1,02 miliar, menurun sedikit…

Pertemuan Berkala Timses Jokowi dan Timses Prabowo

    Oleh : Toni Ervianto, Alumnus Pascasarjana Universitas Indonesia (UI)   Timses Jokowi-Ma'ruf Amin mengusulkan ada pertemuan secara berkala…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

CIMB Group Jaring Talenta Bidang Digital

  NERACA   Jakarta - CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group) menyelenggarakan CIMB 3D Conquest, kompetisi yang bertujuan mendapatkan dan…

Persiapan Pertemuan IMF – World Bank Hampir Matang

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhur Binsar Pandjaitan mengatakan persiapan penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-World…

Mandiri Utama Finance Luncurkan Produk Syariah

      NERACA   Jakarta – Melihat potensi pasar yang besar, PT Mandiri Utama Finance (MUF) meluncurkan produk pembiayaan…