Intervensi Bank Sentral, Rupiah Sedikit Menguat

NERACA

Jakarta - Nilai tukar rupiah pada Senin (24/6) sore, bergerak di area positif atau menguat sebesar 62 poin menjadi Rp9.918 per dolar AS dibandingkan posisi pada akhir pekan lalu yang nyaris menembus level Rp10 ribu, tepatnya Rp9.980 per dolar AS. Untuk kurs tengah Bank Indonesia (BI) tercatat, mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp9.931 per dolar AS dibanding sebelumnya, Jumat (21/6), di posisi Rp9.960 per dolar AS.

Penguatan ini karena Bank Indonesia (BI) yang terus melakukan intervensi di pasar uang. \"Di tengah proyeksi The Fed yang akan mengurangi stimulus keuangannya itu mendorong dolar AS terangkat, namun intervensi BI menahan penguatan mata uang AS itu terhadap rupiah,\" kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Ruly Nova di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang telah dinaikkan diperkirakan juga menjadi salah satu indikator nilai tukar mata uang domestik terangkat. \"Naiknya BM itu maka subsidi terhadap BBM berkurang sehingga defisit neraca pedagangan Indonesia dapat tertekan,\" ujar dia.

Sementara Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menuturkan, dari sisi eksternal, terdapat beberapa sentimen positif bagi rupiah yakni penguatan nilai tukar yuan sehingga menaikkan tingkat referensi antar valuta asing. Selain itu, lanjut dia, adanya intervensi dari Bank Indonesia, serta rencana antisipasi Pemerintah terhadap suplai bahan kebutuhan pokok untuk kendalikan inflasi dan perkiraan membaiknya ekonomi Indonesia pada 2014.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo pernah bilang, bank sentral memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2014 mendatang akan tak jauh berbeda dengan tahun ini, yaitu di kisaran Rp9.500-Rp9.700 per dolar AS. Pasalnya, nilai tukar rupiah tahun depan akan dipengaruhi, antara lain, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang diprediksi lebih baik dibandingkan di 2013.

Sementara tahun ini, nilai tukar rupiah juga ditopang oleh proyeksi NPI yang bakal membaik di semester II 2013, di mana akan terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang segera diumumkan pemerintah.

Lebih lanjut Agus Marto mengatakan, dia juga memperkirakan transaksi modal dan keuangan akan tetap mencatat surplus, seiring prospek perekonomian domestik yang juga kuat. “Tak hanya itu saja. Berbagai pendalaman pasar valas akan terus dilaksanakan dan akan berkontribusi positif pada pergerakan nilai tukar di tahun 2014,” ungkap dia, pekan lalu.

Di sisi lain, pihaknya memprediksi tingkat inflasi 2014 akan berada pada 4,5% plus minus satu persen. Perkiraan itu ditopang prospek peningkatan sisi penawaran yang cukup tinggi. Hal tersebut pada gilirannya akan memenuhi permintaan domestik dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sedangkan inflasi 2013 sendiri, BI memproyeksikan akan meningkat di angka 7,69% atau di atas asumsi APBN-P 2013 sebesar 7,2%. Hal itu disebabkan pengaruh penyesuaian harga BBM bersubsidi. \"Namun kami melihat inflasi tahun 2013 ini masih berpeluang 7,2% atau lebih tinggi lagi,\" terang Agus Marto. [ardi]

Related posts