Harga Masih Bergejolak, Penjualan Daging Belum Stabil

NERACA

Jakarta - Aktivitas pedagang daging sapi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, masih belum stabil. Beberapa pedagang mengaku masih enggan berjualan dan menunggu harga kembali normal seperti biasanya. Dari pantauan Neraca di pasar Kebayoran Lama terdapat puluhan kios atau lapak pedagang masih terlihat tutup, hanya beberapa pedagang yang masih menjajakan daging di kiosnya.

Salah satunya Rahmat, pedagang sapi yang biasa dipanggil Mamat mengeluhkan penjualannya turun drastis akibat kenaikan harga kemarin. "Biasanya dalam sehari bisa terjual 100 kg, sekarang paling hanya 50 sampai 75 kg, itu pun maksimal. Sekarang agak sepi semenjak kemarin lebaran itu," katanya kepada Neraca, Senin (19/11).

Menurut dia dari 30 pedagang daging sapi yang terdaftar di Pasar Koja hanya hanya tiga kios yang terlihat berjualan. "Cuma saya, yang di depan itu, sama di pojok, yang masih berjualan normal. Biasanya kami buka dari jam 01:00 WIB sampai jam 18:00 WIB, tetapi sekarang sudah banyak yang pada tutup. Takutnya kan pembeli belum tahu. Harapan saya harga daging turun semaksimal mungkin, sama seperti dulu Rp 70.000 per kilonya. Agar terjangkau pembeli," tandas Mamat.

Masalah harga daging yang dikeluhkan pedagang mengalami lonjakan harga. Di pasar tradisional sendiri beberapa pedagang daging sapi masih enggan berjualan karena diberlakukannya pembatasan stok daging impor dan menyebabkan kenaikan harga hingga Rp 100.000 per kilogram-nya.

Pedagang Mogok

Sementara itu, Ketua Komite Daging Sapi DKI Jakarta Raya, Sarman Simanjorang mengungkapkan lonjakan harga daging sapi yang menembus angka Rp 100.000/kg berimbas pada mogoknya para pedagang bakso dan para pedagang yang menggunakan bahan baku daging sapi. Kerugian yang diderita mencapai miliaran rupiah.

Lebih jauh lagi Sarman mengatakan, setidaknya ada 16 ribu UKM yang terpukul terhadap lonjakan harga daging sapi ini. Sebagian besar diantaranya memilih untuk mogok berjualan dan berujung pada kerugian. "Kemarin banyak tukang bakso yang tutup. Ruginya miliaran. (Lonjakan harga) Imbasnya ke tukang bakso, tukang sate, warung makan hampir seluruhnya mogok. sebagai bentuk protes mereka kepada pemerintah yang menyatakan daging sapi ada padahal nggak. Angka pastinya mesti saya hitung. Tapi miliaran," ungkap Sarman.

Sarman menambahkan di Jabodetabek, setidaknya ada 16 ribu usaha kecil dan menengah (UKM) yang membutuhkan daging sapi untuk bahan baku usahanya. Tak hanya UKM, permintaan besar pun datang dari hotel, restoran dan kafe (horeka).

"Di Jakarta ada 16 ribu UKM yang membutuhkan daging sapi tiap hari. Tukang sate, bakso, warung Padang. Itu baru UKM. Belum yang besar dimana perusahaan setiap hari butuh bahan baku, contohnya Hotel Borobudur 300 kg untuk buntutnya doang," tegasnya.

Sarman mendesak pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menyediakan kuota khusus untuk pasokan di DKI Jakarta, guna mencegah adanya lonjakan harga daging sapi yang terjadi seperti sekarang ini. "Kita ingin selalu tersedia, suplainya lancar. Pasokan ke DKI Jakarta kan semua dari luar, tidak ada di dalam DKI sendiri. Makanya kami minta kepada Gubernur untuk menyediakan kuota khusus Jakarta, 50 ribu ton/tahun," cetusnya.

Stabilkan Harga

Ketua komisi IV DPR, M. Romahurmuziy mendesak pemerintah segera atasi lonjakan harga daging sapi yang terjadi beberapa hari terakhir. "Kenaikan harga daging sapi sepekan terakhir sudah di luar kewajaran, padahal tidak ada kenaikan konsumsi yang berarti," kata pria yang akrab dipanggil Romy.

Romy meminta agar pemerintah segera menyelesaikan masalah yang terjadi di rantai pasok. "Persoalannya hanya mungkin di dua tempat para pengusaha penggemukan sapi (feed lotter) atau para pengusaha rumah potong hewan (jagal sapi)," kata Sekretaris Jenderal PPP itu.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, Romy mengatakan pemerintah harus cermat betul dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. "Pemerintah jangan gegabah menambah kuota impor daging atau sapi, karena belum tentu di situ persoalannya," ujarnya.

Dia mengatakan populasi sapi nasional sekarang sekitar 15,9 juta ekor. Artinya, stok ini cukup untuk pasokan domestik, tanpa harus terjadinya kenaikan harga, terutama menjelang libur natal dan tahun baru. "Pemerintah harus mendata, dimana populasi itu berada, dan bagaimana memobilisasinya ke rumah-rumah potonghewan di pusat-pusat konsumsi, khususnya Jabodetabek," tegasnya.

Komisi IV DPR RI, kata Romy, akan mengagendakan pemanggilan pihak-pihak terkait. "Seperti dirjen peternakan kementan serta asosiasi pedagang sapi, asosiasi pedagang bakso, asosiasi importir daging sapi, dan asosiasi feed lotter," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Urban Jakarta Bidik Penjualan Rp 240 Miliar - Harga IPO Rp 1000-1250 Per Saham

NERACA Jakarta – Tren pengembangan proyek properti berbasis transit oriented development (TOD) cukup menjanjikan kedepannya, apalagi pembangunan LRT yang digarap…

Tren IHSG Belum Beranjak di Zona Merah - Defisit Transaksi Berjalan Melebar

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin (12/11) awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 97,10 poin atau…

Drama Harga Premium

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Drama harga premium sempat dipertontonkan pemerintah ketika sebelumnya dinyatakan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS Sebut Pengembangan Vokasi Masih Temui Hambatan

NERACA Jakarta – Pengembangan pendidikan vokasi masih menemui banyak hambatan. Di antaranya adalah mengenai kurangnya fasilitas penunjang, tempat praktik dan…

Perang Dagang Disebut Memperparah Ketidakpastian Global

NERACA Jakarta – Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus terjadi dalam beberapa hari belakangan. Rupiah menguat hingga…

Duta Ayam-Telur Diharapkan Dorong Konsumsi Protein Hewani

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) mengharapkan Duta Ayam dan Telur…