Pemerintah Tak Boleh Terlena, Kuatkan Produksi dan Infrastruktur - DEFLASI APRIL SEBESAR 0,31%

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis deflasi berturut-turut terjadi sejak Maret hingga April kemarin yang masing-masing 0,32% dan 0,31%. Jika inflasi menjadi suatu hal yang menakutkan karena berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dan berpotensi menimbulkan defisit neraca perdagangan, maka apakah deflasi lantas menjadi sinyal positif memacu kegiatan ekonomi nasional?

NERACA

Ekonom FEUI Aris Yunanto menilai, terjadinya deflasi yang lebih terpicu oleh penurunan harga bahan makanan seperi beras dan cabe tidak bisa mencerminkan penguatan ekonomi. ”Pemerintah jangan terlena dan harus hati-hati. Justru jika tanpa inflasi, pertumbuhan ekonomi sulit tercapai,” katanya ketika dihubungi Neraca, Senin (2/5).

Deflasi sendiri terjadi karena adanya panen raya menciptakan persediaan yang melebihi permintaan sehingga harga turun. Adanya jaminan pasokan dengan harga rendah membuat keinginan belanja masyarakat turun.

Sebaliknya inflasi menandakan adanya peningkatan peredaran uang di masyarakat. Hingga level tertentu, berarti masyarakat memiliki dana untuk membelanjakan penghasilannya. Namun, ini juga menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sejatinya rapuh karena laju pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh kegiatan konsumsi. Sedangkan idealnya, lanjut Aris, pertumbuhan mestinya ditopang oleh sektor produksi.

Untuk meningkatkan produksi dan sekaligus menguatkan daya beli masyarakat, Aris meminta pemerintah memperbanyak komoditas yang mendapat fasilitas pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN-DTP). ”Sehingga, lebih banyak barang yang diproduksi berharga kompetitif dan terjangkau masyarakat. Ini keseimbangan antara produksi dan konsumsi,” ujar Aris.

Sementara itu, jika kegiatan konsumsi terus berlangsung tanpa ada diimbangi produksi maka hal ini akan menggerus nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan. Hal ini dimulai dengan membanjirnya barang impor karena produksi domestik kurang mampu bersaing.

Untuk mendorong produksi, kata Aris, pemerintah mesti menjamin ketersediaan bahan baku dan dalam jangka panjang Indonesia tidak mengimpor barang mentah. Selama ini, Indonesia masih berkutat menjalankan kegiatan ekonomi di sektor hulu daripada hilir. ”Kita belajar dari China, mereka berani mengganggarkan dana dan berinvestasi untuk mengimpor bahan baku dan barang setengah jadi. Lantas mengekspor dalam barang jadi,” katanya.

Untuk itu, pemerintah perlu merangsang investasi dengan serius menggarap infrastruktur dan transportasi. Dengan sumber daya alam yang tersebar, investor yang tertarik menanamkan modal di pelosok Indonesia selalu memperhitungkan ketersediaan infrastruktur seperti listrik, pelabuhan dan jalan raya. ”Untuk mendukung logistik dan distribusi produk, harus ada jalur transportasi memadai. Ini untuk meningkatkan efisiensi mereka,” ujarnya.

Bersifat Musiman

Secara terpisah, pengamat ekonomi Nina Sapti Triaswari menilai terjadinya terjadinya deflasi Maret-April ini hanya musiman saja. Bahkan, selanjutnya terjadi lagi sewaktu-waktu karena permintaan pasar atau daya beli masyarakat menurun.

Sedangkan untuk melihat inflasi keseluruhan harus dilihat pertahun dan profil inflasi dan deflasi belum bisa dilihat karena belum sampai akhir tahun. ”Secara umum, inflasi bisa terjadi di beberapa daerah karena kurang didukungnya dengan infrastruktur yang adadan distribusi yang kurang baik.

Dia menegaskan, kinerja ekonomi dapat diperkuat dengan peningkatan hasil produksi dalam negeri melalui swasembada, memproduksi minyak dengan baik sekaligus menekan penggunaan energi yang berlebihan, pengalihan ke sumber energi yang lain seperti gas. ”Selain itu, upaya kunci yang harus dilakukan pemerintah adalan mendorong pengembangan di sektor riil,” ujar Nina.

Sementara itu, Kepala Peneliti Ekonomi LIPI Latif Adam mengatakan, deflasi yang terjadi di kuartal I-2011 ini sama dengan di tahun 2002 silam, di mana deflasi terjadi akibat panen raya. Dirinya menambahkan, belum tentu tekanan inflasi akan berkurang karena harga pangan menjadi salah satu faktor terjadinya inflasi.

“Penyebabnya ada dua. Pertama, demand lebih tinggi dari supply. Disini, produksi tidak mampu mengikuti permintaan pasar. Saya melihat, pasca-panen nanti, harga pangan pasti bergejolak karena hal tadi. Kedua, fenomena harga minyak dunia. Untuk internalnya, saya tidak yakin pemerintah akan menghapus Premium,” ujarnya kemarin.

Senada dengan Nina, dia menegaskan agar kapasitas produksi dari sektor pertanian, industri, dan migas harus dioptimalisasi. Lantas, inflasi juga dipengaruhi jalur distribusi yang tidak merata. Artinya, disini yang harus menjadi fokus pemerintah adalah perbaikan infrastruktur khususnya luar Pulau Jawa.

“Selain dibutuhkan dukungan infrastruktur juga jaminan bahan baku, promosi investasi, pengembangan teknologi, proses perizinan yang efisien, dan berbagai kebijakan insentif fiskal yang mudah. Ini supaya pertumbuhan perekonomian tidak hanya terpusat di (Pulau) Jawa saja,” ucap dia.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan menyebutkan, deflasi terjadi pada bulan April sebesar 0,31%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 125 ,66. Deflasi terjadi karena penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 1,9%.

Secara keseluruhan, inflasi tahun kalender Januari-April 2011 sebesar 0,39%. Sedangkan laju inflasi year-on-year sebesar 6,16%. Untuk inflasi inti, pada April 2011 mengalami inflasi sebesar 0,25%. Sedangkan, laju inflasi inti year-on-year April 2011 terhadap April 2010 , mencapai 4,62 %. "Dalam 3 bulan (ini) memang sekali lagi ya apa inflasi umum masih lebih rendah dari inflasi inti," katanya dalam paparan bulanan di kantornya di Jakarta, kemarin.

Dari deflasi 0,31%, komoditas bahan makanan menyumbang 0,48%. "Ini menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran rumah tangga yang mengalami deflasi. Sedangkan yang lainnya (makanan jadi, minuman, rokok) mengalami inflasi," ujar Rusman

Dalam komoditas bahan makanan, sumbangan tiga terbesar terhadap deflasi berasal dari bawang merah yang menyumbang 0,13% dari 0,31% deflasi. Sedangkan, cabai merah dan cabai rawit sebesar 0,11% serta daging ayam ras menyumbang deflasi 0,03%.

Dia juga menganalisis, penundaan sejumlah kebijakan pemerintah terutama kebijakan pengaturan BBM memberikan kondisi yang positif terhadap inflasi. Sebaliknya, wacana penghapusan premium dan pengalihan ke Pertamax sangat berpotensi menaikkan inflasi. Inung.

BERITA TERKAIT

JANGAN TERULANG KASUS PENYELEWENGAN BLBI - DPR: Tambahan Dana Covid-19 Rp 405 Triliun Rentan Dikorupsi

Jakarta-Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan, pemerintah terkait risiko penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dalam pelaksanaan aturan baru terkait…

Pelanggan Listrik 1.300 VA Perlu Stimulus Pemerintah

NERACA Jakarta - Analis kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan masyarakat pelanggan listrik 1.300 VA (Volt Ampere) juga…

PEMERINTAH KAJI INSENTIF LISTRIK BAGI INDUSTRI DAN UMKM - Menkeu Prediksi Defisit APBN 2020 Tidak Lebih 5%

Jakarta-Meski pemerintah memberikan banyak bantuan stimulus dan insentif khusus bagi kalangan industri dan pengusaha UMKM yang usahanya terdampak virus Covid-19,…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

JANGAN TERULANG KASUS PENYELEWENGAN BLBI - DPR: Tambahan Dana Covid-19 Rp 405 Triliun Rentan Dikorupsi

Jakarta-Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan, pemerintah terkait risiko penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dalam pelaksanaan aturan baru terkait…

Pelanggan Listrik 1.300 VA Perlu Stimulus Pemerintah

NERACA Jakarta - Analis kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan masyarakat pelanggan listrik 1.300 VA (Volt Ampere) juga…

PEMERINTAH KAJI INSENTIF LISTRIK BAGI INDUSTRI DAN UMKM - Menkeu Prediksi Defisit APBN 2020 Tidak Lebih 5%

Jakarta-Meski pemerintah memberikan banyak bantuan stimulus dan insentif khusus bagi kalangan industri dan pengusaha UMKM yang usahanya terdampak virus Covid-19,…