BNI Investasikan Rp 3,9 Triliun di Bisnis Jalan Tol - Garap Tol Trans Sumatera

NERACA

Jakarta – Guna meningkatkan pendapatan, ekspansi bisnis PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terus berkembang pesat. Salah satunya, perseroan tengah serius menggarap proyek jalan tol trans Sumatera berasama PT Hutama Karya (Persero). Ke depan perseroan bersama HK siap mengeluarkan obligasi infrastruktur, berbasis setiap seksi jalan tol yang telah terbangun.

Direktur Utama BNI, Gatot M. Suwondo mengatakan, di tahap awal perseroan siap mendukung pembiayaan pembangunan jalan bebas hambatan dari titik utara ke selatan Pulau Sumatera, “Dana untuk pembebasan lahan yang siap dicairkan sebesar Rp 3,9 triliun, “katanya di Jakarta, Senin (22/10).

Dia menuturkan, proyek jalan tol ini dibuat bertahap. Setelah seksi I berhasil dibangun dan beroperasi, tentu menghasilkan pendapatan hasil penarikan karcis. Ruas tol yang terbangun inilah yang menjadi jaminan atas obligasi yang dijual kemudian hari.

Dana hasil penerbitan obligasi digunakan untuk membiayai ruas lanjutan jalan tol trans Sumatera. Skema serupa berlaku untuk ruas tol selanjutnya. Tentu perseroan menunjuk anak usahanya PT BNI Securities dalam rangka penerbitan surat utang ini. "Dengan Hutama Karya (Kredit) Rp 3,9 triliun. Dari pada jual per seksi (ruas tol), kita jual bonds untuk membangun. Setelah jadi (ruas tol seksi I) di jual," ujarnya.

Maka demi memuluskan rencananya ini, BNI bersama HK juga akan bekerja sama dengan PTPTN III selaku pemilik lahan yang siap dibebaskan. Dalam pengerjaan Trans Sumatera, BNI akan membuka pembicaraan secara intensif dengan kedua BUMN ini."Ngobrol duduk dulu, pembiayaan berapa, berapa aturan yang kami bicarakan. Pembagian tugas jalannya bagimana. Pembangunan tol yang menggunakan akusisi lahan PTPN menurut saya ide brilian," tambahnya.

Kata Gatot, dengan menggunakan lahan PTPN, diyakini proses pembangunan jalan tol lintas Sumatera ini akan lebih mudah.

Kinerja Keuangan

Sepanjang kuartal III- 2012, perseroan mencatatkan laba bersih Rp5,03 triliun atau tumbuh 24,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,04 triliun, “Pendapatan operasional kami yang tumbuh 12,1% merupakan penyangga tumbuhnya laba bersih BNI. Itu merupakan hasil dari perbaikan kinerja kami yang terus dikembangkan,” ungkap Gatot.

Dari pendapatan bunga bersih, perseroan mencatat terjadi peningkatan sebesar 19% dalam setahunan dari Rp9,41 triliun menjadi Rp11,20 triliun pada triwulan tiga 2012. Sementara pendapatan non bunga tumbuh 0,6% dari Rp5,71 triliun menjadi Rp5,75 triliun, “Jadi laba naik 24,5%, itu ada dua faktor utama. Pertama provision expenses kita yang turun 8,7% year on year (setahunan) dari Rp2,48 triliun jadi Rp2,27 triliun. Juga ada penurunan pajak,”kata Direktur Keuangan BNI Yap Tjay Soen.

Sementara pada triwulan tiga 2011, laba sebelum pajak BNI tercatat sebesar Rp5,43 triliun. Dengan perolehan laba bersih Rp4,04 triliun, maka pajak yang dibayarkan perseroan sekitar 25,55%. Sementara pada triwulan tiga 2012, pajak yang dibayarkan sekitar 20% dari laba sebelum pajak sebesar Rp6,27 triliun.

Untuk penyaluran kredit, BNI mencatat pertumbuhan 14,8% dalam setahunan dari Rp160,71 triliun menjadi Rp184,47 triliun. Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) naik 16,9% dari Rp204,38 triliun menjadi Rp238,93 triliun. Demikian total aset perseroan mengalami pertumbuhan 15,6% dari Rp268,43 triliun menjadi Rp310,42 triliun.

Sementara rasio keuangan lainnya tercatat rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 17,1%, marjin bunga bersih (NIM) 5,8%, kredit bermasalah (NPL) gross 3,4%, return on aset (ROA) 2,8% dan return on equity (ROE) 19,7%, serta cost in income ratio (CIR) 47,1%. (ria)

Related posts