Kemendag Dorong Investasi ke Negara Tujuan Ekspor

Jumat, 19/10/2012

NERACA

Jakarta - Kondisi pertumbuhan ekonomi dunia yang sedang melamban turut mempersulit Indonesia melakukan promosi produk di luar negeri. Apalagi kecenderungannya harga komoditas di sedang menurun. Hal ini memperlihatkan fleksibilitas memanfaatkan pangsa pasar masih rendah, eksportir Indonesia belum cukup responsif untuk berpindah produk dan/atau negara tujuan ekspor sesuai dengan naik turunnya permintaan. Sehingga, dibutuhkan dorongan investasi di negara tujuan ekspor, sebagai langkah awal terjadinya kegiatan perdagangan. Selain itu, ekonomi biaya tinggi, buruknya jasa infrastruktur menunjukkan kecilnya sumbangan daya saing dalam peningkatan pangsa ekspor Indonesia di dunia.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, diversifikasi dagang merupakan keharusan, tidak hanya antar negara, tetapi harus juga melakukan diversifikasi produk. “Negara kita ini memiliki potensi besar untuk pengembangan produk bahan tambahan pangan (food ingredient). Sangat disayangkan, apabila tidak dikembangkan,” ujarnya pada forum diskusi Trade Expo Indonesia di Jakarta International Expo, Kamis (18/10).

Bayu mengungkapkan, Kementerian Perdagangan akan mendorong investasi di negara lain atau negara tujuan ekspor Indonesia, sebagai langkah awal untuk memancing terjadinya kegiatan perdagangan. Menurut dia, itu merupakan langkah yang cukup efektif sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan ekspor Indonesia di masa mendatang. “Berdasarkan pengalaman, hampir dalam setiap misi dagang, sekarang jauh lebih mudah melakukan ekspor kalau diawali dengan investasi. Jadi, kita tidak hanya menjual barang di sana, juga mulai dengan investasi, meskipun nilainya kecil,” terangnya.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah merintis hal itu di beberapa negara, seperti Afrika Selatan. Di negara itu, Indonesia unggul dalam sejumlah komoditas, seperti kopi, walaupun investasinya baru sekedar sebuah gudang penyimpanan atau pengepakan. Namun, niat pengusaha memperbesar pangsa ekspor di negara-negara selatan seperti Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah bukannya tanpa kendala.

Masalah Bea Masuk

Usaha pengusaha itu terbentuk dinding tebal bernama bea masuk ke negara-negara tersebut. Untuk ekspor produk makanan dan minuman misalnya, bea masuk ke negara tujuan ekspor itu terbilang amat tinggi, bisa sampai 30%. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman mengatakan, dengan bea masuk yang tinggi, produk makanan dan minuman Indonesia akan sulit bersaing dengan negara lain yang sudah menjalin kerjasama dengan negara tujuan ekspornya itu.

Salah satunya adalah Malaysia, yang saat ini memasok produknya ke Afrika Selatan. Adhi berharap, perundingan perdagangan Indonesia dengan Afrika Selatan bisa membawa angin segar berupa keringanan bea masuk ekspor produk makanan dan minuman. "Kami inginnya bea masuk sama dengan bea masuk most favored nation (MFN) yang ada di kisaran 5% sampai dengan 6%," ujarnya.

Menurut Adhi, Afrika Selatan menyimpan potensi besar sebagai tujuan ekspor makanan dan minuman. "Indonesia harus masuk ke negara-negara selatan supaya tidak terlalu tergantung pada Amerika Serikat (AS) dan Eropa," tegasnya. Maka dari itu, pihak Gapmmi bersama-sama dengan Kementerian Perdagangan tengah melakukan pertemuan delegasi ke Afrika Selatan. Adapun produk yang permintaannya paling tinggi adalah kopi, cokelat, kelapa, minyak sawit, maupun produk olahan seperti mi instan.

Ekspor makanan dan minuman Indonesia setiap tahunnya mencapai US$ 4 miliar. Sebanyak 15% di antaranya mengalir untuk AS, 10% untuk Eropa, 10% untuk Jepang, dan sisanya lain-lain. Porsi ekspor ke Afrika sendiri masih minim, hanya sekitar US$100 juta.