Badai Krisis Global Hantam Ekspor Mebel

Nilai Ekspor Diperkirakan Turun 20%

Kamis, 18/10/2012

NERACA

Jakarta - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) memprediksi nilai ekspor produk furnitur Indonesia hingga akhir tahun ini mengalami penurunan sebesar 20% dibandingkan realisasi tahun lalu akibat krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat dan Eropa.

“Pelaku usaha mebel dan kerajinan mempertanyakan komitmen pemerintah yang sebelumnya menjanjikan untuk membantu membuka akses ekspor ke negara-negara tujuan lain seperti China, India, Australia maupun Korea Selatan. Kami sangat kecewa dengan pemerintah yang hingga kini belum merealisasikan komitmennya untuk membantu mengalihkan pasar ekspor,” kata Ketua Umum Asmindo, Ambar Tjahyono di Jakarta, Rabu (17/10).

Untuk mengatasi menurunnya kinerja ekspor mebel dan kerajinan, menurut Ambar, pemerintah pada awal tahun berjanji akan membantu untuk memfasilitasi pembukaan pasar ekspor baru. “Tanpa ada campur tangan pemerintah, pelaku industri furnitur yang selama ini berorientasi ekspor kondisinya akan semakin terjepit. Terlebih lagi untuk kembali ke pasar domestik, kini mereka harus bersaing dengan produk-produk furnitur impor asal China yang dibanderol dengan harga murah,” paparnya.

Asmindo, lanjut Ambar, pesimis nilai ekspor furnitur Indonesia pada tahun ini bisa menyamai realisasi ekspor tahun lalu sebesar US$ 2,2 miliar dengan rincian US$1,75 miliar untuk subsektor mebel dan US$450 juta untuk kerajinan. “Bisa menyamai pencapaian tahun lalu saja sudah luar biasa. Tapi kalau melihat realisasinya sampai bulan ini, saya prediksi nilainya bakal anjlok 10% hingga 20% dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.

Produk furnitur asal Indonesia yang berorientasi ekspor umumnya merupakan produk furnitur kayu berbasis bermodel ukiran yang harga dan kualitasnya jauh lebih mahal dibandingkan produk furnitur yang laku di pasar domestik. Merosotnya kinerja ekspor Indonesia sepanjang tahun 2012 menjadi tamparan tersendiri bagi pemerintah dan pelaku usaha di dalam negeri yang selama ini hanya terfokus pada pasar ekspor.

Investor Asing

Di tempat berbeda, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian Aryan Wargadalam mengatakan, industri furnitur nasional kalah dari Vietnam. Ini lantaran banyak investor asing yang berinvestasi di Vietnam. "Furnitur, kalah kita sama vietnam," sebut Aryan.

Dia menjelaskan, sepuluh tahun yang lalu, nilai ekspor produk mebel Vietnam ke Amerika Serikat di bawah US$ 100 juta Adapun nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 300 juta. Nilai ekspor tersebut terbalik pada tahun 2010. Nilai ekspor furnitur Indonesia ke AS hanya US$ 500 juta, sedangkan ekspor Vietnam justru mencapai US$ 1,2 miliar. "Itu nilai ekspor satu tahun. Ekspor furnitur semua, bukan hanya rotan," kata Aryan.

Tahun lalu, kata Aryan, total ekspor mebel Indonesia mencapai US$ 1,6 miliar atau naik sekitar 5-10%. Aryan mengatakan, salah satu faktor furnitur Vietnam lebih unggul adalah banyak investor asal AS yang berinvestasi di negara tersebut.

Sementara Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh membantah, bahwa kebijakan mengenai rotan tersebut sering diplesetkan sehingga kebijakan tersebut sering dinyatakan tidak berhasil. “Kalau pun ada itu datanya tidak benar. Di situasi krisis global ini, ekspor barang jadi rotan itu masih meningkat, nilai sudah tercatat dari Januari hingga September 2012 sebesar US$187 juta, dibanding Januari hingga September tahun 2011 barang jadi rotan hanya US$108,96 juta, jadi naiknya 44,81%,” ujarnya.

Pemerintah masih mengklaim dengan peningkatan nilai tambah maka nilai ekspor produk rotan pun bisa kian besar. Pada tiga bulan pertama 2012, nilai ekspor produk jadi rotan baik furnitur dan kerajinan telah mencapai US$58,2 juta, diperkirakan pada akhir tahun 2012, ekspornya akan mencapai US$275 juta. Meningkatnya ekspor produk jadi furnitur rotan jelas akan membangun gairah wirausaha baru di bidang industri rotan.

Berbagai upaya kebijakan telah dan akan dilakukan Kemendag bersama dengan kementerian terkait. Kebijakan penutupan ekspor bahan baku rotan telah memberikan hasil nyata yang positif bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data statistik Kementerian Perdagangan, lima negara paling berminat terhadap produk rotan Indonesia antara lain adalah Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, dan Belanda. Jika melihat data ekspor dunia tahun 2011, Indonesia merupakan pangsa pasar ke-2 terbesar di dunia untuk ekspor produk rotan dan bambu.

Sebelumnya juga, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan, selain efek positif pelarangan ekspor bahan baku rotan, kenaikan nilai ekspor produk rotan dikarenakan oleh tingginya permintaan di negara-negara maju. Furnitur berbahan baku rotan memiliki keunggulan, lebih ringan dan tidak membutuhkan banyak tempat.

Hal yang sama diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur, bahwa tahun ini terjadi pertumbuhan ekspor produk rotan cukup signifikan. Dia memperkirakan ekspor produk rotan tahun ini akan menembus nilai US$200 juta. Jumlah itu lebih besar 25% dibandingkan realisasi tahun lalu, sebesar US$ 160 juta. Jika tren ini terus berlanjut, maka selama lima tahun ke depan ekspor produk rotan akan melonjak dua kali lipat hingga US$ 400 juta.

Hanya saja, menurut Sobur, target ekspor produk rotan akan tercapai jika suplai bahan baku dari daerah produksi lancar dan ekonomi AS dan Eropa telah pulih. Tiap tahun industri mebel dan produk rotan setidaknya membutuhkan pasokan bahan baku rotan sebanyak 70.000 ton. Dia menambahkan, walau pemerintah telah melarang ekspor rotan mentah dan setengah jadi, namun bahan baku masih menjadi masalah.