Kemendag Antisipasi Defisit Perdagangan

Lewat Trade Expo Indonesia 2012

Senin, 08/10/2012

NERACA

Jakarta - Setiap bulan selama tahun 2012 nilai ekspor Indonesia hampir bisa dikatakan berada di rata-rata US$14 miliar - US$15 miliar, secara kumulatif nilai tersebut turun sekitar 5% dari tahun sebelumnya. Catatan neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga Agustus 2012 juga sempat mengalami defisit, namun walaupun begitu terdapat indikasi adanya peningkatan kinerja ekspor Indonesia ke negara-negara yang menjadi pasar baru yakni negara-negara di kawasan Afrika dan Amerika Latin.

Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami, peningkatan ekspor menjadi signifikan untuk mengimbangi impor yang juga meningkat sehingga defisit perdagangan bisa diantisipasi. “Sesuai dengan tujuan Trade Expo Indonesia (TEI) 2012, Kementerian Perdagangan berupaya untuk meningkatkan ekspor Indonesia melalui transaksi-transaksi yang akan terjadi selama penyelengaraan TEI ke-27, maupun setelah pameran dagang terbesar di Indonesia ini selesai diselenggarakan,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, akhir pekan kemarin (6/10).

Gusmardi mengatakan, sebagai pameran dagang berskala internasional, TEI 2012 akan menjadi sarana efektif dalam mempertemukan eksportir Indonesia dengan buyers asing dari berbagai negara.” Untuk mendatangkan buyers asing tersebut, Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), para Atase Perdagangan serta perwakilan Indonesia di luar negeri untuk mempromosikan acara TEI ini di berbagai event internasional yang diikuti oleh Indonesia,” jelasnya.

Melalui interaksi langsung antara eksportir dengan buyers, diharapkan bisa mendorong minat beli yang direalisasikan dalam kontrak-kontrak dagang yang berhasil diwujudkan antara Indonesia dan negara-negara mitra dagang. Kualitas produk terbaik dan harga yang kompetitif merupakan kunci kesuksesan TEI 2012.

Menurut dia, ada sejumlah produk buatan Indonesia yang menarik perhatian konsumen di negara-negara Afrika dan juga Timur Tengah serta Asia Tengah dan Asia Selatan. “Produk batik dan garmen Indonesia ternyata digemari di Afrika, terutama di Afrika Selatan. Mebel Indonesia yang menggunakan kayu-kayu yang khas juga mendapat pasar di Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan,” ujar Gusmardi.

Selain itu, diagendakan pula acara World Export Development Forum (WEDF) sebagai salah satu rangkaian acara TEI ke-27. WEDF adalah hasil kerja sama antara Kementerian Perdagangan dengan International Trade Center (ITC) di Jenewa, Swiss, dan akan dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari 50 negara yang merupakan pelaku usaha di bidang perdagangan internasional.

Para buyers yang tergabung dalam WEDF ini diharapkan bisa melihat langsung berbagai produk mulai dari furniture, tekstil dan produk tekstil, handicraft, produk pertanian dan perikanan, barang manufaktur, building materials, produk industri kreatif, knock-down house dan jasa bisnis lainnya yang dipamerkan selama TEI berlangsung.