Tetap Bertahan Lewat Strategi Pasar Kapasitas 40 Ton

PT Intraco Penta Tbk

Jumat, 05/10/2012

NERACA

Jakarta – Sepanjang semester I-2012, produsen penjualan alat berat mencatatkan kinerja yang buruk. Pasalnya, penurunan penjualan dipengaruhi lemahnya permintaan sektor tambang sebagai imbas dari dampak krisis ekonomi global. Namun ditengah penurunan penjualan alat berat, sebaliknya PT Intraco Penta Tbk (INTA) masih bisa bertahan.

Bila para pesaingnya, mengalami penurunan penjualan malah sebaliknya perseroan bertahan dari tren melemahnya permintaan alat berat nasional. Maka atas dasar pertimbangan itulah, analis optimistis perseroan dapat menjadi salah satu pemain dominan alat berat di Indonesia, Seperti diketahui, hingga Agustus 2012, INTA mampu menjual 700 unit alat berat. Jumlah itu setara 46,67% dari target penjualan alat berat 2012 sebanyak 1.500 unit. Intraco pun menerapkan beberapa strategi untuk menyiasati penurunan permintaan, terutama dari industri batu bara. Salah satunya adalah dengan fokus menggarap ceruk pasar tertentu (niche market), seperti segmen alat berat berkapasitas 40 ton ke atas.

Berdasarkan penilaian analis Etrading Securities, penjualan 700 unit alat berat hingga Agustus merupakan hal yang positif, karena perseroan tetap mampu meningkatkan penjualan dibandingkan tahun lalu. Sementara strategi pemasaran perseroan yang mengkhususkan untuk bermain di segmen khusus, tentu merupakan hal yang baik dalam menjaga pangsa pasar ke depannya.

Posisi INTA juga didukung kehadiran prinsipal baru asal China, Sinotruk. Alat berat ini mulai dipasarkan anak usaha Intraco, yaitu PT Intraco Penta Wahana (IPW). Untuk 2012, INTA menargetkan penjualan Sinotruk sebanyak 650 unit. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2012, pendapatan usaha INTA tumbuh 22% year-on-year menjadi Rp 1,65 triliun. Namun laba bersih Intraco menyusut 46% menjadi Rp 33,32 miliar.

Masih Melambat

Sebagaimana diketahui, pesaingnya PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penurunan penjualan alat berat sebesar 10,88% menjadi 5.035 unit pada per Agustus 2012 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya 5.650 unit.

Sepanjang delapan bulan pertama 2012, penjualan alat berat merek Komatsu itu ke pertambangan tercatat 57% dari total penjualan. Sementara penjualan sampai Agustus 2011, pertambangan menyerap 68% dari seluruh penjualan. Penjualan anak usaha Astra Internasional ini terhitung stagnan lantaran sama dengan Juli 2012. Selanjutnya, untuk Agustus 2012, penjualan Komatsu mencapai 402 unit. Perseroan juga menjual alat berat ke segmen lainnya yaitu kehutanan, konstruksi dan pertanian-perkebunan (agro). Penjualan ke segmen kehutanan tercatat tidak berubah, sebesar 6%.

Sementara dua segmen lainnya mengalami peningkatan, konstruksi naik menjadi 14% dari periode sampai Agustus 2011 lalu sebesar 10%. Pertumbuhan penjualan juga merangkak naik di segmen agrobisnis menjadi 23% dari total penjualan, meningkat dibanding tahun lalu sebesar 16%.

Perseroan mencatat pangsa pasar sampai Agustus tahun ini mencapai 44%. Merujuk kinerja penjualan di Agustus, penjualan ke pertambangan makin susut lantaran porsinya sebesar 38% dari total penjualan atau sebanyak 152 unit. Juli lalu, masih di posisi 43% atau mencapai 172 unit. Sedangkan pada Juni bertengger di kisaran 54% dari total penjualan Komatsu sebanyak 502 unit.

Segmen kehutanan di Agustus menyerap enam persen dari capaian empat persen bulan Juli. Perseroan juga meningkatkan penjualan ke bisnis konstruksi menjadi 24% dibanding bulan lalu 18%. Sementara porsi penjualan ke agrobisnis tercatat turun tipis menjadi 32% dari Juli kemarin yang mencapai 35%.

Revisi Target

Hal sama juga dirasakan PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) yang mencatatkan volume penjualan ke sektor pertambangan mengalami penurunan dalam kurun waktu delapan bulan ini. Namun, merosotnya penjualan di sektor pertambangan dapat ditopang dari sektor lain seperti pertanian atau perkebunan, kehutanan, dan konstruksi.

Sementara itu, meski tengah lesu, emiten alat berat lainnya, PT Kobexindo Tractors Tbk, tetap memacu ekspansi pemasaran dengan kantor pemasaran di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ekspansi itu dibayangi dengan pemangkasan target penjualan alat berat sebesar 1.100 unit. Proyeksi tersebut setara dengan nilai penjualan sebesar 1,6 triliun rupiah.

Padahal, sebelumnya, Kobexindo menargetkan angka penjualan 1.300 unit alat berat dengan nilai 2 triliun rupiah. Kobexindo juga berencana membidik target pasar sektor perkebunan dengan merilis produk anyar sesuai sektor perkebunan. (bani)