Investor Lokal dan Asing Tergiur di Pasar Modal

NERACA

Minat para investor lokal maupun asing untuk menanamkan modal di Indonesia sangat meningkat. Ini membuat pemerintah optimistis realisasi investasi hingga akhir tahun akan mampu melebihi target.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Chatib Basri mengatakan, bahwa realisasi investasi untuk periode Januari 2012 sampai Juni 2012 mencapai Rp 148,1 triliun, atau 52% dari target untuk 2012 yaitu Rp 283 triliun.

Melihat pertumbuhan ini mungkin sampai dengan akhir tahun pertumbuhannya itu di atas 100% dari target, mungkin 104-105%, sehingga pada akhir 2012 realisasi investasi kita bisa mendekati sekitar Rp 300 triliun. Saya cukup optimistis,” ujarnya.

Meningkatnya investor, kita bisa lihat berbagai faktor yang mempengaruhi peningkatan investasi di Indonesia, antara lain perekonomian yang kuat dan bertambahnya jumlah masyarakat kelas menengah.

Begitu tingginya minat investor di Indonesia, ini dikarenakan perekonomian di Indonesia masih stabil. Ini diikuti pembangunan bisnis di Indonesia di berbagai sektor semakin berkembang. Ini yang kemudian membuat investor yang punya pandangan sekitar 10 sampai 15 tahun ke depan mulai melakukan investasinya sekarang,” ujarnya.

Selain itu, di antara negara-negara Asia yang tumbuh sekarang, Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi kedua tertinggi dengan 6,4%. Tiongkok tumbuh sekitar 7,5% sementara India sudah di bawah, sekitar 5,5%.

“Indonesia tetap bisa tumbuh 6,4%, sebetulnya ada perubahan dari lokasi basis produksi. Kalau ini yang terjadi target investasi kita masih bisa dikejar,” tambah Chatib.

Untuk meningkatkan investasi, pemerintah sedang melakukan berbagai program pembangunan infrastruktur. Selain percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 Mega Watt tahap satu dan dua, juga ada percepatan pembangunan sarana transportasi baik darat, udara dan laut serta penyediaan air minum.

Bukan hanya kebijakan pemerintah dalam bentuk program infrastruktur yang mampu menarik investasi, namun persoalan bunga pinjaman perbankan juga sangat berpengaruh. Bunga pinjaman di Indonesia menurutnya masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain.

Beberapa negara berkembang, menurutnya, menerapkan bunga pinjaman sekitar 5%, sementara di Indonesia berada di kisaran 15%. Jika bunga pinjaman perbankan diturunkan, ia optimistis realisasi investasi akan lebih tinggi dibandingkan dengan saat ini karena Indonesia sudah memiliki kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia.

“Bunga untuk bank komersial juga bisa diturunkan karena itu salah satu permintaan kita untuk bisa seimbang antara kita dengan negara-negara yang bunganya rendah, seperti di Thailand, di Tiongkok. Rasanya dengan tingkat sukubunga seperti sekarang, terlalu tinggi untuk bisa bersaing dengan negara lain,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Saran Buat PD Pasar Jaya Klender

Di kawasan sekitar Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur kondisinya sangat semrawut karena banyak angkot yang tidak menaikkan penumpangnya di terminal…

Pasar IPO Tahun Depan Penuh Tantangan - Dihantui Pengetatan Likuiditas

NERACA Jakarta – Mendorong pertumbuhan kapitalisasi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengandalkan pertumbuhan jumlah emiten di…

Pasar Tekstil Tanah Abang Melesu

  NERACA   Jakarta - Penjualan tekstil di Pasar Tanah Abang masih lesu, sehingga beberapa pedagang pakaian jadi pun terpaksa…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…