RI-Selandia Baru Ciptakan Iklim Bisnis Kondusif

Jangan Jadi Target Pasar

Selasa, 02/10/2012

NERACA

Jakarta - Saat ini Indonesia berada pada peringkat ke‐16 diantara negara‐negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Jumlah kelas menengah yang mencapai 50 juta jiwa serta lebih dari 50% penduduk usia muda dan produktif menunjukkan besarnya potensi ekonomi Indonesia. Agar tidak sekedar menjadi target pasar internasional, upaya‐upaya lain untuk meningkatkan bisnis internasional juga dilakukan oleh Indonesia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI Gusmardi Bustami mengharapkan, hubungan bilateral RI‐Selandia Baru, terutama setelah diratifikasinya ASEAN‐Australia and New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) agar Pemerintah Selandia Baru tidak saja melihat Indonesia sebagai target market dan investasi, tetapi juga membuka pasar bagi produk Indonesia di Selandia Baru.

“Pemerintah RI mendorong kolaborasi strategis dengan menciptakan situasi kondusif bagiiklim bisnis dan investasi langsung dari luar negeri. Selain itu Indonesia juga menawarkan taxincentive untuk mendorong downstream investment, termasuk meningkatkan profil Indonesiadalam menghadapi isu korupsi, red tape dan transparansi serta isu lainnya,” jelasnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (1/10).

Selandia Baru merupakan mitra dagang Indonesia yang berada di peringkat ke‐37. Totalperdagangan Indonesia‐Selandia Baru pada 2011 mencapai US$1,1 miliar dengan trenpertumbuhan rata‐rata 3,82% selama periode 2007‐2011. Sedangkan pada periode Januari‐Juni 2012, total perdagangan kedua negara mencapai US$566,1 juta atau meningkat sebesar6,9% dibandingkan periode sama tahun 2011 sebesar US$529,4 juta.

AANZFTA merupakan salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan ekspor barang maupun jasa ke Selandia Baru, sehingga dapat menekan defisit Indonesia dan menciptakan perdagangan yang lebih seimbang. Perdana Menteri Selandia Baru John Key menyampaikan, bahwa penandatanganan tersebut akan meningkatkan kerja sama perdagangan serta investasi lain yang lebih strategis diantara kedua pihak.

Selain itu, bertujuan untuk membuka dan memperluas kesempatan kerjasama diantara pihak swasta kedua negara serta meningkatkan pemahaman pebisnis Selandia Baru terhadap perkembangan ekonomi dan pembangunan di Indonesia. Ekspor Indonesia ke Selandia Baru pada 2011 mencapai US$371,7 juta, sementara impor sebesar US$729,2 juta, sehingga Indonesia mengalami defisit sebesar US$357,5 juta.

Sementara pada periode Januari‐Juni 2012 defisit neraca perdagangan Indonesia‐SelandiaBaru mencapai US$147,6 juta, atau mengalami kenaikan sebesar 22,9% jika dibandingkanpada periode yang sama tahun 2011 yang hanya sebesar US$191,5 juta.