BUMI Mulai Terkuak

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

"Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti sekali waktu akan terjatuh." Peribahasa ini mungkin dapat menggambarkan kasus yang sekarang menerpa PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang terendus saat melakukan penyimpangan data laporan keuangan, seperti dituduhkan mitra usahanya Bumi Plc.

Meski laporan ini baru sebatas dugaan, namun cukup menarik perhatian bagi investor karena memberikan sentimen bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. Pasalnya, kapitalisasi BUMI memiliki nilai yang cukup besar disamping bisnis perseroan merupakan grup Bakrie yang penuh dengan sensasi belakangan ini.

Hal ini bukan pertama kali terjadi dalam bisnis grup Bakrie membuat berita-berita negatif. Sebut saja soal gagal repo yang dilakukan BUMI pada tahun 2008 hingga menyebabkan suspensi perdagangan saham di pasar modal serta soal utang piutang yang dilakukan perseroan. Bahkan mencuatnya kasus BUMI dinilai beberapa kalangan, layak untuk di ikuti hingga aksi spekulasi lantaran saham BUMI dinilai sahamnya sejuta umat.

Namun kali ini praktik yang dilakukan BUMI di luar hal yang bijak, terkait penyimpangan laporan keuangan. Bagaimana pun juga kondisi ini akan memperburuk reputasi perseroan sebagai intitusi dan industri pasar modal secara luas. Artinya bagaimana, industri pasar modal transparan dan maju dua langkah dari negara tetangga bila praktek-praktek yang tidak terpuji masih saja terjadi.

Kisruh BUMI dengan BUMI Plc sudah terjadi sejak lama, saat itu ketika keduanya berebut soal jabatan direksi hingga pemboikotan. Bumi Plc sendiri memiliki sebanyak 29% saham BUMI dan kemitraan keduanya mulai tercium retak karena ada praktek wanprestasi. Akibatnya, mereka saling bukaan dihadapan public yang mengundang perhatian kalangan pelaku pasar secara luas.

Bicara industri pasar modal, tentunya bicara juag soal kepercayaan nasabah. Apapun yang dilakukan perusahaan atau emiten, akan mempengaruhi para pemegang saham dan termasuk investor ritel dan termasuk apa yang dilakukan BUMI dengan dugaan penyimpangan laporan keuangan. Ini tentunya akan berimbas pada kepercayaan investor yang sebaliknya akan melepas saham BUMI.

Mungkin nasib sial sedang menimpa salah satu perusahaan grup Bakrie ini, sudah terancam rugi kini perseroan tersandung masalah soal penyimpangan keuangan. Ditengah ketidak jelasan kondisi ini, peran otoritas pasar modal baik menjadi penting untuk mempertegas kondisi yang sebenarnya dan duduk masalah. Bila perlu, Bapepam-LK melakukan suspensi (penghentian sementara). Tentunya dengan sikap koperatif BUMI sebagai perusahaan terbuka bisa meminimalisir aksi spekulan yang mencoba mengambil keuntungan secara pribadi.

Saat ini prestasi kinerja BUMI memasuki masa suram, karena mengutip laporan perseroan tahun 2011, BUMI mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun). Cukup besar beban tersebut.

Related posts