Raksasa Otomotif India Siap Geser Dominasi Jepang

PERSAINGAN BISNIS SEMAKIN SENGIT

Jumat, 21/09/2012

Jakarta – Ekspansi besar-besaran yang dilakukan raksasa otomotif asal India belakangan ini turut menandai sengitnya persaingan bisnis antar produsen mobil di Indonesia. Bahkan, penetrasi bisnis Tata Motors, raksasa otomotif asal India, yang tentu saja menggenapi gencarnya ekspansi pabrikan otomotif dari Korea Selatan dipercaya sebagai upaya menantang dominasi prinsipal otomotif Jepang di Tanah Air.

NERACA

Pengamat otomotif Jhonny Pramono menjelaskan, ekspansi otomotif dari India memang besar sekali ke Indonesia, karena mereka melihat pasar Indonesia sangat besar dan begitu potensial untuk mereka jajaki. Di titik inilah, langkah ekspansi yang dilakukan pabrikan mobil non-Jepang seperti India atau Korea Selatan bisa saja disebut sebagai upaya pemain baru menantang dominasi otomotif Jepang sekaligus langkah mereka dalam meramaikan industri otomotif di Indonesia.

Menurut Jhonny, India melihat potensi pasar otomotif dan suku cadang di Indonesia yang berkembang secara signifikan. Hal tersebut, lanjut Jhonny, didorong oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di atas 6%. “Selain pertumbuhan ekonomi, India melirik adanya potensi pasar yang besar dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai angka 240 juta jiwa. Tak hanya itu, dari sisi budaya, India juga memiliki kedekatan historis dengan Indonesia,” jelas Jhonny kepada Neraca, Kamis (20/).

India juga melirik potensi pasar dari kalangan muda dengan segmentasi ekonomi menengah yang berkembang pesat. Saat ini saja, Tata melihat potensi pembeli muda di bawah 30 tahun di Indonesia diperkirakan mencapai 60% dari jumlah penduduk.

Selain itu, India juga mencermati regulasi pemerintah terkait dengan industri otomotif di Indonesia. India menilai, pemerintah Indonesia sudah memiliki keinginan untuk menggenjot kinerja industri otomotif, terutama industri otomotif yang memiliki produk irit bahan bakar dan murah. Peluang inilah yang ditangkap India untuk mendistribusikan produknya yang terkenal sebagai mobil termurah di India, sebab ada kebijakan penggunaan komponen lokal minimal 40%.

Kendati mengaku tidak ingin menyaingi perusahaan-perusahaan otomotif asal Jepang di pasar otomotif Indonesia, bahkan ingin membentuk segmen pasar sendiri, Tata Motors sendiri telah melakukan gebrakan di Indonesia. Seakan tidak mau kalah dengan Toyota dan Daihatsu yang merilis mobil murah seharga Rp 80-100 jutaan, produsen mobil India Tata Motors juga menyiapkan Nano dengan kisaran harga yang hampir mirip. "Harga Nano pasti di bawah Rp 90 juta," ujar PR Manager PT Tata Motors Indonesia Kiki Fajar.

Harga Nano di India sendiri mencapai Rp 25 juta- Rp 30 juta. Namun Kiki menekankan, pihaknya belum bisa menjual Nano untuk masyarakat. Kemungkinan Nano akan dilepas ke pasar Indonesia di tahun depan. Lebih jauh lagi Kiki memaparkan,Tata motor telah membuka 10 hingga 15 dealer pada 2012 dan akan membuka hingga 60 dealer 3S (Sales, Service, Spareparts) pada 2016. "Dealer itu tidak hanya di Jawa, tapi juga seluruh wilayah Indonesia yang potensial untuk bisnis," katanya.

Selain dealer, Tata Motors Indonesia juga berencana membuka 100 bengkel dan 300 toko suku cadang yang terpisah dengan dealer utama dalam tiga tahun. Bahkan Tata Motors berencana membuka pabrik perakitan mobil pada 2013. Berbekal rencana-rencana itulah, Tata Motors menargetkan posisi sebagai pelaku utama industri otomotif Indonesia pada 2017.

Tidak Terpengaruh

Sementara itu, ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Agus Eko Nugroho menyatakan penetrasi Tata Motor dan beberapa produsen mobil lain yang menyerbu pasar otomotif Indonesia karena melihat potensi kelas menengah Indonesia yang kini tengah berkembang. Sehingga, kebanyakan dari mereka bermain di kelas menengah karena potensi yang besar tersebut.

Meski demikian, menurut Agus pasar otomotif Jepang tidak akan terpengaruh dengan kehadiran pemain-pemain baru itu. Karena mereka tidak menghususkan diri bermain di kelas menengah. Bukan berarti mereka tidak melirik pasaer kelas menengah Indonesia. Selain mereka bermain di kelas menengah atas mereka juga turut membuat produk mobil murah seperti si kembar Toyota Agya dan Daihatsu Alya.

Dia menilai, produk Jepang lebih memiliki nilai jual di Indonesia. Sehingga, dengan yakin Agus menyatakan semua itu tidak akan mempegaruhi pasar otomotif Jepang, pasalnya mereka sudah mapan lebih lama di Indonesia. Tentunya, sifat konsumen Indonesia pasti berorientasi ke produk otomotif Jepang.

Namun, yang jelas dia menyatakan pasar otomotif kedepan akan lebih ketat dengan kehadiran para pemain baru tersebut. Untuk itu, itu juga harus disikapi dengan baik oleh pemerintah, tentunya mereka harus memperbanyak pembangunan infrastruktur serta bagaimana pemanfaatan energi yang lebih tepat guna.

Sedangkan Presiden Direktur Hyundai Indonesia, Yongki Sugianto, saat dihubungi terpisah, mengungkapkan dengan banyaknya prinsipal otomotif selain prinsipal otomotif Jepang tidak akan menjadi permasalahan dikarenakan prinsipal otomotif itu membawa produk dan uang untuk berinvestasi di Indonesia.

Selain itu, sambungnya, pemerintah juga menyambut baik atas prinsipal otomotif selain Jepang yang masuk ke Indonesia. “Prinsipal otomotif Jepang sudah berinvestasi sudah lama, sekitar 20-30 tahun yang lalu jadinya wajar apabila pasar otomotif Jepang mendominasi di Indonesia,” katanya.

Menurut Yongki, dengan potensi pasar Indonesia yang sangat besar dengan jumlah penduduk sebesar 240 juta orang maka hal ini merupakan potensi besar dalam berinvestasi di dunia otomotif. Di dalam dunia dagang otomotif maka persaingan itu sangatlah wajar dan untuk saat ini masih dianggap wajar sehingga tidak ada kecenderungan prinsipal otomotif negara lain untuk menyingkirkan dominasi prinsipal otomotif Jepang. “Mereka justru kerjasama dengan saling tunjang menunjang dan tidak adanya indikasi untuk saling menyingkirkan,” tambahnya.

Dia menjelaskan dengan banyak prinsipal otomotif yang datang dengan membawa produknya diharapkan masyarakat mempunyai pilihan dalam memilih kendaraan bermotor. Berdasarkan income perkapita yang mulai naik di Indonesia akan bisa membuat pasar Indonesia akan dilirik banyak prinsipal otomotif. “Dengan income perkapita yang naik maka akan menunjang pembelian kendaraan bermotor khususnya mobil, bahkan bisa membeli mobil dengan harga diatas Rp 200 juta,” ujarnya. iwan/ahmad/mohar/munib