Penerapan Sistem Resi Gudang Terganjal Sejumlah Masalah

Diproyeksikan Perkuat Cadangan Pangan

Jumat, 21/09/2012

NERACA

Surabaya - Fenomena jatuh harga komoditas pertanian saat panen raya telah terjadi berulang kali dan berpotensi merugikan petani. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, perlu ada terobosan dalam pola pemasaran sehingga petani masih berpeluang tetap memetik keuntungan. Salah satu alternatif yang bisa dipilih adalah sistem resi gudang (SRG).

Penerapan SRG bisa memerkuat cadangan pangan, yang pada akhirnya akan berimbas pada meredanya tekanan inflasi dari bahan pangan (volatile food). Namun, beberapa kendala penerapan tersebut, antara lain, pemahaman terhadap SRG, kemudian infrastruktur fasilitas gudang masih terbatas, kurangnya keterlibatan Pemeintah Daerah, serta fasilitas pembiayaan yang masih terbatas.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, bahwa SRG sebagai alternatif pembiayaan bagi pelaku usaha, dalam hal ini petani, masih belum termanfaatkan dan optimal. Karena pada awalnya, SRG diprakasai untuk menyikapi fluktuasi harga komoditas yang merupakan timbal balik akibat fluktuasi produksi, terutama pertanian. Seperti saat panen raya terjadi harga yang rendah di tingkat petani, sebaliknya pada saat paceklik memberikan dampak harga menjadi tinggi.

“Namun, karena tidak semua harga komoditas mengalami fluktuasi harga, sehingga harga menjadi landai. Maka, hal ini yang menyebabkan SRG dianggap tidak menarik. Tapi, SRG dapat digunakan sebagai instrumen dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pandan, serta memperkuat logistik nasional,” ujarnya pada acara Seminar Nasional Sistem Resi Gudang Sebagai Alternatif Pembiayaan bagi Pelaku Usaha dan Pengendali Inflasi Daerah, Kamis (20/9).

Perbaiki Pola Pasar

Mekanisme SRG dan akses pasar bertujuan untuk memperbaiki pola pemasaran suatu komoditi, dimana harga beras jatuh pada saat panen raya dan naik tinggi saat tidak ada panen. Melalui instrumen menerapkan mekanisme SRG dan akses pasar diharapkan produsen akan mendapatkan pendanaan dari SRG diperiode panen raya dan pada waktu harga lebih baik, bisa dipasarkan lebih luas melalui jaringan pasar lelang sehingga harga yang didapat jauh lebih baik.

Namun, para pelaku usaha tersebut pada umumnya sering menghadapi masalah dalam pembiayaan, sehingga perlu peran perbankan dan Pemda agar SRG dapat menjadi salah satu instrumen dalam sistem pembiayaan perdagangan dengan memberikan payung hukum bagi pemberian kredit. “Sejatinya perbankan sudah siap terlibat dalam pelaksanaan SRG. Semua bank sudah bisa memberikan pembiayaan dan itu berjalan," katanya.

Tetapi untuk menerapkan SRG diperlukan pendataan ketersediaan komoditas, jika saat ini akses informasi mengenai persediaan nasional khususnya komoditas pangan jenis beras masih minim. Sehingga ada kesimpang siuran informasi yang ada di masyarakat.

SRG bisa menjadi strategi guna mengantisipasi adanya spekulasi. "Salah satu informasi yang diharapkan konsumen adalah kepastian pasokan pangan dan stabilitasi harga. Kendala selama ini selain kurangnya pasokan kelangkaan produksi, masalah lain adalah spekulasi. SRG punya manfaat besar pada konsumen," ujarnya.

Bayu menjelaskan, ada dua hal yang yang dapat mendorong terjadinya spekulasi. Pertama ketidaksempurnaan informasi atau informasi yang tertutup. Kedua adanya ketidakpercayaan atas kemampuan sendiri untuk melakukan sesuatu seperti invasi atau memasok. "Resi Gudang menjawab dan menyelesaikan langsung dua-duanya. Harga dan kualitas juga menjadi terjamin. Harga sesuai dengan kualitas yang didapatkan," tambahnya.

Perlu Sosialisasi

Lebih lanjut Bayu mengakui masih banyak yang harus dikembangkan dalam sistem ini, antara lain sosialisasi mengenai sistem di kalangan petani dan para pemangku kepentingan harus lebih ditingkatkan lagi. "Untuk menerapkan itu semua memang usahanya harus cukup besar juga," pungkasnya.

Secara konseptual, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar pola resi gudang bisa berjalan optimal, yaitu komoditas yang disimpan rentan terhadap fluktuasi harga, namun pada masa-masa tertentu harganya dapat naik, komoditas memiliki daya simpan cukup lama, seperti gabah, jagung dan kedelai, gudang memenuhi syarat dan sebaiknya sudah berupa silo, komoditas yang disimpan mudah ditaksir dan harus ada yang ahli menaksir, terutama pengelola dana, dan pengawas atau pemegang kunci gudang dapat dipercaya.

Dua faktor terakhir terkait dengan mutu barang serta untuk menghindari kemerosotan moral sehingga komoditas yang disimpan di gudang benar-benar sesuai standar. Hal ini penting karena menyangkut nilai-nilai kepercayaan yang sangat diperlukan untuk menarik minat pihak penyandang dana dalam membiayai pelaksanaan resi gudang.

Keterlibatan penyandang dana dalam pola resi gudang sangat penting karena tanpa andil penyandang dana, pola resi gudang tidak akan berjalan. Selain BUMN, pemerintah dapat pula menjadi penyandang dana melalui kredit program. Selain itu, jika resi gudang dikelola secara profesional, tidak mustahil akan mampu menarik minat lembaga keuangan komersial untuk ikut mendanai kegiatan ini. Secara khusus, karena pembagian keuntungan dilakukan dengan pola bagi hasil, lembaga pembiayaan/perbankan syariah dapat menjadikan pola resi gudang sebagai salah satu model pembiayaan yang cukup prospektif untuk digarap.

Topik Terkait

permasalahan resi gudang