Cikarang Dry Port Bisa Antisipasi Beban Priok

NERACA

Jakarta - Saat ini pergerakan barang logistik yaitu ekspor dan impor di Indonesia lebih dari 60%-70% terjadi di pelabuhan Tanjung Priok. Apabila tidak dilakukan perluasan atau pembangunan pelabuhan baru, maka akan mengganggu kegiatan ekspor impor Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi. Dia mengatakan, semakin tingginya beban aktivitas pelabuhan yang diemban oleh pelabuhan Tanjung Priok akan menganggu arus perdagangan, sehingga Cikarang Dry Port (CDP) di Bekasi sudah harus dipersiapkan dahulu untuk menjadi antisipasi.

Menurut dia, CDP ini adalah prospek yang sangat baik dan sifatnya sangat antisipatif, serta merupakan upaya yang dilakukan untuk mengurangi tekanan aktivitas ekspor-impor yang selama ini telah dibebankan kepada Pelabuhan Tanjung Priok. “Apalagi, melihat fungsi strategis CDP sebagai perpanjangan pelabuhan Tanjung Priok yang berlokasi di kawasan industri serta dalam upaya memperlancar pergerakan arus barang,” ujarnya saat mengunjungi kawasan CDP di Cikarang, Selasa (18/9).

Langkah Strategis

Pemerintah juga memandang perlu untuk segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan penggunaan CDP untuk mendukung kelancaran arus barang dari Tanjung Priok. Rencana aksi itu juga merupakan implementasi dari Perpres No 32 Tahun 2011 tentang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) dan Perpres No 26 Tahun 2012 tentang Cetak Biru Sistem Logistik Nasional 2012-2015.

"Lima tahun ke depan ini akan jauh lebih besar tekanannya dan harus diantisipasi mulai dari sekarang," katanya. Untuk itu, lanjut Bayu, terdapat empat agenda yang harus diselesaikan oleh CDP yaitu kesiapan layanan yang siap siaga 24 jam sehari dan tujuh hari sepekan, efisiensi biaya pengangkutan logistik yang lebih kompetitif, pemberian jasa logistik lain yang tidak hanya sekadar kegiatan bongkar muat, dan infrastruktur.

Dia menegaskan, CDP bukanlah fasilitas yang hanya disiapkan untuk beberapa hari ke depan, tetapi harus dipandang lebih jauh lagi hingga lebih dari 10 tahun ke depan. Sebagai informasi, Cikarang Dry Port memiliki luas 200 hektare dan terletak di Kawasan Industri Jababeka yang merupakan tempat dari 2.500 perusahaan industri lebih yang beroperasi di wilayah tersebut.

Dari jumlah luasan 200 hektare yang dimiliki CDP, sebanyak 70 hektare dibangun untuk pelabuhan yang terdiri dari port dan terminal, sedangkan 130 hektare dibangun untuk Logistik Park. CDP yang telah resmi beroperasi sejak 18 Agustus 2010 itu telah ditetapkan sebagai perpanjangan dari Pelabuhan Tanjung Priok melalui Keputusan Menteri Perhubungan No. KP 284 Tahun 2011.

BERITA TERKAIT

Antisipasi Depresiasi Rupiah

Posisi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini mengalami undervalued. Penyebab kinerja nilai tukar rupiah yang melemah tersebut disebabkan oleh…

Cikarang Listrindo Siapkan US$ 20 Juta - Rencanakan Buyback Saham

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) berencana pembelian kembali saham atau buyback…

Waktu Penundaan Proyek Strategis Belum Bisa Dipastikan

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution belum bisa memastikan jangka waktu penundaan pembangunan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kemendag Percepat Peralihan Minyak Goreng Curah ke Kemasan

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mempercepat peralihan minyak goreng curah ke kemasan dengan memfasilitasi produsen atau pengemas minyak berbahan baku…

Niaga Online - Regulator Terus Dorong Usaha Mikro Terapkan Usaha E-Commerce

NERACA Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut membangun dan menggerakkan…

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…