Apindo : Ubah Paradigma Perdagangan Bebas - Sosialisasikan CEPA

NERACA

Jakarta - Meski berjalan relatif sehat dan kebal terhadap krisis global, hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa dinilai mengalami status quo yang menyebabkan kinerja rendah serta hilangnya berbagai peluang untuk kedua mitra dilihat dari perspektif jangka panjang. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) dapat menjadi instrumen untuk merevitalisasi hubungan ekonomi ini.

Mengingat nilai strategis CEPA, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berperan aktif mensosialisasikan CEPA kepada para pelaku usaha di Indonesia. Sosialisasi untuk mengidentifikasi tantangan, peluang, serta rekomendasi konkret berbagai sektor usaha di Indonesia terkait dengan negosiasi CEPA, serta mengubah pandangan ketakutan para pelaku industri mengenai perdagangan bebas.

Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi mengatakan, dengan memerhatikan masukan pelaku usaha, CEPA diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan dunia usaha. Sehingga, berbagai kekhawatiran yang dirasakan dalam implementasi China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) tidak akan terulang dalam CEPA. "Indonesia tidak akan kecolongan untuk kesekian kalinya dalam menjalin kerjasama perdagangan. Khusus untuk perjanjian kerjasama dengan Uni Eropa didesain dengan melibatkan seluruh komponen termasuk pengusaha dan perwakilan pekerja, sehingga CEPA bisa menguntungkan semua pihak," ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Selasa (18/9).

Beda Dengan FTA

Dia mengakui, pihaknya belajar banyak dari fenomena kerjasama pedagangan dengan Jepang, Korea dan China yang digulirkan dalam bentuk perdagangan bebas. Terutama pemberlakukan CAFTA mengakibatkan industri dalam negeri kewalahan menghadapi persaingan dengan China yang sangat ketat. CEPA antara Indonesia dengan Uni Eropa diusulkan memiliki perbedaan dibanding perjanjian perdagangan bebas (FTA) karena tidak hanya mencakup akses perdagangan dan investasi tetapi juga penguatan kapasitas, kerjasama dan fasilitasi perdangan dan investasi.

"Pendekatan perjanjian yang lebih luas ini akan memberikan dunia usaha Indonesia lebih banyak kesempatan untuk mempersiapkan diri dan memperoleh manfaat dari peningkatan perdagangan dan investasi," kata Sofyan. Dengan kata lain, CEPA dapat membantu mengamankan akses pasar Indonesia ke Uni Eropa, menarik penanaman modal asing yang lebih besar, menaikkan volume dan surplus perdagangan Indonesia, menjamin adanya pengembangan kapasitas, serta menciptakan lapangan kerja baru melalui jalur perdagangan dan investasi.

Sementara, Ketua Komisi VI DPR Ailangga Hartarto mengatakan, CEPA Indonesia dengan Uni Eropa bersifat komplimenter (saling melengkapi). "Yang komplimenter, harus kita dukung. CEPA ini berbeda dengan FTA yang hanya fokus pada pembebasan bea masuk (BM). Tapi, kerjasama komprehensif ini juga memfasilitasi isu-isu utam terkait perdagangan, investasi dan capacity building," ujarnya.

Secara riil, CEPA diharapkan dapat mendorong perdagangan Indonesia dengan menciptakan ekspor tambahan sebesar US$9 miliar, terutama untuk industri ringan dan perlengkapan transportasi. CEPA juga akan mendorong perekonomian Indonesia dengan menciptakan PDB tambahan sebesar US$6,3 miliar. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sekarang setidaknya ada 1,1 juta orang Indonesia yang bekerja di lebih dari 1.000 perusahaan Uni Eropa yang ada di Indonesia. Jumlah ini masih akan bertambah dengan disepakatinya CEPA.

Melalui investasi, Uni Eropa juga melakukan transfer teknologi kepada Indonesia. Nilai investasi Uni Eropa di Indonesia mencapai EUR 130 miliar, menjadikan Uni Eropa sebagai sumber investasi terbesar kedua bagi Indonesia. Meski demikian, Indonesia baru menerima 1,6% dari total investasi Uni Eropa ke Asia. Angka ini lebih kecil dibandingkan dengan Malaysia telah mencapai dua kali lebih besar dan Singapura nilai investasinya lima kali lebih besar.

BERITA TERKAIT

IEU CEPA Diminta Dikaji Ulang, Tapi Bukan Karena Sawit

NERACA Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi menilai bahwa tidak seharusnya alasan sawit menjadi dasar kaji ulang rencana…

Restriksi Perdagangan - Sikapi Langkah Diskriminatif Sawit, Pemerintah Kirim Delegasi ke UE

NERACA Jakarta – Pemerintah siap mengirim delegasi ke Uni Eropa untuk memberikan penjelasan sebagai respons atas langkah diskriminatif terhadap sawit,…

CIPS: Perlu Waspadai Neraca Perdagangan Surplus

NERACA Jakarta – Neraca perdagangan mencatatkan surplus pada Februari yang lalu. Hasil ini tentu jauh berbeda dengan neraca perdagangan Januari…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Kebijakan Impor Bawang Putih Diharapkan Adil Bagi Sektor Swasta

NERACA Jakarta – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Sugiyono Madelan mengingatkan rencana pemerintah mengimpor bawang putih…

Ekspor Kentang 5.000 Ton Dilepas ke Singapura

NERACA Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara resmi melepas ekspor kentang hasil produksi petani Kabupaten Garut, Jawa…

GAPKI Dukung Pemerintah Lawan Kebijakan Diskriminatif Uni Eropa

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Umum II Pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Pusat, Susanto Yang mengatakan, pihaknya mendukung…